Tuhan itu Maha segalanya artinya kita tidak mungkin membatasi sifat ke Maha-an-Nya cuman dalam benak, apalagi pikiran. Karena ruang benak dan pikiran kita sangatlah terbatas. Mari kita ambil contoh dari satu sifat ke-Maha Kuasa-an Nya. Allah adalah pencipta hidup dan mati. Dari satu sifat ini saja akan sangat banyak sekali “kontradiksi” yang terkadang tidak masuk akal bagi mereka yang nalar pengetahuannya sangat terbatas. Alih-alih menerima sifat itu, dia akan protes dengan pertanyaan bagaimana mungkin Dia yang menghidupkan dengan rasa Cinta bisa tega mematikan dengan adzab yang menyakitkan?
Hari-hari terakhir ini ummat Islam sedang mendapatkan fitnah yang cukup merepotkan logika keimanan. Yaitu munculnya kembali karikatur yang menghina Nabi Muhammad di Perancis. Peristiwa ini seharusnya memang tidak terjadi jika manusia saling menghargai kesucian hati. Akan tetapi kejadian ini tidak mungkin lepas dari skenario Tuhan. Mungkin Tuhan yang Maha Segalanya sedang memaksa kita agar bisa berpikir lebih jernih dengan akal budi kita. Bukan dengan nafsu kita. Sebab harus diakui ummat dalam beberapa dasawarsa terakhir ini lebih sering digiring untuk bersikap dan bertindak tanpa nalar iman dan akal. Ummat lebih sering disodori dengan tayangan dan teladan yang bersumber pada nafsu kemarahan dan kecintaan pada kehidupan dunia. Coba lihatlah reaksi para tokoh “agama” hasil “pengkarbitan” media. Mereka bersuara lantang penuh amarah yang jauh dari akal dan nurani. Menghujat, mengancam, dan merusak ahlaq yang diajarkan Rasulullah pada ummatnya tanpa berpikir. Entahlah, mereka ini sedang meniru Sunnah nabi siapa? Jangan-jangan ini ajaran dan ajakan iblis yang sedang berpura-pura mencintai nabi karena “iblis” sudah lelah gagal membujuk ummat untuk membenci Nabi.
Sebab dengan strategi ini mereka merasa lebih mudah untuk berhasil merusak Islam dari dalam. Maka apa yang kita khawatirkan akhirnya memang terjadi. Atas bisikan iblis muncullah orang-orang yang (mengaku Islam) tetapi malah merusak Islam dengan penuh kebanggaan dari dalam. Mereka melakukan kekejian dengan melakukan pembantaian terhadap orang lain yang dianggap menghina nabi tanpa proses pengadilan. Padahal Islam adalah agama yang sangat menekankan pada proses dan spirit keadilan yang Universal. Islam mengajarkan bahwa tidak ada keadilan tanpa pengadilan. Artinya semua proses penghukuman tanpa proses pengadilan yang sah dan adil adalah tindakan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.
Perancis dengan segala kesekuleran dan keliberalannya adalah negara yang menjadi tujuan para imigran “muslim” yang hidupnya tidak “aman” di asal negaranya yang konon mayoritas beragama Islam. Kenapa merasa tidak aman di negaranya sendiri yang mayoritas penduduknya beragama Islam? Karena orang Islam sendiri mayoritas hidup tanpa ajaran Islam. Sebaliknya di negara-negara yang konon mayoritas penduduknya adalah “kafir” nilai dan ajaran Islam justru berkembang subur. Maka menjadi wajar jika mereka yang merasa tidak aman itu hijrah ke negara yang lebih Islami. Problemnya mereka yang hijrah itu tidak semuanya benar-benar hijrah karena Allah dan Rasul-nya. Tetapi sebagian karena motif duniawi. Mereka inilah yang sekarang menyebarkan ajaran Islam yang berwajah penuh kedengkian, kebencian, kekerasan dan kebengisan. Sebuah bid’ah yang dilarang oleh Allah dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Masihkah pantas mereka mewakili Islam yang rahmatan Lil aalamin?
Kekejian yang dilakukan oknum yang mengaku muslim dengan melakukan tindakan pembantaian pada orang yang mereka anggap salah tanpa proses “pengadilan” telah merusak wajah Islam yang ramah atau moderat. Harus diakui memang ada trend keber-agama-an yang berkembang diluar jalur Cinta yang diajarkan nabi Muhammad. Entah dari mana datangnya bid’ah kebencian ini? Tetapi, yang jelas trend ini muncul dari rasa iri hati dan dengki kepada nikmat duniawi yang diperoleh orang lain. Sejarah kebencian ini memang sangatlah kompleks, karena kait mengait dengan persaingan kekuasaan politik yang tumpang tindih dengan keyakinan dan juga peradaban. Hampir semua peradaban besar memang punya latar sejarah konflik yang berdarah-darah (Persia, Mesir, China, Byzantium, Romawi dan juga Islam). Tetapi hal ini tidak boleh dijadikan pembenaran bahwa manusia harus berperang agar lebih berperadaban. Apalagi dengan alasan agama. Sebab agama apapun sebenarnya melarang ummatnya menebarkan kebencian dan peperangan. Sebaliknya setiap agama justru mendorong manusia agar bisa lebih hidup aman, damai dan jauh dari peperangan yang merusak tatanan kehidupan alam dan kemanusiaan. #SeriPaijo Tawangsari 6 Nopember 2020

No responses yet