Ziarah Bisa Redam Sikap Radikalis

0
132

Tangerang Selatan, Jaringansantri.com – Ziarah merupakan sebuah ritus keagamaan yang sering diamalkan oleh muslim Indonesia. Bahkan, meski ziarah itu dibid’ahkan oleh sebagian kelompok, kegiatan ini tidak akan hilang.

Hal ini disampaikan oleh Tantan Hermansyah dalam kajian rutin di Islam Nusantara Center (INC) dengan tema “WISATA ZIARAH : Ekspresi Kohesi Sosial”. Sabtu, (20/04).

“Wisata ziarah tidak akan hilang meski dibid’ahkan,” ujarnya.

Dosen Fakultas Dakwah UIN Jakarta ini menjelaskan penyebab tradisi ziarah tetap lestari sampai sekarang. Ia mengatakan bahwa paradigma untuk mendapatkan barokah, kesejahteraan dan ketenangan menjadi alasan utama para peziarah selalu membiasakan tradisi ini.

“Para peziarah itu ingin merasakan sendiri dalam keramaian. Maka, ziarah diartikan pertemuan antara subjek dan objek untuk menemukan keindahan Tuhan,” ungkap Doktor yang akrab disapa Tantan ini.

Nilai positif wisata ziarah, lanjut Tantan, dilihat dari aspek sosiologis bisa dijadikan relaksasi sosiologis masyarakat yang mana bisa meredam banyak sikap negatif seperti radikalisme, distrust dan apatis-nihilis.

Dosen yang aktif di Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah ini juga memberikan gambaran suasana perjalanan ziarah yang seakan-akan tidak membosankan dan tidak ada ujungnya.

“Ziarah merupakan perjalanan yang tidak berujung. Karena setiap ketemu hal baru, maka akan ketemu pintu yang siap dibuka kembali. Kita tidak akan tahu mana akhirnya,” terang Tantan.

Ia menampilkan gambar perjalan ziarah di makam-makam tokoh dunia Islam. Mulai dari ASI, Timur Tengah sampai Eropa. Salah satunya ia berziarah di makam Ibnu ‘Araby, Maroko.

Selain itu, ia juga memberikan peringatan kepada masyarakat agar menjaga objek wisata ziarah. Jangan sampai dijalankan oleh kapitalisme.

Menurut Tantan, ketika wisata ziarah dikelola oleh kapitalisme yang hanya memikirkan keuntungan duniawi saja, maka para peziarah akan kehilangan proses batiniahnya. Kemudian tempat tersebut akan sama dengan wisata biasa, karena mengalami reduksi dan semakin jauh dari makna barokah. (Zainal)