Sejak peluncuran pertama September tahun lalu saya sudah ingin membaca buku “Wajah Muslim Indonesia” ini. Alhamdulillah baru bisa memilikinya setahun setelahnya. Jika biasanya saya membaca buku-buku yang ada tulisan Arabnya maka pada buku ini lebih banyak bertemu dengan angka-angka, prosentase, statistik, hasil survei dan sebagainya. Ternyata pengalaman menarik bagi saya untuk saya jadikan tema baru dalam pengajian.
Mengapa buku keislaman ini banyak berisi angka-angka? Sebab ditulis oleh Sahabat saya, Mas Hasanuddin Ali dari Alvara Research Center. Penulisan buku ini sangat sistematis, bab-babnya juga mengalir sangat nyaman, tema-tema yang diangkat sangat ril dijumpai dalam keseharian Muslim Indonesia. Yang lebih dahsyat ada nilai-nilai Islam bagi warga Indonesia.
Buku ini diawali dengan bahasan populasi penduduk dunia. Menurut Pew Research Center pada 2010 berjumlah 6.895.850.000 atau 6.8 milyar manusia.
Umat Islam berada pada urutan kedua di dunia dengan angka 1.599.700.000 di bawah umat Kristiani yang mencapai 2.168.330.000. Keterpautan angka 568.630.000 ini terjadi pada tahun 2010. Saat ini jumlah umat Islam sudah mencapai 1.907.110.000. Sedangkan pemeluk agama Nasrani adalah 2.382.750.000. Perlu berapa tahun lagi umat Islam bisa menyamai jumlah umat Kristiani? (Hal. 18)
Dari populasi Muslim di dunia ternyata penyumbang terbesar adalah dari Asia Pasifik yaitu 986 juta jiwa, hampir 1 milyar atau 62%. Dan Indonesia menjadi tempat yang dihuni oleh mayoritas Muslim di dunia, disusul Pakistan, India, Bangladesh, Iran, Turki, Afganistan, Uzbekistan, China dan Malaysia. (Hal. 19).
Jika dibawa ke level negeri kita, maka 87.18% beragama Islam, dan Muslim yang berada di pulau Jawa adalah 130,6 juta jiwa. 44 juta jiwa di Sumatera, 14 juta jiwa di Sulawesi, 10 juta jiwa di Kalimantan, 5 juta jiwa di BalNus dan 2 juta jiwa di Papua. (Hal. 25).
Pengamal Tahlilan secara nasional adalah 83% (Hal. 53). Pengamal Maulid Nabi shalallahu alaihi wasallam sebanyak 90% (Hal. 56). Melihat kokohnya tradisi yang bernilai Islami ini rasanya tidak mempan dengan konsep teriakan Bid’ah. Mungkin Salafi perlu mengevaluasi dan mencari strategi baru jika memang ingin memberangus bidah model ini.
Meski di Indonesia mayoritas bermazhab Syafi’i namun yang melakukan Qunut Subuh sebanyak 71% (Hal 59). Mengapa lebih sedikit? Menurut hemat saya sesuai yang disajikan dalam data tersebut orang yang mengamalkan Qunut kebanyakan adalah di pedesaan. Di kota sedikit. Boleh jadi juga yang tidak Qunut karena bangun tidur kesiangan sehingga meninggalkan Qunut agar dikira Shalat Dhuha (ha-ha-ha).
Ada 2 Amaliah NU yang tidak mencapai 50%, yakni Tarawih 23 rakaat dan ziarah makam ulama. Soal Tarawih saya kira karena maraknya konsep minimalis, yakni saat mau beli rumah kecenderungan memilih tipe minimalis, juga ketika mencari aksesoris lebih senang yang minimalis, akhirnya tarawih juga memilih yang 11 rakaat, karena minimalis (hahaha). Sementara untuk ziarah makam ulama bukan karena keberhasilan mengangkat tuduhan Syirik, melainkan warga +62 ini memang lebih sering berwisata ke pantai, mall, jalan-jalan dari pada wisata religi ke makam-makam ulama.
Sebenarnya ingin sekali saya tuliskan semua disini, namun maaf saya masih ada tugas lain, yaitu membahagiakan istri. Selamat membaca dan menemukan pengalaman baru melihat sisi lain dari Wajah Muslim Indonesia.

No responses yet