Ini tulisan panjang dan butuh perhatian penuh biar gak salah paham, maka skip aja kalo gak betah.

Karena rukun pertama tawakal itu makrifat, yg berkaitan dengan tauhid. Dan tauhid itu bergantung sejauh mana kejujuran kita dalam tauhid, maka makrifat ini dibagi jadi 4 :

Iman orang munafik

Yaitu orang yg mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi hatinya sama sekali tidak meyakini kebenaran makna yg terkandung di dalamnya. Ketidakyakinannya karena belum ada kesadaran untuk membuka cakrawala berpikirnya secara sehat dan logis. Sehingga belum ada dasar yang kuat bagi keyakinan adanya Gusti Allah.

Ilmul Yaqin

Yaitu keyakinan dari orang yg mengucapkan dua kalimat syahadat dan hatinya meyakini kebenaran makna yg terkandung dalam dua kalimat syahadat berdasarkan ilmu yg dipelajari.

Ilmu yg dipelajari ini pun telah melalui proses pencocokkan dengan logika sehat atau dalil aqli dan tidak terbantahkan lagi dengan argumen apapun. Tanpa proses itu, tidak akan muncul keyakinan.

Misal dengan logika dasar, kita setuju adanya wujud sesuatu pasti menandakan adanya wujud pencipta sesuatu itu. Pencipta itu pasti Maha Kuasa dan Maha Esa. Dan hal itu jika diuji dari sisi apapun, tidak tergoyahkan. Dan itu jadi keyakinan kita.

Maka, ilmul yaqin ini adalah makrifatnya orang awam dan mutakalimin (ahli logika). Dengan logika sederhananya, tauhid pun menjadi kuat dan tidak goyah oleh logika sesat apapun. Dan kita harus terus memelihara dan meng-up grade ilmul yaqin ini sampai mati. Agar semakin kuat hujjah ketuhanan Gusti Allah menghadapi bisikan-bisikan dari luar dan dalam diri kita.

Aynul Yaqin

Sebagai kelanjutan dari tingkat kedua, yaitu keyakinan dari orang yang telah jernih pandangan mata hatinya sehingga dapat memandang kekuasaan Gusti Allah melalui segala sesuatu yg dipandang oleh mata kepalanya.

Hal ini bisa dicapai bila telah mengetahui silsilah asbab dan bentuk-bentuk silsilah tersebut dan mampu menghubungkan silsilah awal dengan penyebab semua sebab itu. Dengan itu, yang mencapai aynul yaqin akan melihat pada hakikatnya semua yang terpisah itu satu rangkaian. Karena melihat bahwa semua kejadian di dunia ini, dari mikro hingga makro, terjadi sebagai satu rangkaian peristiwa atau skenario besar yang direncanakan dan dilakukan oleh satu pelaku. Yaitu Gusti Allah.

Misal kita mempelajari sejarah manusia dari jaman ke jaman. Kita menemukan pergerakan manusia dari satu jaman ke jaman, penuh konflik dan peristiwa. Namun sementara itu, ada progress kemajuan pencapaian manusia di balik konflik dan peristiwa. Akhirnya menemukan hikmah maksud di balik konflik-konflik di balik satu peristiwa yang terjadi di masa lalu hingga sekarang. Dan saat dilihat secara garis besarnya, hikmah itu menuntun kita untuk menyadari ada hal yang membuat kita heran, takjub dan di luar dugaan.

Lalu kita sadar ada satu kekuatan di luar kekuatan makhluk yang mengatur sedemikian rupa. Ada satu sutradara yang punya kekuasaan absolut di balik semua peristiwa itu yang menimbulkan adanya progress. Hingga dicapai kesimpulan silsilah asbab, lalu kita menghubungan antar asbab dan kita temukan berakhir pada Sang Sutradara tersebut, yaitu Gusti Allah. Dan itu jadi keyakinan diri kita.

Haqqul yaqin

Sebagai kelanjutan dari tingkat ketiga, yaitu keyakinan dari orang yang hatinya benar-benar telah dapat menyadari dan menghayati hakekat dari wujud dan kekuasaan Gusti Allah Ta’ala.

Haqqul yaqin membuat orang hanya melihat satu wujud dari semua bentuk wujud atau menyadari bahwa semua yang wujud ini hakikatnya tidak ada. Yang ada hanya Dzat tunggal, yaitu Gusti Allah. Yang punya sifat Wajibul Wujud, Dzatal wujud atau puncaknya wujud. Yang Maha Esa Dzat, Af’al dan Sifat-Nya.

Karena sebenarnya, makhluk itu tidak punya hakikat wujud karena makhluk itu ternyata terdiri dari pecahan-pecahan bagian yg tidak bisa juga disebut wujud. Sehingga ketika bicara pecahan-pecahan itu, semakin yakin bahwa pecahan itu sebenarnya mungkin wujud, tapi hakikatnya tidak wujud. Yang wujud ya hanya Wajibul Wujud yang memungkinkan pecahan-pecahan itu tercipta dan bergabung dan disebut satu wujud makhluk.

Misal saya, Fahmi, melihat ke cermin untuk melihat mana hakikat yg bernama Fahmi sebenarnya. Ternyata yang saya temui hanya organ-organ penyusun tubuh. Organ-organ itupun tidak ada yang bernama Fahmi. Cuma ada mata, mulut, kulit, rambut dan sebagainya. Tapi secara kesatuan, organ-organ itu membentuk seseorang bernama Fahmi. Jadi yg namanya Fahmi bukan mata saja atau mulut saja. Artinya, Fahmi ini wujud yang mungkin wujud, bukan hakikat wujud. Nyatanya dicari hingga partikel terkecil pun tidak ditemukan yang namanya Fahmi.

Dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwa Fahmi ini bisa wujud bila diadakan dengan cara digabungkan. Yang namanya Fahmi pun tidak akan wujud kalo gak terdiri dari organ-organ. Begitu juga alam semesta, tidak akan bisa disebut alam semesta kalo gak ada planet2, bintang, galaksi, black hole dan sebagainya. Sehingga dari situ, kita berkesimpulan pasti ada pelaku tunggal yang menciptakan dan menggabungkan semua partikel makhluk itu sehingga punya wujud. Pelaku penciptaan itu pastinya punya sifat Wajibul Wujud, Puncaknya Wujud atau Alfa Prime. Yaitu Gusti Allah.

Dari situ bisa ditarik kesimpulan lagi. Bahwa setiap bagian dari alam semesta ini, permilimeternya adalah bagian dari sistem yang diciptakan oleh Af’al dari Sifat qudroh Dzat yang Wajibul Wujud. Dari situ, orang pun haqqul yaqin, bisa menyadari wujud-wujud alam semesta ini sebenarnya gak bisa juga disebut wujud karena haqiqatnya tidak berbentuk. Yang pasti wujud hanya Wajibul Wujud, yaitu Gusti Allah.

Oleh karena itu, orang yang haqqul yaqin pun tidak membedakan antara manusia, hewan, tumbuhan, langit, bumi, surga, neraka. Karena semua makhluk tampak sama saja di matanya. Semua tampak berada dalam sistem yang tunggal di bawah kendali Yang Maha Tunggal. Sehingga semua makhluk tampak saling terhubung satu sama lain dan tampak ada hubungan saling membutuhkan walau tampak paradoks. Karena hakikatnya semua dalam satu sistem yang tunggal.

Maka orang yg haqqul yaqin pun tidak menatap selain Gusti Allah. Dia melihat dirinya hanya satu bagian komponen kecil dari satu kesatuan sistem yang maha besar dan sangat menjaga perilaku lahir batinnya terhadap manusia, jin, setan, malaikat, hewan, tumbuhan, air, udara, bumi dan seluruh alam sebagai bagian komponen sistem lain yg secara langsung/tidak langsung terhubung dengan dirinya.

Dan makrifat semacam itu menjadikan dirinya tawakal, dalam arti tunduk pada apapun kehendak Sang Pengendali Sistem, yaitu Gusti Allah. Tidak mengeluh, tidak mempertanyakan dan tidak ada penolakan terhadap takdir.

Gusti Allah berfirman

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Gusti Allah saja hendaknya kamu sekalian bertawakal, jika kamu sekalian benar-benar beriman” (Al Maidah 23)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *