Kita itu kadung hidup di tengah dunia yang lebih mengutamakan status kekayaan dari yang lain, masyarakat yang rasisnya terselubung, komunitas yang mayoritas cuma seneng rea-reo gak jelas daripada menggali ilmu dan segala ketimpangan sosial tapi anehnya legal dan kita malu untuk mengakuinya. Dan semua itu sudah ketetapan Gusti Allah, kita kudu terima itu dulu. Tujuannya apa diciptakan dunia kayak gitu, itu bisa macem2.

Nah, menerima ketetapan Gusti Allah ini yang namanya tawakal. Sebagai orang yg waras, tawakal ini kudu jadi kesadaran yg paling dasar. Tanpa berpegang pada prinsip tawakal, seseorang bisa ketutup akal sehatnya. Orang yang ketutup akalnya, gak bakal dianggep amal dan kesaksiannya. Buktinya, orang yang gak tawakal ini sukanya ngamuk2 gak jelas, bicara dan beramal yang gak masuk akal. Tanda orang ketutup akalnya.

Orang kalo bisa tawakal ini mampu untuk inshof, tawashut dan i’tidal. Saat menemui jalan buntu, dia kembali pada kesadaran awal untuk kemudian mencari solusi terbaik. Gak angger tabrak sana-sini.

Imam Ghozali dawuh, hakikat tawakal adalah

عبارة عن حالة تصدر عن التوحيد ويظهر أثرها على الأعمال

“Gambaran perilaku kesadaran atas prinsip ketauhidan dan teraplikasikan dalam amal lahiriah”

Dari hakikat tawakal tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa tawakal itu punya 3 rukun : makrifat, ahwal dan amal. Tiga hal inilah yang menjadi indikator ada tidaknya rasa tawakal sebagai konsekuensi prinsip tauhid. Dari situ juga bisa dilihat, tawakal itu bukan pasrah pada nasib lalu gak ada tindakan apapun. 

Untuk memahami hakikat tawakal ini, banyak cerita ulama tentang ketawakalan mereka yang bisa jadi contoh buat kita. Karena mereka orang yang tauhidnya bener2 murni dan konsisten.

Ada cerita dari Gus Yahya Cholil Staquf tentang Almaghfurlah Simbah Kyai Maimun Zubair yang entah sejak kapan beristiqomah berangkat haji setiap tahunnya. Keterbatasan quota ONH tak pernah menghalangi beliau. Apa pun jalan yang mungkin, beliau tak ragu menempuhnya. Visa jenis apa pun beliau mau. Tak ada visa haji, visa ziarah pun boleh. Bahkan pernah beliau harus berangkat dengan visa tenaga kerja musiman. Yakni yang khusus untuk dipekerjakan selama musim haji saja.

Demikianlah. Syahdan, di gawang imigrasi Madinah, masalah datang. Petugas imigrasi tak percaya orang setua itu datang sebagai tenaga kerja. Ya logis to. Lha wong usia beliau sudah mendekati 90 tahun.

Mbah Maimun jelas tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dicecarkan saat interogasi. Kalau beliau terang-terangan bicara bahasa Arab dengan fasih dan lancar sekali, itu hanya berarti mementokkan kecurigaan petugas imigrasi. Maka beliau menyabarkan diri bertawakkal walau tertahan berjam-jam. Sampai kemudian seorang santri Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki, yang memang bertugas menjemput, menjadi terlalu cemas karena kalamaan menunggu. Lalu menerobos ke kantor imigrasi untuk mencari tahu. Dan cecaran pertanyaan petugas pun beralih kepadanya,

“Apa benar dia ini tenaga kerja?”

“Iya!”

“Masa?”

“Saumpritt!”

“Setua ini?”

“Memangnya nggak boleh?”

“Kerja dimana coba?”

“Di rumah makan.”

“Orang setua ini mau disuruh kerja bagian apa?”

“Bagian icip-icip!”

Entah percaya betulan atau hanya karena kasihan atau karena buah dari tawakalnya Mbah Maimun sendiri, petugas imigrasi akhirnya meloloskan beliau dengan status buruh rumah makan bagian mencicipi masakan. Namun bagi Mbah Maimun sendiri, niat baik harus berjalan, perkara terwujud atau tidak, urusan Tuhan. Di situlah ada tawakal.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *