Dalam kajian etnografi yang sangat kuat, Clifford Geertz mengambil kesimpulan tentang kiai sebagai “Cultural broker”, atau dalam bahasa Horikoshi sebagai “entrepreneur”. Konsep yang dilekatkan hanya kepada kiai dan ajengan ini terus bertahan dalam kuatnya pemahaman masyarakat pesantren yang patriarkis. Sehingga terkadang melupakan peran para nyai yang sebenarnya tidak kalah strategis perannya dibandingkan para kiai di dalam dunia kepesantrenan. Prof. Eka Srimulyani , pernah mengkaji peran nyai di pesantren ini dengan sangat bagus dalam disertasinya, yang membahas sebuah pesantren perempuan di Jombang. Dimana nyai memiliki peran yang tidak semata bernuansa domestik tetapi juga publik sebagai (saya menyebutnya) ‘aktor intelektual’ pesantren. Karena mereka juga menjadi pengajar dan memberikan kajian keagamaan (bahkan) di luar pesantren. Di samping memanageri urusan internal pesantren.

Di era serba digital saat ini, peran nyai juga semakin kuat dalam mempengaruhi ekspresi keberagamaan masyarakat terutama di kalangan perempuan milenial yang aktif di dunia Maya. Para nyai dunia digital ini memiliki beragam latar belakang. Namun sebutan nyai dengan jelas menunjukkan adanya akar yang kuat dengan kultur pesantren. Term nyai ini sangat berbeda dengan term ustadzah yang lebih mengarah pada fenomena ‘inflasi’ simbol keagamaan di perkotaan. Nyai relatif sepadan dengan kiai, yang memang menjadi konsep khas dalam arena kultural pesantren. Maka kemunculan fenomena kiai dan nyai dalam pengajian online di arena digital, tidak bisa dipisahkan dengan akar kultur pesantren. Sehingga tidak perlu heran jika para kiai dan nyai sekarang juga mulai banyak yang memanfaatkan teknologi digital untuk meluaskan dan memperkuat otoritas keagamaan mereka. Para nyai dan kiai online ini bahkan sudah mampu menyaingi para ustadz dan ustadzah “instan” yang lahir di luar pesantren.

Namun karena para ustadz dan ustadzah “instan” dibesarkan dalam kultur ‘seleb’ yang dibangun oleh dunia media. Dimana kekuatan mereka bertumpu pada para manager yang mengatur ‘efek’ rekayasa tata “panggung” dan ‘skenario’ yang lebih “profesional”, maka menjadikan mereka lebih terlihat gebyarnya. Meskipun tak jarang mereka mengabaikan latar belakang dan kompentesi si ustadz dan ustadzah, yang penting isu cepat menjadi viral dan laku. Mereka juga tega mengorbankan ummat yang kemudian menjadi semakin bodoh, karena terkungkung dalam isu formalisme keagamaan. Hal ini tentu sangat jauh dari substansi ajaran Islam yang seharusnya membebaskan dan mencerdaskan. Maka tidak perlu heran jika kemudian kelompok ‘seleb’ ini lebih bernilai jual ekonomi tinggi, ketimbang kelompok nyai. Karena kelompok nyai yang kuat akar kulturalnya di pesantren, meskipun lebih kompeten secara keilmuan, tidak serta merta bisa menjadi selebritis media sosial. Walaupun demikian tetap ada diantara para nyai yang diakomodir media sebagai “artis” dalam acara “religiotainment”, seperti mama Dedeh dan Nyai Qurrota A’yun yang populer di televisi. Namun sekali lagi mereka lebih sering mengikuti arahan sang sutradara ketimbang kreativitas “otonomi” intelektual mereka.

Meskipun demikian secara perlahan kelompok nyai pesantren yang “idealis” sudah mulai bisa menata ‘strategi’ di dunia digital. Bahkan mereka kini sudah memiliki jaringan yang cukup kuat dan mampu mempengaruhi pandangan2 konservatif yang telah mapan, yang lebih dahulu dibangun kelompok ‘seleb’ yang formalistik. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir kelompok nyai pesantren ini sudah mulai memanfaatkan potensi ekonomi mereka yang cukup menjanjikan lewat beragam cara di dunia offline ataupun online.

Ikhtiar para Nyai dalam dunia digital saat ini juga mulai menguat dan bahkan bisa dikatakan menyeimbangi eksistensi para kiai yang lebih dahulu masuk ke dunia medsos. Para nyai “pesantren” ternyata lebih mampu dan kreatif dibandingkan para kiai dalam mengembangkan potensi kultural mereka. Kehadiran mereka bukan menjadi kompetitor bagi para kiai, justru melengkapi sekaligus menutupi ruang-ruang yang selama ini tak terjangkau oleh para kiai. Di antaranya adalah isu-isu sensitif yang bernuansa keadilan bagi perempuan. Karena selama ini mereka lebih banyak diposisikan sebagai objek pengetahuan ataupun perlakuan, dalam setiap kajian para kiai ataupun ustadz seleb.

Hadirnya para nyai di ruang digital inilah yang menjadi oase bagi mereka yang haus akan keadilan perlakuan bagi kaum Hawa. Menariknya banyak sekali para nyai yang kemudian mengembangkan potensi kultural mereka dengan cara menginvestasikan potensi kultural itu dalam bentuk nyata. Misalnya membuat pesantren Putri, membentuk Yayasan pendidikan, LSM yang konsern pada perjuangan perempuan dan bahkan ada yang mendirikan PT atau KBIH yang berorientasi ekonomi dengan memanfaatkan aktivitas ritual keagamaan.

Sebagai investor Kultural, ternyata kehadiran para nyai digital ini benar-benar menjanjikan harapan baru bagi ekspresi Islam urban. Terutama dengan bermunculannya kajian-kajian tematik yang bahkan sangat “eksklusif”. Seperti “Kajian Gender Islam” atau KGI yang diasuh oleh nyai Dr. Nur Rofiah, yang sangat fenomenal dan sudah merambah ke daerah bahkan secara luring. Serta mendorong kajian sejenis di beberapa pesantren Putri. KGI menjadi bukti dari keberhasilan investasi kultural yang dilakukan para nyai dan kiai yang konsern pada isu “kebangunan” ulama perempuan, yang dicanangkan dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada tahun 2016 lalu.

Bangkitnya para nyai di dunia digital ini sekali lagi menjadi bukti bahwa ekspresi keagamaan di pesantren tidak seperti yang digambarkan banyak sarjana yang serba konservatif dan tertutup untuk perempuan. Nyatanya sejak awal para nyai ini justru menjadi partner kiai dalam berdakwah bukan kompetitor. Para nyai dan kiai ini saling melengkapi seperti sebuah pasangan “suami istri”. Mereka saling menguatkan dalam membangun sebuah kultur beragama yang inklusif dan moderat. Kita bisa melihat itu dengan sangat nyata dalam fenomena pengajian online Ihya Ulumuddin yang di komandani oleh Nyai Ienas Tsuroyah sebagai manager dan kiai Ulil Abshar Abdalla sebagai lurahnya.

Nah wabah covid 19 yang memaksa hampir semua orang untuk bekerja dan beraktivitas di rumah saja sekarang ini, juga semakin memperbesar ruang dan waktu bagi para nyai untuk semakin aktif di dunia sosmed sambil rebahan. Inilah investasi kultural terbesar yang dilakukan para nyai pesantren di era 4.0, yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh para pengamat pesantren yang sejak awal “menyembunyikan” figur para nyai. Padahal para nyai adalah investor kultural yang sesungguhnya. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *