Kanjeng Nabi Muhammad dalam hadits-hadits yang shohih (sebagian telah saya kutip sebelum ini), menyebutkan bahwa kalimat tahlil itu (atau yang juga disebut dengan kalimat tauhid), diperintahkan untuk dilafadzkan, dan didzikirkan. Dzikir lisan menggunakan kalimat tahlil; dzikir batin dengan muroqobah atas maknanya dalam kehidupan kita; dzikir aqal adalah bertafakkur, kemudian bertadabbur atasnya, melalui dalail ayat Al-Qur’an ataupun ayat kauniyah.
Kaum santri sering menggunakan kalimat di atas dengan sebutan “kalimat tahlil”, dari kata hallala yuhallilu tahlilan, yaitu membaca kalimat la ilaha illalloh. Sementara kalau menyebut kalimat tauhid, itu menegaskan kalimat yang menegaskan tauhid, untuk mengesakan Alloh. Dalam pengertian ini, kalimat hasbunalloh wani’mal wakil itu juga bermakna kalimat tauhid; kalimat hauqolah berbunyi lahaula wala quwwata illa billah juga kalimat tauhid; qul Huwallohu Ahad, juga kalimat tauhid; Dzikir “Huwalloh” juga kalimat tauhid. Dzikir “Alloh-Alloh-Alloh” juga kalimat tauhid. Dzikir Huwa juga kalimat tauhid; dan lain-lain.
Jadi, kalau kalimat yang diandaikan mengandung tauhid itu hanya lailaha illalloh saja, itu tidak tepat. Oleh karena luasnya cakupan kalimat tauhid, saya mengikuti guru-guru yang menyebut kalimat tahlil untuk la ilaha illalloh, dan hauqolah untuk la haula wala quwwata illa billah.
Hal ini membawa pengertian bahwa makna kalimat tauhid itu, pada maknanya dan haqiqinya, dijalani dalam hidup: Tidak ada kekuatan sejati kecuali kekuatan Alloh; tiada yang member hidup sejati kecuali Yang memberi hidup; tidak ada yang menjadi tempat bergantung sejati kecuali Alloh; dan lain-lain. Ia mengandung pengertian Huwalloh, sebagai Al-Ma’bud (Dzat yang disembah), Al-Maqshud (Dzat yang dituju); Al-Mahbub (Dzat yang dicinta); dan “lau maujuda illalloh”, tidak ada yang ada di dalam semesta ini kecuali “Alloh”. Yang selain-Nya dihidupkan oleh-Nya dengan kepengaturan-Nya dan kekuasaan-Nya, akan hancur dan kembali kepada-Nya, yang hidup dalam kerajaan Semesta. Sementara kerajaan semesta itu disebut dengan “biyadihil mulku”, ada dalam kekuasaan-Nya, dalam kepengaturan-Nya, dan tadbirot-Nya.
Kesadaran itu membawa pada makna “Illalloh”: hanya Alloh yang Ada dengan kekuasaan-Nya. Manusia, makhluk, bumi dan dunia ini hanya satu dari makhluk-makhluk-Nya (yang tidak dikenali semua oleh manusia lebih banyak). Makanya, Dia Maha Kuasa dan Mengatur, yang memperkenalkan kepada makhluk melalui Asma (nama-nama) dan Shifat-Shifat, dengan ayat-ayat-Nya (kitab suci dan kauniyah). Orang santri, mengerti bahwa, kalau Alloh sudah berkehendak, memudharatkan atau membaikkan, maka tidak ada yang bisa menolak. Semua mkakhluk-Nya pun bertasbih, kecuali sebagian jin dan sebagian manusia, sabbaha lillahi ma fissamawati wal ardh.
Oleh karena itu, orang santri, menjalankan perintah-Nya yang disebut ibadah, dan takdirnya sebagai kholifah untuk mengurus bumi; dan menjalani ini semua dalam hidup adalah perjalanan menuju-Nya. Kekuasaan-Nya tidak bisa dilingkupi oleh bendera, atau bahkan oleh lukisan-lukisan kaos tentang kalimat tahlil itu. Kekuasaan-Nya mencakup kekuasaan untuk merendahkan dan menghancurkan; sekaligus kekuasaan mengguyur kasih sayang, kelembutan, dan pemberian-pemberian nikmat, minal azal ilal abad.
Pengetahuan itu, membawa pengertian bahwa, kekuasaan-Nya itu mutlak, yang diberikan melalui pengaturan-pengaturan, melalui ketentuan-ketentuan, kadar-kadar tertentu, juga hukum-hukum, yang kemudian oleh para sufi dirumuskan al-Marotib ar-Rububiyah. Dengan demikian, Alloh menyapa manusia dengan redaksi-redaksi “la`allakum yatafakkarun”, “afala ta’qilun”, “liyaddabaru”, “liyatadzakkaru”, agar mengenal inti kepengeturan Alloh terhadap semesta. Karenanya pula, kasih sayang-Nya itu mutlak, diberikan kepada kaum muslim dan kepada selain mereka; mukmin yang tulus atau yang tidak sekaligus. Demikian pula hukumannya.
Karena kekuasaan-Nya yang mutlak itu, Alloh menjadikan apa yang ada di sekitar manusia itu sebagai tanda-tanda: tanda untuk memperingatkan, merenungkan, dan tanda mengenal-Nya. Makanya bagi santri, menjadi baik, memiliki ahwal yang baik, memiliki akhlak yang baik, itu disamping diusahakan, dan proses orang beragama untuk aslah tsummah ashlah, juga diminta melalui istirham (memohon kasih sayang), isti`an (memohon bantuan), istighfar (memohon ampunan)

No responses yet