Abah Guru Said atau Tuan Guru H. Said Marzuki adalah sosok zuriyat keenam dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Ranji silsilahnya adalah Tuan Guru H. Said Marzuki bin Syekh Ahmad Marzuki bin Syekh Abdussomad bin Syekh Muhammad Said Wali bin Aminah binti Khalifah Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Atau bisa juga begini Tuan Guru H. Said Marzuki bin Syekh Ahmad Marzuki bin Syekh Abdussomad bin Sa’adah binti Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Beliau merupakan besan (pewarangan) dari Tuan Guru H. Irsyad Zein. Tuan Guru H. Ahmad Daudi putera Tuan Guru H. Irsyad Zein menjadi suami dari salah satu puteri beliau. Atau dalam ungkapan singkatnya Tuan Guru H. Ahmad Daudi adalah menantu beliau.

Abah Guru Said, salah seorang ulama yang mempunyai sifat rendah hati dan pemurah tak pernah mau menonjokan diri. Padahal beliau bukan hanya mempunyai ilmu keislaman luas, tapi juga memiliki ilmu olah batin yang tinggi, suka riyadlah, banyak menekuni ilmu supranatural dan pengobatan alternatif yang bukan herbal, pijat, totok, akupungtur dan sejenisnya, melainkan yang bernuansa keagamaaan.

Pernah sekitar tahun 2000-an, aku bertandang ke rumah beliau di kampung Dalam Pagar, membawa keluarga yang ingin berobat terkait dengan masalah penyakit non medis. Aku dengan keluarga duduk di ruang tamu beliau yang luas bersama beberapa jamaah yang kutaktau apakah mereka murid beliau atau sesama pasien juga. Pada saat itu, beliau sedang menyampaikan tausiyah yang bercampur kisah. Di antara kalam beliau itu ada yang kuingat sampai sekarang tak pernah terlupakan. Padahal sudah lama sekali, tapi heran bisa tetap melekat sangat kuat, dan sungguh baru kali ini mau kuungkapkan dan kuceriterakan, siapa tau bisa menjadi pelajaran, teladan, hikmah dan kearifan.

Di dalam majlis itu, aku jelas mendengar beliau mengisahkan diri beliau yang mendadak jadi penambaan (pengobatan alternatif). Kata beliau, ketika aku pas kena giliran menjaga kubah di Kalampayan, menunggu di makam Tuan Guru H. Zainal lmi bin H. Abdussomad (Guru Anang Ilmi), paman beliau sendiri. Hari itu, pada saat masuk waktu Zuhur, beliau tidak bisa sembahyang berjamaah di masjid karena sakit gigi. Beliau hanya bisa menunaikan sembahyang Zuhur di ruangan muka kubah. Nah saat beliau asyik membaca wirid sambil menahan sakit gigi, tiba-tiba melihat ada sebuah kitab terbuka di pusara makam Tuan Guru H. Zainal Ilmi. Beliau dekati dan melototi kitab terbuka tersebut dan anehnya ternyata ketika dibaca bagian itu persis berbicara perkara mengobati sakit gigi. Beliau geritik dalam hati, bahwa paman beliau yang di kubah ini, seperti tau aja yang didambakan beliau, bagaimana cara menyembuhkan sakit gigi. Lebih dari itu, ternyata kitab tersebut berisi cara pengobatan berbagai penyakit yang kemudian beliau dalami hingga menjadi penambaan (ahli pengobatan alternatif).

Kemudian, kisah lainnya yang sempat kuingat, beliau berceritera tentang Salawat Fulus yang beliau terima dari Abah Guru Sakumpul yang kemudian sudah beliau amalkan cukup lama lantas menerangkan semacam khasiatnya pada kehidupan beliau sehari-hari.

Pada saat, beliau membeli tanah sangat luas dengan harga 3 juta rupiah dan akan dibayarkan dalam waktu tertentu kepada pemilik tanah. Tiba-tiba sebelum jatuh tempo pembayaran ada teman beliau yang ngutang 1 juta dan berjanji akan dibayar sesegeranya. Namun celakanya, janji itu tidak bisa dipenuhi oleh si pengutang, padahal hari ini, pemilik tanah akan mengambil pembayaran dan uang yang disiapkan kurang 1 juta. Saat bingung seperti ini beliau ingat amalan Salawat Fulus, lalu beliau meyakini uang yang 2 juta itu adalah atau menjadi 3 juta. Ketika datang pemilik tanah, beliau serahkan uang yang 2 juta itu dan beliau suruh hitung. Aneh bin ajaib setelah dihitung uang itu betul-betul sudah menjadi 3 juta berkat wasilah Salawat Fulus.

Pada saat yang lain, beliau pergi ke pasar belanja barang-barang dagangan untuk mengisi warung. Ketika barang sudah terbungkus dan akan siap membayar si penjual. Ternyata isi kantong saku kosong melompong, tidak ada duit sepeserpun. Rupanya beliau keliru mengambil celana yang dipakai saat mau ke pasar, bukannya celana yang berisi duit yang dipakai, tapi celana yang tidak ada duitnya sama sekali yang terbawa. Kembali beliau ingat amalan Salawat Fulus dan meyakinkan bahwa di kantong celana beliau yang kosong ada duit. Sim salabim ajaib sekali, tiba-tiba saja di kantong beliau benar-benar terdapat segepok duit sejumlah yang dibutuhkan sebagai pembayaran berkat wasilah Salawat Fulus.

Demikianlah sedikit pengetahuanku tentang Abah Guru Said Dalam Pagar, yang sejak beberapa tahun mempersiapkan tempat pemakaman beliau sebelum kematian. Dekat kediaman beliau, tepat di seberang jalan atau di samping kediaman menantunya, Tuan Guru Ahmad Daudi, berdiri sebuah tempat alkah yang sudah dibangun. Bangunan itu berbentuk seperti bundar dengan atap sirap. Posisi bangunan lebih tinggi dari tanah hingga sekitar 0,5 meter. Di sekililing bangunan terpasang jendela berbentuk vertikal, sedangkan luas makam berukuran sekitar 5 meter. Tempat pemakaman yang biasa disebut kubah ini, menjadi makam beliau ketika wafat tanggal 29 Agustus 2018, dengan meninggalkan seorang istri bernama Hj. Miskiah, anak sebanyak 10 orang, cucu 23 orang dan buyut 3 orang. Allah Yarham.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *