Manusia adalah mahluk peniru yang ingin selalu merepresentasikan egonya dalam ruang publik yang saat ini semakin masuk ke dalam  ruang privat. Simbol keegoan itu sekarang lagi viral di dunia Maya dengan sebutan Avatar.  Dimana konon konsep ini memiliki keterkaitan dengan konsep Awatara dalam tradisi keyakinan agama Hindu. Sebuah konsep yang  merupakan bentuk inkarnasi dari substansi Ruhaniah (Keilahian) atau manivestasinya (dari aspek keilahian) yang direpresentasikan ulang dalam simbol diri manusia atau mahluq Tuhan lainnya. Dimana para penganut agama Hindu berharap dengan Avatar itu akan lahir sebuah “keadilan sejati”. Sama seperti narasi utama atas setiap kehadiran sosok Avatar dalam diri “Eng” dalam sekuel film Avatar (the last air Bender). 

Secara psikologis manusia selalu merasakan adanya “ketidakadilan” dalam hidupnya di dunia. Tidak peduli dia orang miskin yang tertindas, orang bodoh yang terlupakan ataupun orang kaya yang merasa tidak aman dan orang pintar yang selalu merasa benar sendiri. Selama mereka berada di dunia, mereka selalu merasakan adanya ancaman terhadap eksistensinya. Sebuah sikap individual yang sebenarnya mewakili kehendak egonya (haddun nafsinya) sendiri. Sehingga dalam proses batiniah selalu muncul keinginan yang akhirnya menjadi keyakinan akan hadirnya sosok yang merepresentasikan Tuhan untuk menegakkan keadilan sejati sesuai keinginan masing-masing.  Ketika keinginan personal itu menyatu dalam cita-cita komunal dan mengkultur, maka lahir mimpi budaya “super pahlawan”. Dalam tradisi keyakinan Jawa kita mengenal Satrio Piningit, dalam tradisi agama Islam kita kenal Imam Mahdi yang akan turun diujung akhir zaman. Dalam tradisi masyarakat kapitalis kita mengenal “Pahlawan Hollywood” ala kapten Amerika, Rambo, Zorro dan Robin Hood.

Sekarang tiba-tiba manusia di dunia Maya berbondong-bondong menampilkan Avatar dirinya sendiri. Satu sisi ini bisa dianggap sebagai bentuk “permainan” yang tak punya makna penting selain hiburan. Di sisi lain ini adalah sebuah “bisnis” menguntungkan di dunia Maya. Atau pada sisi yang kontemplatif fenomena ini sebenarnya menjadi penanda tidak adanya lagi harapan akan kehadiran sosok penegak keadilan di luar dirinya sendiri. Sebuah konsekwensi dari hidup dalam nilai-nilai liberalisme yang individualistik. Dengan bahasa sederhana,  manusia atau kita sedang mengatakan “tidak ada Avatar di luar  sana yang akan membantumu kecuali dirimu sendiri.” 

Sesaat lagi mungkin akan muncul komen atau fatwah receh tentang boleh tidaknya memposting Avatar dari kaum “Agamawan selebriti”. Apalagi konsep ini begitu gamblang lahir dari tradisi keyakinan agama Hindu. Tapi sebelum fatwa itu meluas, sebaiknya kita paham bahwa secara psikologis manusia itu sangat lemah dan memang untuk bisa bertahan dalam kelemahan tersebut manusia harus bersandar pada keyakinan akan Pemilik bayangan dirinya untuk terus menjaga asa tentang keadilan sejati di sepanjang perjalanan hidupnya. Maka dari itu,  dalam moment-moment tertentu kita sering merasakan adanya “keadilan semu” jika ada takdir baik atau buruk yang menimpa kepada kita atau orang lain sesuai dengan keinginan nafsu kita.

Padahal ini adalah Avatar yang menipu. Karena seharusnya Avatar itu hadir dalam keyakinan dimana kita bisa ridho atau menerima dengan bahagia atau ikhlas apapun keputusan terakhir yang akan kita jalani. Anggap saja jika sesuai dengan keinginan kita berarti Tuhan sedang menginginkan hal yang sama dengan doa atau keinginan kita. Namun jika ternyata yang terjadi berseberangan dengan keinginan kita, maka anggap saja keinginan kita itu bukan yang terbaik buat kita. Karena itu kita harus yakin bahwa rencana (keadilan) Tuhan itu pasti jauh lebih baik buat kita sebagai hamba Nya. Apapun bentuk “keadilan”  yang kita terima, harus kita jalani dengan gembira. Sebab setelah kita berupaya untuk meraih keadilan itu semaksimal yang bisa kita lakukan, tugas kita selanjutnya adalah menikmati hasilnya (sesuai atau tidak dengan keinginan kita).  #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *