Bagaimana jika : Umat tengahan (wasath), umat terbaik (khairu Ummah), dan umatan wahidah ( tunggal) terkoreksi oleh perilaku umat Islam sendiri yang terus berpecahan menjadi firqah kecil tapi beringas —-?

*^^^*

Demokrasi Indonesia pasca reformasi juga bernasib sama: bukannya ter konsolidasi tapi malah compang-camping tidak keruan dengan berbagai isu sektarian yang terus mengeras (Aspinall and Mietzner 2010; Fealy 2011)

Daniel S Lev memberi banyak bukti bahwa yang menjadi penyebab utama adalah arus informasi yang salah tentang praktik demokrasi yang kemudian diyakini menjadi penyebab intoleransi dalam berpolitik.

Meski diakui dalam banyak kajian berbagai kasus intoleransi politik justru kerap bias dan tidak jeli mengilustrasikan realitas— lantas apa soal besarnya? Bagaimana mengukur intoleransi politik itu terhadap praktik demokrasi. Sebab bagaimanapun isu tentang sektarian jauh lebih menjual dan cepat laku di pasar politik.

*^^^*

Kelompok kelompok yang menggunakan isu ini cukup diuntungkan karena militansi para pengikutnya. Tapi apakah bisa menyelesaikan masalah ? Kabar buruknya : tidak sama sekali. Bahkan sebaliknja konflik dan selisih terus membakar dan tidak ada tanda bakal berakhir. Bahkan ironisnya isu sektarian dan primordial kerap berbalik saling menyerang.

Negara-negara yang menggunakan isu sektarianisme dan primordialisme justru negara dengan reputasi demokrasi paling buruk. Sebut saja: Yaman, Iraq, Afghan, Mesir, Aljazair dan Libya adalah contoh buruk bagaimana sektarian mendominasi dan gagal menciptakan stabilitas politik dan sosial.

Gelombang besar sektarianisme dalam praktik demokrasi di Indoenesia telah melahirkan intoleransi politik — inilah problem besarnya ? Jadi yang dihadapi sekarang adalah prilaku politik masyarakat yang sedang berproses dalam sebuah tahapan yang mengerikan, jika dibiarkan tumbuh dalam praktik demokrasi. Tapi siapa bisa cegah ?

*^^^*

Sikap PP Muhammadiyah tetap kritis meski tak ikut turun aksi adalah cermin sikap politik inklusif, kooperatif dan terbuka— suasana kebatinan th 1912 masih sangat kental terasa,’meski dengan berbagai soal yang dihadapi.

Setidaknja Muhammadiyah berikhtiar menciptakan suasana kondusif, sembari terus melakukan ikhtiar politik yang bermartabat. Konsistensi sikap ini perlu diambil, meski dirasa kurang populair atau bahkan ada yang menganggap lemah kurang gerget, tapi disitulah letak sejatinya politik tinggi yang diperankan dengan strategis dan taktis, untuk menjaga keutuhan umat.

Sampai disini Muhammadiyah mengambil peran penting menjaga tolerasi politik dalam praktik demoktasi yang santun dan beradab —

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *