Sebab-sebab munculnya cinta itu bisa dijelaskan dalam beberapa poin, antara lain :

1. Timbul karena terkesan dengan hasil kebaikan, kemuliaan dan kekuatan hal-hal tersebut. Maka cinta perlu adanya makrifat, yaitu memahami sisi keindahan yang dihasilkan oleh yg dicintai.

2. Timbul karena merasakan ada manfaat yg diraihnya dari hasil kebaikan yg dicintai tersebut. Bermula dari makrifat, lalu idrok atau kesadaran hadirnya manfaat dari wujud, yang menghasilkan kesan positif tentang sisi indah hal yg dicintai.

3. Timbul karena yang dicintai itu memiliki semua poin-poin kebaikan yg jadi patokan kebaikan. Saat seseorang punya pemikiran sendiri tentang keindahan yang ideal, lalu dia menemukan keindahan ideal itu pada seseorang, maka timbullah cinta.

4. Timbul karena terpikat diri pribadi yang dicintai tersebut. Kalau cinta sudah timbul karena terpikat dirinya (dzatnya), bukan hasil kebaikannya, maka akan muncul cinta yang mendalam.

Cinta yang dalam (isyq) itu tandanya bila :

a. Yang dicintai itu sangat mendominasi pikiran sehingga selalu menghubungkan apapun yg dilihat dgn yg dicintainya, hanya melihat sisi indah yg dicintainya, selalu disebut di pikiran dan membenci sesuatu yg mencederai pikirannya itu.

b. Merasakan betul betapa tulusnya kebaikan yang dicintai itu kepada dirinya. Ada pepatah

الإنسان عبد الإحسان

“Seseorang itu jadi hamba perbuatan baik orang lain”

Saat si A itu tersentuh dgn kebaikan si B, si A itu selamanya akan fanatik pada si B, apapun yg terjadi.

c. Tidak butuh dibalas cintanya. Muncul senang atas apapun yang ditimbulkan oleh cintanya, bahkan pada hal yang merusak dirinya. Karena di matanya, baik atau buruk, itu semua dianggap curahan cinta dari yang dicintai yg selalu hadir.

Nah, cinta yg benar adalah jika kecintaan pada sesuatu itu berujung pada kecintaan pada Gusti Allah. Misal kita melihat ulama, cinta kebaikannya lalu ikut mencintai yg dicintainya yaitu Gusti Allah dan Rosul-Nya. Itulah hakikat cinta karena Gusti Allah.

Maka kita patut ikut bersedih sekaligus ikut senang dengan kabar meninggalnya banyak ulama kita akhir-akhir ini. Termasuk kabar syahidnya Syeikh Adnan Afyouni, Mufti Damaskus, teman akrab Habib Luthfi bin Yahya, yg semalam waktu setempat sedo karena mobil yg ditumpangi beliau meledak oleh bom yg ditanam di mobilnya.

Kita sedih karena kita menangisi diri sendiri yg kehilangan panutan yang kita cintai sehingga tidak bisa melihat lagi kebaikan para ulama itu. Sekaligus ikut senang karena mereka telah bertemu dengan yang mereka cintai yaitu Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Untuk semua ulama kita yang telah wafat, lahumul Faatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *