Masih membahas rukun tawakal kedua, yaitu hal. Hal atau keadaan hati dari orang yang bertawakal terdiri dari tiga urutan tingkat:

  • Derajatnya keadaan orang yang bertawakal setelah baru mengetahui kekuasaan Gusti Allah dan mengenai keyakinannya terhadap pengaturan dan pertolongan Gusti Allah, yaitu keyakinan hatinya terhadap kemampuan pihak yg jadi wakil yang menangani urusannya. 

Seperti keadaan kita saat kita mempercayakan uang kita diolah oleh seorang akuntan atau saat kita menginvestasikan uang kita pada usahanya orang. Maka kita yakin akan pihak yg kita pasrahi uang kita setelah kita mengetahui portofolio dan latar belakang pihak yg kita pasrahi.

  • Derajat keadaan orang yang tawakalnya terhadap Gusti Allah seperti keadaan anak kecil terhadap ibunya.

Yaitu kondisi anak kecil yang tidak mengenal orang lain, selain ibunya. Tidak berlindung dari kesulitan kecuali kepada ibunya. Tidak bersandar dan tidak menggantungkan segala keperluannya kecuali kepada ibunya. Jika melihat ibunya niscaya dirangkulnya. Jika ada sesuatu yang menimpa dirinya sewaktu ibunya tidak ada, maka ucapan yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah,”Ibu!”. Yang pertama kali tergerak dalam hatinya adalah ibunya. Dalam benaknya, dia benar-benar telah yakin terhadap pemeliharaan dan kasih sayang ibunya dengan keyakinan yang penuh. 

  • Derajat keadaan orang yang tawakalnya terhadap Gusti Allah, dalam setiap gerak dan diamnya seperti mayat di tangan orang yang memandikannya. 

Dia merasa tidak bisa berpisah dengan Gusti Allah karena melihat dirinya bagaikan mayat yang digerakkan oleh kekuasaan Gusti Allah yang azali. Seperti mayat yang digerakkan oleh tangan orang yang memandikannya. Inilah tingkat tawakal yang paling tinggi dari orang yang telah kuat iman dan keyakinannya bahwa sesungguhnya Gusti Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Penggerak.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *