FOTO 3 CUCU SYAIKH NAWAWI BANTEN DARI JALUR TRAH SIDOARJO

0
143

Oleh: A. Ginanjar Sya’ban

Ini adalah foto tiga orang cucu Syaikh Nawawi Banten dari jalur Sidoarjo. Zahra, salah satu putri Syaikh Nawawi, menikah dengan Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub asal Siwalan Panji (Sidoarjo/ Surabaya). Dari pernikahan Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub dengan Nyai Zahra b. Nawawi itu, lahirlah empat orang putra, yaitu Ahmad b. Abdul Muhith, Abdurrahman b. Abdul Muhith, Shadaqah b. Abdul Muhith, dan Abdul Muntaqim b. Abdul Muhith.

Tiga sosok pada foto di atas sendiri adalah (dari kiri ke kanan): Ahmad b. Abdul Muhith, Abdurrahman b. Abdul Muhith, Shadaqah b. Abdul Muhith. KH. Ahmad b. Abdul Muhith pulang ke Surabaya, menjadi menantu dari KH. Nur Fadhil Sukolilo (Surabaya) sekaligus menjadi imam besar Masjid Sunan Ampel Surabaya, untuk kemudian pulang ke tempat asal leluhurnya di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Adapun Syaikh Abduurahman b. Abdul Muhith, beliau menetap di Jeddah. Sementara Syaikh Shadaqah b. Abdul Muhith menetap di Makkah dan menjadi pengajar di Madrasah Darul Ulum. Syaikh Abdurrahman dan Syaikh Shadaqah ini menjadi warga negara Saudi Arabia hingga wafatnya.

Sang ayah, yaitu Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub, tercatat sebagai salah satu pengajar di Masjidil Haram Makkah sejak awal abad ke-20 M. Data ini saya dapatkan dalam kitab “Sejarah Perjuangan Kiyai Abdul Wahhab [Hasbullah]” (berbahasa Melayu aksara Pegon) karya KH. Abdul Halim Leuwimunding. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa ketika KH. Abdul Halim (Leuwimunding) bersama-sama dengan senior-gurunya KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras) berada di Makkah pada tahun 1913, keduanya belajar kepada Syaikh Abdul Muhith (Sidoarjo). Jika demikian, Syaikh Abdul Muhith berarti “menangi” Syaikh Abdul Hamid Kudus (w. 1916), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920), Syaikh Mukhtar Bogor (w. 1930), dan ulama asal Nusantara lainnya yang mengajar di Makkah pada awal abad ke-20 M.

Biografi Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub sendiri termuat dalam kitab berbahasa Arab berjudul “Natsr al-Jawâhir wa al-Durar fî Tarâjim ‘Ulamâ al-Qarn al-Râbi’ ‘Asyar” karangan Dr. Yûsuf al-Mar’asylî, juga dalam kitab “Tasynîf al-Asmâ’” karangan Syaikh Mamdûh al-Mashrî. Beberapa ulama besar Nusantara banyak yang menjadi murid Syaikh Abdul Muhith semasa mereka belajar di Makkah pada awal abad ke-20. Dalam dua kitab itu, Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub disebutkan wafat pada tahun 1384 Hijri (1964 Masehi).

Saya mendapatkan foto tiga cucu Syaikh Nawawi tersebut dari dua sumber yang berbeda. Pertama, foto KH. Ahmad b. Abdul Muhith dan Syaikh Abdurrahman b. Abdul Muhith, saya mendapatkannya dari buku berjudul “Sejarah Pujangga Islam: Syech Nawawi Albanteni” karya Sayyid Chaidar Dachlan (Lasem, Jawa Tengah). Buku tersebut ditulis tahun 1975-8 dan diterbitkan tiga tahun kemudian (1978) oleh Penerbit Sarana Utama (Jakarta). Dua foto tersebut diambil pada tahun 1976. Adapun foto ketiga, penulis mendapatkannya dari laman Pesantren Siwalan Panji.

Buku karya Dachlan tersebut kemungkinan besar adalah buku berbahasa Melayu-Indonesia pertama yang ditulis dan mengkaji riwayat hidup Syaikh Nawawi Banten. Riset penulisan buku tersebut dilakukan secara langsung terjun ke lapangan, menggali informasi dan data sedalam-dalamnya dari sumber-sumber terdekat Syaikh Nawawi Banten, baik di Banten (Jawa Barat), Surabaya dan Pasuruan (Jawa Timur), bahkan hingga ke Makkah dan Jeddah (Saudi Arabia). Karena itu, informasi dan data yang dihimpun buku tersebut sangat langka dan kaya, terutama galeri foto-foto yang disuguhkannya.

Chaidar Dachlan sendiri merupakan kerabat dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (w. 1885), mufti agung madzhab Syafi’i di Makkah yang menjadi salah satu guru utama Syaikh Nawawi Banten. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan memiliki adik bernama Sayyid Shadaqah Zaini Dahlan, yang kemudian mempunyai dua orang anak yaitu Abdullah dan Hasan Shadaqah Dahlan. Keduanya eksil (hijrah) dari Makkah dan memilih menetap di Nusantara hingga akhir hayat mereka. Abdullah Shadaqah Dahlan menetap di Karang Pawitan, Ciparay, Garut (Jawa Barat), sementara Hasan Shadaqah Dahlan menetap di Lasem, Rembang (Jawa Tengah). Hasan Shadaqah Dahlan ini menikah dengan putri Syaikh Hamzah Syatha, kerabat dari Syaikh Abu Bakar Muhammad Syatha (pengarang kitab I’ânah al-Thâlibîn Hâsyiah ‘alâ Fath al-Mu’în, w. 1889), yang juga eksil dari Makkah dan menetap di Sedan, Rembang. Hasan Shadaqah Dahlan ini menurunkan anak Chaidar b. Hasan b. Shadaqah b. Zaini Dahlan (dikenal dengan Chaidar Dachlan atau Sayyid Chaidar). Beliau adalah santri dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng (Jombang) dan KH. Maksum Lasem (Rembang).

Bogor, Agustus 2018
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban