Kealiman KH. Ali Mustafa Ya’qub tentang Hadist tak terlepas berkat dari didikan para gurunya yang Alim Al-Allamah. Beliau terdidik di Tebuireng, di tengah oase santri pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari. Banyak santrinya Hadratussyaikh yang meneruskan estafet keilmuan Hadist beliau. Di Tebuireng kala itu, masih banyak dijumpai Masyayikh-Masyayikh yang pernah menimba ilmu langsung kepada pendiri Pesantren Tebuireng. Seperti, KH. Idris Kamali (menantu Hadratussyaikh), KH. Shobari (Abdi Ndalem Hadratussyaikh), KH. Adlan Aly (Adik kandung Kyai. Ma’sum Aly), KH. Syansuri Badawi dan masih banyak lagi.
Diantra mereka semua yang meneruskan pengajian kitab babon, Bukhori Muslim adalah KH. Idris Kamali dan KH. Syansuri Badawi. Kyai. Idris memiliki cara tersendiri untuk mendidik santri-santrinya. Musyawarah dan sorogan kitab itulah metode yang dipilih Kyai Idris. Kyai Idris mengajar berbagai kitab besar, sesuai keinginan santrinya. Kyai Habib Ahmad (Qori’ Bukhori Muslim setelah KH. Syansuri Badawi) pernah mengatakan, bahwa Kyai Idris dan santri-santrinya setahun itu bisa mengkhatamkan Bukhori sebanyak 5 kali. Tentu bukan hanya Bukhori saja, tetapi dengan kitab-kitab lain juga.
Santri KSHC atau santri Cirebon-an memiliki andil besar di Tebuireng. Banyak diantara mereka yang membantu Pesantren Tebuireng dalam segala aspek, khususnya keilmuan dan pencak silat. Sebut saja, KH. Idris Kamali dan KH. Syansuri Badawi keduanya berasal dari Cirebon yang telah berjasa besar mendidik santri Tebuireng.
Memang para Qori’uul Kitab Bukhori Muslim di Tebuireng tidak mempunyai karya khusus dalam bidang Hadis, baik dalam ilmu Mustolahnya maupun metode memahami hadisnya. Akan tetapi KH. Syansuri Badawi menyinggung ilmu Hadis dan metode mengkompromikan (Al-Jam’u) dua hadis yang bertentangan. Beliau membahas itu dalam kitab karyanya, Kitab “Ushul al-Fiqh”, dalam pembahasan no dua belas. Judul lengkapnya:
(المبحث الثاني عشر- في الجرح والتعديل، والجمع في التعارض بين الدليلين والترجيح فيه بينهما)
Pembahasan ini ada sekitar Dalam 17 halaman, di dalamnya menguraikan:
- Jarh wa Ta’dil, pembahasan ini masuk dalam kajian ilmu Mustolah Hadis atau Ilmu Jarh wa Ta’dil. Di dalamnya beliau menjelaskan akan sifat-sifat diterimanya atau ditolaknya para perawi Hadis, seperti sifat ‘Adalah, Fasiq, Majhul Hal, Majhul Batin, Isytirok Fi al-Ism wa Nasab, Ta’ dil Rowi dengan keterangan satu pendapat dll.
- Ta’arudl baina Dalilain, pembahasan ini masuk dalam ranah kajian metodologi memahami Hadist yang saling bertentangan. Di dalamnya dijelaskan Khos, Amm, langkah-langkah untuk mentarjih Sanad dan Matan Hadis.
Selain dalam bab itu, Kyai Syansuri juga membahas sedikit tentang pembagian Hadis dan Hujjiyahnya dalam bab Dalil Utama Hukum Islam, pada sub bab “As-Sunnah”.
Secara tidak langsung Kyai Syansuri Badawi mewariskan ilmu Hadist nya dalam kitabnya Usul Fiqh. Tentu saja ilmu-ilmu itu beliau dapat dari guru besar Hadis, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dan Kyai Ali Mustafa Ya’qub salah satu dari santri Kyai Syansuri yang menekuni Hadist. Mungkin ketertarikannya beliau dalam menekuni ilmu Hadist karena kebesaran sang guru, KH. Idris Kamali dan KH. Syansuri Badawi.
رحمة الله تعالى عليهم جميعا.
Ditulis di atas Jabo pengganti wiridan tidur pagi

No responses yet