Ruhana Kudus (1884-1972) adalah ibu bangsa yang jarang disebut, meskipun kiprahnya tak terbilang. Tokoh dari Sumatera Barat ini layak disejajarkan dengan Raden Ajeng Kartini (1879-1904), Dewi Sartika (1884-1947), dan Nyai Siti Walidah (1872-1946). Ruhana Kudus adalah kakak tiri dari bapak bangsa Sutan Syahrir (1909-1966 ) dan sepupu Haji Agus Salim (1884-1954).

Di awal tahun 1911, Ruhana Kudus telah memelopori berdirinya sekolah keterampilan khusus perempuan, Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS). Selain membaca dan menulis, berbagai keterampilan diajarkan di sekolah yang terletak di Nagari Koto Gadang ini. Hasil kerajinan menjahit, merajut, dan menyulam kaum perempuan didikan Ruhana Kudus mampu diekspor ke pasar Eropa. Selain itu, Ruhana Kudus juga berinisiasi menggalang dana pendidikan untuk anak-anak Koto Gadang. 

Di tahun 1912, Ruhana Kudus berhasil merintis penerbitan surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda. Surat kabar ini diberi nama “Sunting Melayu” dan Ruhana Kudus menjadi Pemimpin Redaksinya langsung.  Di tahun-tahun berikutnya, Ruhana Kudus mendirikan sekolah di Bukittinngi. Sekolah ini menampung banyak murid, baik dari Bukittinggi ataupun daerah sekitar.

Di masa pergerakan merebut kemerdekaan, Ruhana Kudus semakin banyak menulis di surat kabar untuk membakar semangat juang. Di antaranya adalah surat kabar Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Majapahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia. Tak berhenti di situ saja, ketika pecah perang fisik dengan kolonial Belanda, Ruhana Kudus memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial bagi para gerilyawan.

Hingga tutup usia di 17 Agustus 1972, Ruhana Kudus terus mengabdi mengajar dan mendidik. Sebagi penghormatan, tahun 1974 Ruhana Kudus ditetapkan sebagai Wartawati Pertama Indonesia. Tahun 1987, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Ruhana Kudus sebagai Perintis Pers Indonesia. Yang terakhir, pada 8 November 2019, Ruhana Kudus ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional.

Jika para pendahulu itu sudah tak terbilang jasanya bagi bangsa Indonesia, lantas pantaskah jika kita lupakan? Pantaskah jika tidak kita timba spirit perjuangan dan pengabdiannya?

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *