Indonesia Punya Tanggung Jawab Moral untuk Mengawal Palestina Merdeka

0
93

Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Indonesia sebagai bangsa yang memiliki pengalaman dijajah, memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kemerdekaan Palestina. Seperti disampaikan oleh Dr. Syaroni Rofii, MA dalam sebuah diskusi di Islam Nusantara Center (INC). Sabtu, (21/7).

Diskusi yang bertema “Palestina dan Dinamika Politik Timur Tengah” tersebut menyimpulkan bahwa menghadapi Israel ini bukan perkara mudah. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi konflik Israel-Palestina ?

“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan global. Ini adalah refleksi dari sifat bangsa Indonesia,” ujar Dosen HI FISIP UIN Jakarta ini.

Sekarang posisi kita sebagai warga negara, paling bisa dilakukan adalah dengan menyampaikan aspirasi ke wakil rakyat. Dalam hal ini komisi I untuk mendesak Presiden. “Kalau untuk perang ke sana saya kira bukan pilihan,” katanya.

“Karena kalau kita berangkat rame-rame, kita akan mati sia-sia. Israel itu perangnya bukan perang bambu. Mereka perang jarak jauh, kemampuan militernya tinggi. Mereka duduk manis dibalik layar, tinggal kontrol siapa yang mau ditembak.”

Tapi sebelumnya, lanjut Syaroni, kita perlu ketahui bahwa ada dua faksi Hamas dan Fattah yang selama ini berseteru. Hamas pendekatannya keras dalam menyikapi Israel. Sedangkan Fattah, agak pragmatis tapi tujuannya harus sampai. Ini dua faksi politik yang punya cara sendiri.

“Dua faksi ini akan tetap menjadi pemain kunci. Dua pihak ini memang harus didamaikan terlebih dahulu. Jangan sampai kita di sini capek-capek membela Palestina, mereka sendiri belum selesai berkonflik,” tandasnya.

Sementara itu, Zainul Milal Bizawie mengatakan bahwa kita sebaiknya janhan melihat konflik Israel Palestina sebagai sesuatu yang hitam putih. Meskipun kita memiliki komitmen untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi ini.

Apalagi dukungan pertama untuk kemerdekaan Indonesia berasal dari Palestina, yaitu Syaikh Amin Husaini, sahabat dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari.

“Tetapi yang harus dipertegas adalah, apakah konsep kebangsaan itu kemudian harus diperjuangkan secara teritorial,” tandas Milal.

Apakah terus menerus seperti itu, tidak akan selesai. Inilah yang menjadi pertimbangan para ulama kita. Kita perlu memberikan wajah yang berbeda. Harus paham secara keseluruhan bagaimana kekuatan Israel secara politis, bagaimana peran negara-negara di belakangnya seperti Amerika.

“Jadi harus menundukkan Amerika terlebih dahulu. Kita harus bisa bermain cantik, kadang untuk menundukkan musuh, kita tidak harus melawan tapi harus merangkul. Selain keras menyuaran kita harus menggunakan strategi. Jangan sampai salah menyikapi pada era-era sebelumnya, sehingga malah mengakibatkan penggulingan kekuasaan dan serangan ke kita.”.

Konflik tersebut memberikan pelajaran penting bahwa inilah pentingnya sebuah bangsa, pentingnya memiliki tanah air dan mencintainya. Karena, agama tanpa tanah air tidak bisa berjalan dipraktekkan.(Aditia)