قال سيدي الشيخ علي جمعة:
و قضية الثياب مرتبطة ارتباطا وثيقا بعادات القوم، و بالنسبة للواقع المصري فالانسب له أن يلتزم رأي الجمهور, لان غطاء المرأة وجهها مستغرب في مجتمعنا المعاصر و يتسبب في شرذمة للعائلات.
Syekh ‘Ali Jum’ah:
Perkara busana erat hubungannya dengan kebiasaan suatu masyarakat. Adapun masyarakat Mesir, maka selayaknya agar mengikuti pendapat mayoritas ulama (yaitu aurat wanita seluruh tubuh kecuali 2 telapak tangan dan wajah).
Karena perempuan yang menutupi wajahnya sudah menjadi hal yang dianggap asing di masyarakat kita yang sekarang. Dan akan menjadikan dia kelompok minoritas dikalangan keluarganya.
أما المجتمعات الأخرى التي يتناسب معها مذهب الحنابلة, فلا بأس بأن تلتزم النساء فيه بهذا المذهب لموافقته لعاداته و عدم ارتباطه بتدين المرأة، و انما جرى العرف عندهم و العادة أن تغطى المرأة وجهها.
Adapun masyarakat yang lain, yang kebiasaan mereka cocok dengan Mazhab Hambali (yang mengatakan bahwa cadar wajib) maka boleh hukumnya jika perempuan mengikuti Mazhab tersebut karena adanya kesesuaian dengan kebiasaan masyarakat. Dan keadaan masyarakat juga sudah menganggap perempuan yang menutupi wajah merupakan bentuk adat sekitar.
و لذا فنرجح مذهب الجمهور و هو جواز كشف الوجه و الكفين و تغطية ما عدا ذلك من جسد المرأة، كما نرى أن غطاء الوجه اذا كان علامة على التفريق بين الأمة أو شعار للتعبد و التدين فإنه يخرج من حكم الندب أو الإباحة إلى البدعية فيكون عندئذ بدعة. خاصة إذا تم إستخدامه في أشياء ما أنزل الله بها من سلطان. و الله تعالى أعلى و أحكم.
كتاب البيان لما يشغل الأذهان ج ١ ص ٣٥٣-٣٥٤
Oleh karena itu, kami mentarjih (menguatkan) Mazhab mayoritas ulama; yaitu diperbolehkannya memperlihatkan wajah dan kedua telapak tangan, dan menutupi bagian tubuh selain keduanya dari tubuh perempuan.
Begitu juga kami memandang bahwa jika tujuan menutup wajah adalah untuk memecah belah umat, atau menjadikannya syi’ar bentuk ibadah dan beragama, maka itu membuatnya berganti hukum, yang bermula anjuran atau diperbolehkan menjadi hal yang bid’ah. Lebih-lebih jika cadar digunakan untuk hal-hal yang tidak pernah Allah turunkan perintahnya. Wa Allah ‘ala wa ahkam.
Kitab al-Bayan karya Syekh ‘Ali Jum’ah jilid 1 hal 353-354.

No responses yet