Kopi (Arab: qahwah, Inggris: coffee) merupakan minuman-sajian khas Nusantara-Indonesia yang kini telah mendunia. Arabika Gayo, Arabika Kintamani Bali, Arabika Toraja, Robusta, Arabika Flores Bajawa, dan lainnya adalah sejumlah jenis lokal asli kopi Nusantara-Indonesia yang telah mendunia. Di Indonesia kini telah muncul tradisi ‘ngopi’ di semua level dan kalangan (anak muda, keluarga, akademisi, pejabat, pedagang, buruh, dan seterusnya). Kini, menyeruput kopi telah menjadi tren dan tidak lagi disematkan hanya kepada kalangan usia senior (bahasa Medan: atok-atok). Bahkan, waktu (jam) menyeruput kopi juga tidak lagi dominan di pagi hari, namun di semua waktu dalam siklus 24 jam itu selalu ada halaqah-halaqah ‘ngopi’, plus Wi-Fi, di berbagai tempat dan sudut kota, di semua provinsi di Indonesia. Seiring waktu, ‘ngopi’, diyakini memiliki filosofi dan dipercaya memunculkan inspirasi.
Sementara astronomi (Arab: ‘ilm al-falak, Inggris: astronomy) merupakan disiplin ilmu mengkaji langit dan atau alam semesta. Astronomi telah ada dan berkembang sejak jagat raya ini terbentuk pertama kali. Secara praktis, astronomi merupakan kebutuhan primer sosial-spiritual manusia, khususnya bagi umat Islam yaitu terkait ritual-ritual ibadah seperti salat, puasa-hari raya, haji, dan lainnya.
Lalu, apa kaitan kopi (dan ‘ngopi’) dengan astronomi? Sekilas memang tampak tidak memiliki korelasi, namun jika di rasa dan telaah secara khidmat layaknya menyeruput kopi ‘asli’, sejatinya kopi dan astronomi punya identifikasi identik dan korelasi erat. Produk dan produksi kopi, dalam proses dan metamorfosisnya menjadi sebuah sajian minuman khas-berkualitas ternyata memiliki keunikan dan kekhasan proses dan analisis. Menurut para ‘ahli kopi’, tanaman kopi berkualitas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang umumnya bersifat alami seperti suhu, temperatur, ketinggian dari atas permukaan laut, dominasi tumbuhan lingkungan sekitar, dan lain-lain. Selanjutnya, segenap aneka dan cita rasa segelas kopi yang siap di seruput, terlebih dahulu ia melewati sejumlah proses dan olah yang dikenal dengan roasting atau pemanggangan (baik light roast, medium roast, dan dark roast) dan proses-olah lainnya. Para ‘ahli kopi’ (roaster) tentu sangat mengerti hal ini.
Hal yang sama juga berlaku dalam astronomi, untuk mendapatkan gambaran satu atau lebih dari benda langit sangat terkait dan atau dipengaruhi dengan sejumlah faktor teknologi dan alam, yaitu kondisi langit, topografi bumi, cuaca, kelengkapan dan akurasi alat (dalam hal ini teropong), sumberdaya manusia, dan lain-lain. Selanjutnya, tatkala dan atau setelah citra sebuah obyek benda langit (misalnya Nebula) di dapat melalui sebuah teropong (teleskop), maka untuk memperjelas citra Nebula tersebut agar layak ‘share’ diperlukan proses ‘roasting’ atau teknik astropotografi seperti teknik stack, stitch, startrail, timelapse, dan lain-lain. Para ahli astronomi dan astropotografer tentu juga sangat memahami hal ini.
Memandangkan proses kopi dan astronomi yang relatif sama ini, maka dapat dikatakan bahwa keduanya memiliki korelasi korelatif, dan keduanya tampak sama betapapun dengan obyek ‘roasting’ yang berbeda. Karena itu secara filosofi, kopi dan astronomi sejatinya berjalan seiring. Korelasi praktis keduanya diantaranya tampak tatkala meneropong langit, tak lupa ditemani dan diiringi dengan minum kopi. Atau, tatkala minum kopi, bersamaan mengkaji dan menelaah astronomi, lalu meneropong bintang di langit, lalu minum kopi lagi, demikian seterusnya. Karena korelasi dan simbiosis eratnya ini, agaknya menarik juga untuk menginisiasi membuat warung khusus bernama “Kopi Astronomi”, sebagai wadah ekspresi bagi para pecinta kopi dan astronomi.[] Penulis: Kepala OIF UMSU, penyuka dan penikmat kopi ‘asli’.

No responses yet