Categories:

Oleh: Cantika Ratna Pratiwi (Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA)

         Setiap keluarga pasti mendambakan keluarga yang sakinah, baik dari orang tua maupun anak menginginkan hidup dalam lingkungan keluarga sakinah, harmonis dan rukun. Keluarga sakinah itu sendiri diartikan sebagai keluarga yang bahagia. Dalam Islam kebahagiaan keluarga berada pada ketaqwaan kepada Allah SWT. Keluarga yang mendapat keridhoan-Nya (Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993 dalam (Sofyan, 2018)). Menurut Noorhayati (2016) keluarga sakinah ialah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, dapat memberikan kasih sayang kepada anggota keluarga hingga mereka merasa aman, tentram, damai dan bahagia (Sholihah & Al-Faruq, 2020).

Bagaimana cara untuk mencapai keluarga yang sakinah?

         Keluarga sakinah sukar diukur karena merupakan suatu hal yang abstrak dan relatif, ditentukan oleh pasangan yang berumahtangga. Namun, berikut beberapa cara untuk menciptakan keluarga yang sakinah, yaitu:

  1. Rumah Tangga dengan berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah

Al-Quran dan As-Sunnah menjadi pedoman penting dalam mendirikan rumah tangga, berlandaskan pada iman dan takwa, bukan hanya semata-mata atas dasar cinta. Apabila berpegang ada Al-Quran dan As-Sunnah sekiranya dapat menghadapi masalah yang timbul dalam rumah tangga. Seperti firman Allah dalam Quran surah An-Nisa ayat 59: “Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Sunnah)”.

  • Menjalankan Peran Anggota Keluarga dengan Baik

Setiap anggota keluarga memiliki perannya masing-masing, pemenuhan peran dengan baik tiap anggota keluarga dibutuhkan agar keluarga berjalan sebagaimana mestinya. Peran suami dan ayah yang berjalan dengan baik berarti dengan memberikan nafkah lahir dan batin, menjadi sosok tauladan bagi istri dan anak, serta menjadi imam (pemimpin) yang bijaksana. Peran ibu dan istri dianggap berjalan apabila sosok ibu dapat menjadi madrasah bagi anak-anaknya, sosok istri dapat menjadi pendamping yang baik, penghangat keluarga. Sosok ibu dan istri menjadi penting dalam sebuah keluarga. Peran anak yang berjalan baik adalah dengan menjadi anak yang sholeh/sholehah, menjadi sosok pelengkap keluarga, membantu ayah dan ibu.

  •  Memberikan Dukungan Psikologis, Sosial dan Emosi

Keluarga adalah lingkungan pertama yang kita rasakan sejak kecil, menjadi sekolah pertama baik bagi anak maupun orang tua. Orang tua belajar menjadi orang tua untuk dapat memberikan contoh dan pelajaran bagi anak-anaknya. Dukungan yang diberikan dalam keluarga tidak hanya mengenai materil namun juga mengenai dukungan psikologis, sosial dan emosi. Penting bagi anak mendapatkan dukungan tersebut sedari kecil untuk perkembangan dan pembentukan diri mereka. Menurut Indriyani (2013) dukungan psikologis dapat diberikan berupa perhatian dan kasih sayang, memberikan rasa aman, menasehati anak, meminta pendapat atau melakukan diskusi dan meluangkan waktu berbincang-bincang untuk menjaga komunikasi yang baik dalam keluarga, sedangkan dukungan sosial dapat meliputi pemberian saran dan kesempatan bagi anak untuk mengikuti kegiatan di luar rumah, menjaga interaksi dengan orang lain dan mematuhi norma-norma yang berlaku (Cahyanti, 2020). Dukungan emosi yang dapat orang tua berikan adalah ketika keadaan anak sedang tidak baik-baik saja, orang tua dapat menjadi tempat untuk anak berkeluh kesah, memberikan perhatian dan kenyamanan bagi anak.

Untuk mencapai keluarga yang sakinah memerlukan sebuah proses, dalam proses pencapaian tersebut dibutuhkan peran-peran anggota keluarga yang berjalan dengan baik. Terlebih, peran orangtua penting dalam proses ini, adanya dukungan psikologis, sosial dan emosi yang orang tua berikan dapat membentuk karakter anak.

Lalu, bagaimana keluarga sakinah dapat berpengaruh pada terbentuknya karakter anak?

Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental, moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta menjadi pembeda dengan individu lain. Keluarga merupakan tempat utama yang dapat membentuk sifat serta karakter anak. Keluarga merupakan lingkungan awal tempat anak bersosialisasi dengan manusia lain selain dirinya (Amirulloh, 2015). Penentu keberhasilan pendidikan karakter dalam keluarga adalah cara orang tua mendidik anak-anaknya. Menurut Hyoscyamina (2011) dalam proses perkembangan anak peran orang tua dalam mendidik sangatlah besar, walaupun perlu didukung oleh lembaga-lembaga sosial seperti sekolah dan lingkungan. Sikap orang tua terhadap satu sama lain juga berpengaruh dalam pendidikan di keluarga, karena hal ini dapat mempengaruhi karakteristik atau perilaku anak.

Penting bagi keluarga untuk mengetahui dan menyadari bahwa keharmonisan berpengaruh terhadap tingkat kenakalan anak, dimana keluarga yang broken home, kurang berinteraksi dan waktu bersama antar keluarga, pola asuh otoriter, dan sering terjadi konflik dalam keluarga cenderung membentuk karakter anak yang kurang baik (Baslom, 1993 dalam (Hyoscyamina, 2011)).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ali (Mansyur, 2020) dalam tesisnya mengungkapkan bahwa peranan keluarga sakinah yang menanamkan kedisiplinan kepada anak dengan metode keteladanan, pembiasaan, nasihat dan pengawasan, kebiasaan-kebiasaan baik yang diterapkan melekat pada diri anak serta memberikan motivasi kepada anak sangatlah berpengaruh dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak.

Keluarga adalah faktor paling penting dan berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Anak dapat diibaratkan seperti halnya selembar kertas putih kosong yang harus diisi, dan dibentuk. Sikap tauladan yang diterapkan dalam keluarga menjadi pondasi bagi anak untuk membentuk karakternya. Oleh karenanya, keluarga sakinah dengan berlandasakan Al-Quran dan As-Sunnah, anggota keluarga menjalankan perannya dengan baik, adanya dukungan psikologis, sosial dan emosi serta penanaman sikap disiplin memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya karakter anak.

DAFTAR ISI

Amirulloh, H. (2015). Teori Pendidikan Karakter Remaja dalam Keluarga (Pertama). Alfabeta. https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=991896

Cahyanti, L. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi General Anestesi di RS PKU Muhammadiyah Gamping. In Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (Vol. 4, Issue 2). https://repo.stikmuhptk.ac.id/jspui/bitstream/123456789/311/1/Buku Ajar Keperawatan Keluarga.pdf

Hyoscyamina, D. E. (2011). Peran Keluarga dalam membangun Karakter Anak. 9(1), 144–152.

Mansyur, A. (2020). Peranan Keluarga Sakinah dan Pendidikan Keluarga Terhadap Pelaksanaan Disiplin Salat Anak. Repository.Uinjkt.Ac.Id. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/54355%0Ahttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/54355/1/TESIS ALI MANSYUR MPAI %28watermark%29.pdf

Sholihah, R., & Al-Faruq, M. (2020). Konsep Keluarga Sakinah. SALIMIYA: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam, 1(4), 113–130.

Sofyan, B. (2018). Membangun Keluarga Sakinah. Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan, 7(2), 1–14. http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/Al-Irsyad_Al-Nafs/article/view/14544

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *