Semenjak munculnya pesantren-pesantran besar di kota Jombang, kota ini memiliki sebutan “kota santri”. Tebuireng, Tambak Beras, Rejoso, Denanyar telah meramaikan kajian kajian keagamaan di Jombang. Selain empat pesantren besar itu Jombang juga memiliki pesantren-pesantren kecil yang tak kalah aktif meramaikan pengajaran agama Islam. Sebut saja, Pacul Gowang dengan Tarbiyatun Nasyiin dan Al-Anwar-nya; Jogoroto dengan Hamalatul Qur’an-nya; dan pesantren-pesantran lain.
Di tengah ramainya kehidupan dunia di jantung kota Jombang, berdirilah pesantren di utara alun-alun Jombang yang bernama Pesantren Sunan Ampel yang beralamat di jalan Jaksa agung Suprapto no. 14 Jombang. Didirikan oleh cucu menantu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH. Mahfudz Anwar pada tahun 1956. Rumah peninggalan Belanda dibeli oleh beliau, dan dijadikan tempat perjuangan untuk “li I’lail Kalimat Allah” dengan didirikannya pesantren.
Setelah Kyai Mahfudz Anwar wafat pada malam Jumat, 20 Mei 1999, tampuk kepimpinan pesantren dipegang menatunya, KH. Taufiqur Rahman. Kyai yang berasal dari Jawa Tengah dan bekal ilmu yang diperoleh dari Kyai Mansur (Ayah Gus Qoyyum) di pesantren Lasem dan dari Tebuireng beliau telah mengembangkan pesantren Sunan Ampel dengan mendirikan unit pendidikan tingkat SLTP dan SLTA dan Markaz Toriqoh Qodiriyah wa Naqsaybandiyah.
Setiap pesantren tentu memiliki ciri khasnya masing-masing. Selain sebagai markaz Toriqoh Qodiriyah wa Naqsaybandiyah juga memiliki ke-khasan yang lain, salah satunya kajian khataman “Kutub as-Sittah” (Sohih Bukhori, Sohih Muslim, Sunan Abi Dawud, S. Tirmidzi, S. An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah) dengan kajian rutin setiap Ramadhan.
Bandongan, Sorogan, dan Musyawarah adalah sebagai metode pembelajaran di pesantren. “Kilatan” salah satu varian bandongan memiliki kesan lebih. Dengan kajian yang cepat dan tuntas banyak disukai oleh para santri. Kitab-kitab yang berjilid besar yang biasanya dikhatamkan selama setahun bahkan bertaun-tahun dengan “kilatan” ini lebih cepat khatam, setidaknya satu bulan atau dua bulan.
Pesantren “Kilat” banyak bermunculan di bulan Ramadhan. Karena kemuliaan Ramadhan para Masyayikh banyak yang bertabrukkan dengan kajian kitab kuning dan mengkhatamkannya di bulan penuh rahmat itu.
Tebuireng dengan ciri khasnya khataman “Bukhori Muslim”. Blokagung dengan ciri khasnya khataman “Ihya Ulumiddin”. Pesantren Sunan Ampel ini memilih istiqomah khataman “Kutub as-sittah”. Sepengetahun penulis jarang pesantren yang mengkaji “Kutub as-Sittah”, kebanyakan kajiannya terfokuskan pada Fiqh, Tasawuf, dan Tafsir dengan varian kitabnya.
Pengajian “Kutub Sittah” ini berlangsung rutin dan bergilir pada setiap tahunnya dengan satu kitab untuk dikhatamkan. Tahun ini Kyai Taufiq Mbalagh kitab Sunan Nasai, tahun depan baca kitab Ibnu Majah, kemudian tahun berikutnya dari awal lagi, yaitu Sohih Bukhori dan seterusnya. Jadwalnya, tahun 2021 Sunan Ibnu Majah, 2022 Sohih Bukhori, 2023 Sohih Muslim, 2024 Sunan Abi Dawud, 2025 Sunan Atturmudzi, 2026 Sunan An-Nasai. Jadi satu priode itu 6 tahun, selama 6 tahun itu khatam kutub as-Sittah.
Cucu Kyai Ma’sum Aly, Kyai Taufiq memulai kajiannya pada awal bulan Sya’ban dan dikhatamkan pada tanggal 21 Ramadhan. Karena “Kutub as-Sittah” itu berjilid jilid – minimal dua jilid, Sohih Muslim, Abi Dawud, dan Ibnu Majah- membutuhkan waktu dan tenaga yang extra. Pengalaman penulis ketika ikut ngaji Sunan Tirmidzi yang berjumlah 5 jilid besar, Kyai Taufiq dengan segala kesibukan, meluangkan waktunya untuk mengkaji karya monumentalnya Syaikh Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. Waktu yang dihabiskan untuk mengkaji Sunan Tirmidzi ini lebih dari 8 jam dalam sehari semalam. Dengan alokasi waktu: Jam 8 pagi hingga jam 10 an, Ba’da Dhuhur, Ba’da Asar dan yang anti mainstream jam 11 malam hingga jam 02.30 dini hari. (Khusus yang malam penulis selalu membawa kopi hitam untuk menghilangkan kantuk). Pengamatan penulis Kyai Taufiq disaat malam hari pada bulan Ramadhan full aktivitas, dari Setelah Tarawih beliau ngaji di Tebuireng, setelah dari Tebuireng dilanjutkan ngaji di rumah sampai seperti malam, dilanjutkan dengan Qiyam Lail dan Sahur.
Pengajian kilatan ini diikuti sebagian besar santri pesantren Sunan Ampel, mungkin yang unit SLTA; Santri-santri luar, dari Tebuireng atau Tambak beras; setra masyarakat umum.
Tradisi memberikan transisi keilmuan atau sanad juga dilakukan setelah pembacaan kitab selesai. Rata-rata sanad kutub sittah beliau dari Kyai Syansuri Badawi Tebuireng dan mertuanya, KH. Mahfudz Anwar. Pada malam ke-23 diadakan acara seremonial penutupan pengajian Ramadlan.
Diantra nasehat kyai Taufiq, “Ojo gampang mangkel lan loro ati, mergo lek mangkelmu lan loro atimu kewogo sampek mati angel Khusnul Khotimah. Dadio wong seng bener, ojo dadi wong seng rumongso pasti bener” pesan Dosen Unhasy dan Ma’had Aly.
Motivasi beliau mengaji kutub as-Sittah mungkin terinspirasi dari sabdabya Rasulullah.
اللهم ارحم خلفائي ، قيل : يا رسول الله ! ومن خلفاؤك ؟
قال : الذين يأتون من بعدي يروون حديثي وسنتي وَيُعَلِّمُونَهَا النَّاسَ
Ya Allah rahmati para khalifahku,sahabat bertanya:Ya Rasulallah,siapakah para khalifahmu?Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang datang selepasku meriwayatkan hadisku dan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia” .Riwayat Imam Al-Thabrani.
أطال الله عمره بالصحة والعافية ونفعنا الله بعلومه.
Ilham Zihaq
Di tulis di depan Ma’had Aly, di belakang Unhasy, disamping Museum. 4 Dzulhijjah 1441 H.

No responses yet