Melacak Jejak Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka

0
344

Melacak Jejak Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka, Pengarang Kitab Syarah Taqrîb Berbahasa Sunda yang Juga Murid Syaikh Soleh Darat Semarang (1317 H/ 1900 M)

Saya menemukan kitab tulis tangan (manuskrip/ makhthûth) berjudul “Tarjamah al-Mukhtâr Syarahna Ghâyah al-Ikhtishâr” yang ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab. Kitab tersebut ditulis pada hari Sabtu, 1 Dzulkaedah tahun 1317 Hijri (bertepatan dengan 3 Maret 1900 Masehi). Kitab tersebut sudah didigitalkan.

Yang mengejutkan saya, pengarang karya ini adalah seorang ulama dari kampung halaman saya, yaitu dari Majalengka, yang bernama Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif. Pada halaman sampul kitab, tertulis teks sebagai berikut;

إي كتاب ترجمة المختار شرحنا غاية الاختصار كراغاننا شيخ أبي شجاع بغس مذهب إمامنا الشافعي أنو غومفولاكي كان اي شرح فقير الحقير محمد غزالي بن زين العارف مجالغكا غفر الله لهما
كيغغنا غويتان نرجمهكن نليكا فووي سفت اولنا بولن ذو القعدة تهون 1317

(Ieu kitab “Tarjamah al-Mukhtâr” syarahna “Ghayah al-Ikhtishâr” karangana Syaikh Abî Syujâ’ bangsa madzhab imamuna al-Syâfi’î. Anu ngumpulakeun kana ieu syarah [al-]faqir al-haqir Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka. Ghafarallâhu lahumâ. Kenging ngawitan nerjemahkeuna nalika poe Saptu, Awalna bulan Dzulkaedah tahun 1317 [Hijri]).

Terjemahan teks di atas dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut: ”Ini adalah kitab ‘Tarjamah al-Mukhtâr’ yang merupakan syarah [penjelasan] atas kitab ‘Ghâyah al-Ikhtishâr’ karangan Syaikh Abî Syujâ’ seorang ulama madzhab Imam Syâfi’î. Yang menghimpun syarah ini adalah seorang hamba yang fakir lagi hina Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka. Semoga Allah mengampuni keduanya. Dimulai menerjemahkan [syarah ini] pada hari Sabtu, awal bukan Dzulkaedah tahun 1317 [Hijri]”.

Saya mendapatkan informasi awal keberadaan naskah kitab ini dari buku “Penelusuran Naskah-Naskah Kuno Keagamaan di Cirebon dan Indramayu” yang ditulis oleh Tim Peneliti Balai Litbang Agama Jakarta dan diterbitkan pada November 2016 lalu (terima kasih ibu Mahmudah Noor atas hadiah buku-bukunya).

Sebagaimana disebutkan dalam buku tersebut, naskah “Tarjamah al-Mukhtâr” karya Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka ini tersimpan sebagai koleksi Keraton Kacirebonan, Cirebon (Jawa Barat).

Naskah ini juga sudah didigitalkan dalam laman projek digitalisasi naskah-nasakah Nusantara yang dilakukan oleh Universitas Leipzig bekerjasama dengan beberapa lembaga penyimpan naskah di Nusantara. Pada versi inventarisasi dan digitalisasi Leizig, naskah ini tersimpan dengan nomor kode Crb/KCR/11/2012. Naskah ini juga telah didigitalisasi oleh British Library, dengan nomor kode EAP211/1/3/1.

Jumlah keseluruhan naskah kitab ini adalah 216 halaman, ditambah 16 halaman bagian depan yang berupa daftar isi dan tidak ada nomor halamannya. Setiap halaman rata-rata memuat 13 baris tulisan. Jenis kertas yang digunakan dalam penulisan naskah ini adalah kertas Eropa dengan watermark (cap kertas) Concordia van Gelder Zoonen. Tinta yang digunakan dalam penulisan berwarna hitam.

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka mengatakan bahwa kitab “Ghâyah al-Ikhtisâr” karangan Syaikh Abî Syujâ’, juga kitab “Muqaddimah Bâ-Fadhal” (atau Masâ’il al-Ta’lîm) karangan Syaikh Abdullâh Bâ-Fadhal al-Hadhramî, adalah dua kitab yang sangat penting kandungan isinya dan banyak dipedomani oleh mayoritas umat Muslim sebagai tuntunan ilmu fikih madzhab Syafi’i.

Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka pun berhasrat untuk menuliskan syarah (penjelasan) dan terjemah atas dua kitab tersebut dalam bahasa Sunda, agar kemanfaatan dan kandungan isi kitab tersebut dapat dipahami secara lebih mudah dan luas oleh kalangan pembaca Sunda.

Pada pengantarnya, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka juga menyinggung sosok gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Shalih ibn ‘Umar al-Samârânî (Syaikh Soleh Darat Semarang). Sang guru menasehati dirinya akan pentingnya kemanfaatan ilmu sebagai salah satu bekal keabadian setelah mati, dan nasehat itu diingat dan dijalankan dengan baik oleh beliau.

Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka menulis;
تنا ايت جسيم كوريغ فقير حقير انو لغكوغ ضعيف فون محمد غزالي بن زين العارف مجالغكا حاجة بدي نرجمهكن كلاين غغكي باس سندا انمغ جسيم كوريغ هنت ايا فسن سئتك رومهوس تياس غدمل كراغن أتو أهل غدمل ترجمة.
(Tina eta jisim kuring fakir hakir anu langkung doip pun Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka hajat bade nerjemahkeun kalayan ngangge basa Sunda, anamung jisim kuring genteu aya pisan saeutik rumahos tiasa ngadamel karangan atawa ahli ngadamel tarjamah).

Terjemahan bahasa Indonesia dari teks di atas adalah sebagai berikut: “Darinya, saya yang fakir, hina, dan sangat lemah ini, yaitu Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka berkehendak untuk menerjemahkan dengan menggunakan bahasa Sunda. Namun demikian, saya sama sekali tidak merasa sebagai seorang yang ahli menulis karangan atau pun menerjemahkan).

Karya syarah dan terjemahan berbahasa Sunda ini kemudian dinamakan “Tarjamah al-Mukhtâr”. Dalam menulis karyanya ini, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka merujuk kepada beberapa sumber-sumber kitab, seperti “Fath al-Mukhtâr”, “Hâsyiah al-Bâjûrî” (karangan Syaikh Ibrahim al-Bajuri), “Minhâj al-Qawwîm” (karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitami), kitab karangan Sulaiman al-Kurdî (kemungkinan al-Hawâsyî al-Madaniyyah), “Murqât al-Shu’ûd”, “Kâsyifah al-Sajâ”, “Murâqî al-‘Ubûdiyyah” (ketiganya karangan Syaikh Nawawi Banten), “al-Durar al-Bahiyyah” (karangan Sayyid Bakri Syatha), dan “Fath al-Mu’în” (karangan Syaikh Zainuddin al-Malibari).

Keberadaan kitab “Tarjamah al-Mukhtâr” karya seorang ulama Majalengka bernama Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif yang merupakan syarah dan terjemah berbahasa Sunda atas kitab “Ghâyah al-Ikhtishâr” dan ditulis pada tahun 1317 Hijri (1900 Masehi) tentu memberikan data dan informasi yang kaya sekaligus penting terkait khazanah ulama Majalengka.

Data dan informasi tambahan lainnya adalah beliau murid dari Syaikh Soleh Darat Semarang. Sayangnya, saya belum mendapatkan informasi lanjutan siapakah gerangan sosok Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif ini, dan di daerah Majalengka manakah tepatnya sang penulis karya ini berasal.

Jakarta, Mei 2017
Al-Faqir A. Ginanjar Sya’ban (Direltur Islam Nusantara Center – INC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here