Walau amal itu penting, namun menurut Imam Ghozali, namanya amal manusia sesholeh apapun, pasti ada sisi buruknya. Makanya kita gak boleh cuma mengandalkan amal.
Misal seorang suami bersedekah, ada istri mencak2 karena jatah belanja berkurang. Sholat dhuha rajin, ada kemungkinan bos mencak2 karena dzolim dengan jam kerja. Menghabiskan waktu buat wiridan, ada kemungkinan satu rumah mencak2 karena gak ada waktu untuk keluarga.
Maka kalo kita cuma mengandalkan amal2 yg punya sisi buruknya itu, bisa2 habis kita. Jangan2 sisi buruk amal itu menghabisi sisi baiknya hingga tak bersisa.
Jadi selain amal, keadaan batin itu justru lebih penting. Terutama tentang niat. Kalo bisa, antara niat dan amal harus selaras dan berimbang.
Maka dari itu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW berdoa
اللهم اجعل سريرتي خيرا من علانيتي، واجعل لي علانية صالحة
“Duh Gusti, saya mohon jadikan niat dalam hati saya lebih bagus dari perilaku saya, dan saya mohon jadikanlah perilaku saya selaras dengan niat baik”
Kanjeng Nabi lewat doa tersebut menyadari bahwa kadang niat bagus manusia, dalam pengaplikasiannya ada efek negatifnya. Maka sentralnya itu pada batin, amal gak bisa jadi pegangan pasti walau sama2 penting. Yang bisa diupayakan hanyalah semampunya untuk menyelaraskan niat dan amal.
Imam Hasan Al Basri kalau menyuruh melakukan sesuatu pada seseorang, selalu disesuaikan dgn kebiasaan dan hobby orang itu. Kalo beliau melarang sesuatu, selalu disesuaikan dengan apa yang dibenci orang itu.
Misal beliau menyuruh seorang santri kutu buku untuk terus meningkatkan pengetahuannya dgn berbagai kitab dan melarang dia untuk berhenti kalo belum capek. Kalo ada santri yg gak suka baca tapi suka bertani, diberi lahan garapan dan melarang dia menyentuh pekerjaan lain. Beliau selalu menempatkan orang yg tepat di tempat yg tepat. Bahasa Maduranya “right man on the right place”.
Sehingga akhirnya para santri sangat bersemangat dalam amalnya masing-masing. Karena semangat, hasilnya pun sangat memuaskan. Hal ini karena selaras dengan apa yg ada di hati dan apa yg dikerjakan.
Kaidahnya, kalo ada orang yg punya hasrat ingin mengerjakan suatu amal, maka dia baru bisa tenang kalo sudah mengamalkan. Kalo ada orang yg gak punya hasrat, yang ada cuma amal yg gak punya niat dan hanya jadi beban, sehingga gak totalitas. Dan kalo kebetulan berhasil pun, keberhasilannya cuma memunculkan riya’.
Maka keselarasan niat dan amal ini perlu kita usahakan. Salah satu caranya, kita cintai apa yg kita lakukan.
Jadi inget jokenya Gus Dur.
Beliau bilang bangsa sedunia itu dibagi 4 :
- Sedikit bicara, sedikit kerja (bangsa Afrika)
- Sedikit bicara, banyak kerja (bangsa Asia Timur)
- Banyak bicara, banyak kerja (bangsa Barat)
- Banyak bicara, sedikit kerja (bangsa Asia Tengah)
Kalo Indonesia gak termasuk keempat-empatnya, karena antara yang dibicarakan dan yang dikerjakan berbeda.
Kita kudu jeli mengenali ciri-ciri lintasan2 pikiran (khotir) sebelum menetapkan niat sehingga gak salah niat dalam beramal dan amal selaras niat baik. Karena kadang apa yg kita anggap baik ternyata buruk dan yang dianggap buruk ternyata baik. Kebingungan kita itu sering muncul gara2 gak bisa mengenali kebaikan dan keburukan.
Imam Ghozali meriwayatkan dawuh para ulama tentang cara mengenali mana khotir khoir (pikiran baik) dan mana yang khotir syarr (pikiran jelek), yaitu :
• Mencocokkan khotir itu dengan syara’. Jika sesuai, maka itu khotir khoir. Jika bertentangan, maka itu khotir syarr.
Maka kita harus mau terus mengaji gak kenal lelah dan bertanya pada ulama agar kita bisa punya referensi dalam menimbangnya.
• Mencocokkannya dengan perilaku para orang sholih. Jika cocok, maka itu khotir khoir. Jika gak cocok, maka itu khotir syarr.
Maka kita harus rajin membaca dan mendengar siroh nabawiyah, kisah-kisah para shohabat, ulama dan para wali. Karena hanya melalui cerita2 merekalah, kita bisa tau bagaimana penerapan ajaran Gusti Allah yg benar, bagaimana kesholehan yang benar dan bagaimana cara menyelaraskan niat baik dan amal baik.
• Cek dan bandingkan khotir itu dengan hawa nafsu. Jika hawa nafsu menolak khotir dengan tolakan biasa menurut tabiatnya dan bukan karena takut pada Gusti Allah, maka itu khotir khoir. Jika hawa nafsu langsung menerima dan menyenanginya dan bukan mengharap ridho Gusti Allah, maka itu khotir syarr.
Dengan ketiga pertimbangan di atas, maka kita bisa mengetahui mana khotir khoir dan khotir syarr. Semoga kita bisa terus diberi petunjuk oleh Gusti Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Aamiin.
Kalo kita mengidolakan orang-orang sholeh yg masyhur sebagai orang shiddiq dan ingin seperti mereka, menurut Imam Ghozali, kudu melakukan dan menetapi 6 step kiat2 menjadi shiddiq secara berurutan, sebagai berikut :
- Jujur, benar dan tak ada rekayasa dalam perkataan tentang segala hal yg berkaitan dengan keadaan di masa lampau, di masa depan dan saat ini. Sehingga terhindar dari penyakit lisan (bohong, ghibah, caci maki, dll) dan ada keselarasan antara kata hati dan lisannya.
- Menjernihkan niat hanya menuju kebaikan hakiki yaitu pengabdian pada Gusti Allah.
- Menetapkan ‘azam (keinginan) untuk berbuat kebaikan di masa depan agar gak kemasukan distraksi yg merusak niat.
- Selalu menjaga, memelihara dan selalu setia pada ‘azam untuk berbuat baik, apapun kondisinya.
- Menjaga kejujuran dalam amal. Menyadari dgn jujur bahwa amal kita pasti tidak akan sempurna, sedikit banyak pasti ada cacatnya dan gak layak dipamerkan pada publik, walau niat kita udah lurus. Ini untuk menghindari pamer dengan amal lahiriyah. Sekaligus kita jujur untuk terus beramal selalu mengikuti syariat Gusti Allah, sebagai usaha keselarasan niat batin dan amal lahir. Agar punya harapan mendapat rahmat.
- Menerima dan menjalani dengan segenap hati segala akhlaq2 baik dalam agama, seperti khouf, roja’, hubb, ridho, tawadhu’, tawakal, sabar, syukur dan lain-lain. Step terakhir inilah hakikat tujuan ikhlas.
Kalo dalam hati kita terbesit selentingan “Ini semua sulit dilakukan,”, maka yakinlah itu cuma selentingan syahwat yg berusaha mengecilkan potensi diri kita. Kudu kita lawan bahwa kita bisa lakukan hal ini semua dengan sedikit demi sedikit tanpa ada putus asa.
Kita kudu yakin bahwa orang yg menuju kebaikan, walau baru keinginan kuat, itu udah baik. Kita boleh berpikir bahwa dengan dosa segunung dan amal secuil, mustahil kita bisa selamat. Maka kita cantolkan harapan dapat keselamatan dan rahmat Gusti Allah dengan memelihara niat menuju kebaikan.

No responses yet