Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita :
Aku pernah bertanya kepada pemuda yang kecanduan minuman keras :
“ apakah engkau tidak ingin bertaubat kepada Allah ? “
Ia memandangku sambil menangis lantas berkata :
“doakan aku Syaikh “
memikirkan keadaannya hatiku menjadi luluh. Tangisannya adalah ungkapan bahwa selama ini ia sering melanggar perintah Allah dan ia begitu sedih dan menyesal karena itu. Ia juga sangat ingin “berdamai” dengan Allah. Ia benar-benar beriman namun ia sedang “diuji” dengan kemaksiatan.
Aku lantas berkata kepada diriku sendiri :
“ bisa saja keadaanku sama dengan pemuda ini atau bahkan lebih buruk ? Benar aku sama sekali tidak pernah mencicipi minuman keras karena aku hidup di lingkungan yang baik, tapi bukankah selama ini aku “mabuk” oleh “kelalaian” yang sering membuatku lupa kepada Allah dan melupakan hak-hak-Nya ? Pemuda itu dengan tulus menangisi dosa dan kesalahannya, sedangkan aku dan orang yang sama sepertiku ? apakah kita pernah menangisi dosa, kesalahan dan kelalaian kita ? Bisa jadi aku “tertipu” dan “terbuai” oleh diriku sendiri.
Ketika Allah memilihmu untuk meniti jalan hidayah-Nya, itu bukan karena engkau baik dan istimewa, juga bukan karena ibadah dan amal baikmu, bukan.. tapi itu adalah bukti kasih sayang Allah yang bisa ia cabut darimu kapanpun Ia mau, oleh karena itu jangan pernah menganggap keistiqomahanmu sebagai “pencapaian atau prestasi pribadi”-mu, jangan terbuai oleh ibadah dan kebaikanmu dan jangan pernah memandang rendah mereka yang terjerumus di jalan kesesatan, andai bukan karena kasih sayang Allah maka tidak mustahil engkau akan ada di posisi mereka. ! “
Mendengar pesan beliau ini saya teringat akan nasehat yang disampaikan oleh al-Arif Billah Siidil Imam Ibrahim ad-Dasuqi :
احذر يا ولدى أن تدعى أن لك معاملة خاصة مع الله، واعلم أنك إن صمت فهو الذى صومك، وإن قمت فهو الذى قومك، وإن إتقيت فهو الذى وقاك، وليس لك في الوسط شيء، وإنما الشأن أن ترى أنك عبد عاص ليس لك حسنة واحدة وهو صحيح، فمن أين لك حسنة وهو الذى أحسن إليك، وإن شاء قبلك وإن شاء ردك
“ wahai anakku.. jangan sampai engkau mengaku-ngaku memiliki hubungan khusus dengan Allah. Ketahuilah : ketika engkau berpuasa maka pada hakikatnya Allah-lah yang membuatmu berpuasa, ketika engkau sholat maka Allah-lah yang membuatmu tergerak untuk melakukan sholat, ketika engkau meninggalkan kemaksiatan pada hakikatnya Allah-lah yang menjagamu dari kemaksiatan. Engkau tidak memiliki andil dan jasa apa-apa dan hanya bisa mengakui bahwa engkau adalah hamba pendosa yang suka bermaksiat dan tidak memiliki kebaikan sedikitpun. Dan itu memang fakta ! Bagaimana bisa kau mengaku memiliki kebaikan sedangkan semua kebaikan yang ada pada dirimu semua “murni” pemberian dari Allah ? “
Keep Calm, tetap membumi, jangan sombong dan jangan jumawa ! Self reminder (pengingat) untuk diri saya
Bangkalan, 16 September, 2020

No responses yet