Pemikiran politik dalam Islam merupakan elemen penting dalam tradisi intelektual Islam yang membahas gagasan-gagasan fundamental tentang pemerintahan, seperti keadilan, kepemimpinan, syura (musyawarah), dan penerapan hukum Islam dalam konteks kenegaraan. Tokoh-tokoh seperti Al-Mawardi, Al-Farabi, Ibnu Khaldun, Hasan Al-Banna, dan Abul A’la Al-Maududi telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam merumuskan sistem politik ideal dari perspektif Islam. Karenanya perlu dipahami proses evolusi, prinsip-prinsip dasar, dan relevansi pemikiran politik Islam dalam menghadapi isu-isu politik terkini. Keterkaitan historis antara sistem pendidikan pada masa Bani Umayyah (661–750 M) dan proses Islamisasi di Nusantara, menjadi aspek penting dalam meggali kontribusi struktur pendidikan dan penyebaran Islam di wilayah nusantara atau kepulauan Indonesia. Selanjutnya, dengan mengungkap peran strategis Kesultanan Jambi dalam penyebaran Islam dan pembentukan tradisi keagamaan lokal pada abad ke-19, akan tergambar bagaimana kesultanan memanfaatkan kekuasaan politik, jaringan ulama, serta lembaga keagamaan dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat.


Konstruksi sosial atas dasar etika Islam tersebut tetap berpedoman pada pemahaman atas teks-teksi klasik dalam memahami al Qur’an dan Hadis Nabi. Karena itu, mengkaji corak dan prinsip tafsir yang dibawa oleh Abul A‘la al-Maududi (1903-1979) dalam magnum opus-nya kitab Tafhīm al-Qur’an akan memperlihatkan kaedah yang seimbang antara pendekatan tafsir al-ma‘thur (berasaskan riwayat) dan al-ra’y (penalaran dan logika) yang diterapkan dalam penafsirannya. Sedangkan bidang hadis, dapa dipahami dari kitab Kasyf al-Astar karya AGH. Muhammad Nur asal Sulawesi Selatan yang berhasil menggabungkan analisis mendalam terhadap hadis dengan konteks sosial budaya lokal sebagai alat pendidikan yang efektif dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang hadis. Selain itu, didukung dengan kajian atas dakwah wasatiyyah yang dilakukan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (selanjutnya Tuan Guru Zainuddin) (1898-1997) dan Manakib Abdul Qadir al-Jaelani (kode KBN 225), yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon yang merupakan salinan pesantren abad ke-20 yang digunakan dalam tradisi manakiban, berfungsi sebagai media dakwah dan pendidikan spiritual.


Jejak Islam Nusantara
Pra Walisongo

Kajian rutin Islam Nusantar Center, jejak sejarah Islam di Nusantara