Lebih Jernih Melihat Konflik Israel-Palestina

0
139

Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Melihat konflik Palestina-Israel, ada banyak perjanjian terwujud tetapi tidak membuat dua bangsa ini bisa akur. Tidak membuat Palestina mendapatkan haknya.

“PBB yang sejatinya menjadi penengah, inisiator perdamaian tidak mampu menghukum Israel,” kata Dosen HI FISIP UIN Jakarta, Dr. Syaroni Rafii, MA saat mengisi Kajian Islam Nusantara Center (INC). Sabtu, (21/07).

Syaroni mengatakan “Jika kita menggunakan pendekatan objektif, Israel ini beberapa kali  melakukan pelanggaran hukum international. Investigator PBB juga telah mengambil kesimpulan bahwa Israel pernah melakukan kejahatan kemanusiaan. Itu laporannya, tetapi PBB tidak pernah menghukum Israel.”

ia menambahkan “Saya selalu subjektif sebagai orang Islam, saya subjekif ketika bersimpati dan empati kepada orang Palestina. Ketika melihat isu internasional saya selalu berupaya menggunakan sumber yang kira-kira itu objektif. Ketika sumber objektif biarkanlah kemanusiaan yang mengukur itu.”

“Dunia internasional selalu gagal menghukum Israel atas kesewenang-wenangan nya. Ada banyak catatan hitam Israel.” tandasnya.

Misalnya, Ketika PBB mengatakan ini adalah wilayah sengketa. Tanah ini tidak boleh diganggu gugat. Tetapi disaat yang sama Israel ini diam-diam membangun pemukiman, membangun apartemen. Israel tidak pernah mendengar, mereka terus melakukan langkah-langkah pembangunan.

“Dunia international sekarang sedang kehilangan aktor atau mediator yang menjadi pendamain antara negara-negara yang berkonflik,’ ujarnya.

Lebih Jernih Melihat Konflik Israel-Palestina

Sedangkan menurut Zainul Milal Bizawie, Indonesia harus hati-hati menyikapi konflik Palestina Israel agar tidak terjebak pada konflik agama.

Tahun 1962, Indonesia menyelenggarakan Asian Game. Sebagai bentuk keberpihakan Indonesia pada Palestina, Indonesia tidak mengundang  Israel sebagai peserta Asian Game. Ini menjadi persoalan utama bagi PBB. Sehingga tahun berikutnya, Indonesia tidak dipanggil sebagai peserta olimpiade. Indonesia melakukan perlawanan, pada tahun 63 Indonesia menyelenggarakan tandingan dari Olimpiade. Akhirnya, Sukarno tumbang dulu.

“Ini hampir sama dengan kondisi sekarang ini. Ketika Indonesia menjadi anggota tidak tetap dewan keamanan PBB itu jangan sampai terjebak dengan kondisi seperti itu. Karena negara-negara Timur Tengah, sengaja membiarkan Indonesia saat ini maju.”

Milal mengakhiri, Kenapa sikap Indonesia harus hati-hati, jangan sampai peristiwa penggulingan kekuasaan tahun 65 terulang kembali. (Nizar Fuadi)