Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Shofar, bulan kedua dalam kalender hijriyah.
Di hari ini diyakini oleh beberapa kalangan sebagai hari yang dipilih Allah untuk menurunkan 320 ribu bala’ untuk tahun tersebut. Maka para ulama melakukan sholat daf’ul bala’ dengan bacaan al-Kautsar 17 kali rokaat pertama, al-Ikhlash 5 kali rokaat kedua, al-Falaq rokaat ketiga, dan an-Nas rokaat keempat, dan bersedekah, serta menguatkan munajat kepada Allah SWT.
Landasan
Paling tidak, keyakinan ini disandarkan pada beberapa rujukan yaitu : 1). Kitab Kanzun Najah wa Surar fi Fadlail al-Azmina wa Syuhar, karya Mufti dan Imam Masjidil Haram awal abad 20 Imam Abdul Hamid Quds. 2) Kitab Al-Jawahir al-Khams karya Syech Muhammad bin Khathiruddin al-Atthar wafat 970 H. 3) Kitab Mujarrobat ad-Dairobi karya Syech Ahmad bin Umar ad-Dairobi wafat 1151 H. Dan lain-lain.
Bolehkah kita meyakininya?
Meyakini boleh tapi jika tidak juga tidak membuatnya berdosa. Masalah turunnya 320 ribu bala’ ini bersumber dari ilham yang diperoleh para aulia dan ahli kasyaf.
Kalaupun kita tidak mau meyakininya, ya tidak berdosa karena ilham bukanlah wahyu yang mutlak harus diikuti. Dan jikapun kita meyakininya tentu karena kita mengakui kalau ilham Allah kepada kekasihnya akan tetap ada sampai hari kiamat. Ilham bukanlah wahyu dimana kalau wahyu sudah berakhir dengan berakhirnya kenabian. Sedangkan ilham adalah anugerah, karomah atau ma’unah yang Allah turunkan sesuai kehendak-Nya. Apalagi ilham kepada para kekasih Allah (aulia) baik lewat rukyah shodiqoh maupun lewat mukasyafah. Ini diperkuat dengan permulaan hari sakitnya baginda Rosulullah yang terjadi di hari Rabu terakhir bulan safar. Dan para ulama meyakini kalau hal itu tidaklah terjadi secara kebetulan.
Bagaimana dengan Sholat?
Jumhurul ulama sepakat kalau sholat khusus daf’ul bala’ di Rebo Wekasan itu tidak ada dasarnya.
Akan tetapi bukan berarti tidak boleh sholat. Hanya saja jalan tengahnya adalah; melaksanakan sholat sunnat muthlaq dengan hajat agar Allah melindungi kita dari berbagai bencana. Bukankah Allah menegaskan :” was ta’ienu bi shobri wa sholah “
Adapun sadekah kita laksanakan sepanjang tahun jika ada kesempatan. Salah satu fungsi sadekah adalah mencegah (daf’ul bala’) bencana, sabda Rosulullah. Hanya saja momentum Rebo Wekasan adalah event yang tepat untuk memperbaharui himmah bersedekah. Walaupun tetap kita meyakini bahwa semua hari sepanjang tahun adalah sama dalam pandagan al-Kholiq.
Ngapem di Rebo Wekasan
Di beberapa daerah seperti Cirebon, Majalengka dan daerah sekitarnya ada tradisi ngapem. Ngapem adalah membuat kue apem untuk disadekahkan kepada para tetangga.
Ngapem bentuk rasa syukur kepada Allah atas ‘inayah-Nya kepada kita.
Ngapem berasal dari kata apem yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Selain untuk mengekspresi syukur apem juga bermakna selametan di bulan Safar atau berharap selamat dan terhindar dari malapetaka.
Pesan moral dari Apem dan Kinca adalah simbolisasi yang melambangkan kepedulian kita kepada fakir miskin, tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempererat tali silaturahmi.
Apem atau Cimplo yang disandingkan dengan gula kelapa (kinca) juga melambangkan diri kita, sedangkan kinca melambangkan darah. Dengan sadekah apem, makna simboliknya adalah haràpan besar agar tubuh kita yang tercelupi (teraliri) darah bisa selamat dari bencana dengan izin Allah SWT. Makanya kue apem saat dimakan, biasanya dicelup atau dialiri kinca.
Wallahu a’lam. Wa ilaihi hasbuna wa roji’una

No responses yet