Sejarah adalah salah satu hal yang sangat penting untuk dipelajari. Bahkan Al-Qur’an juga mengabarkan sejarah orang-orang terdahulu dengan berbagai macam ibarat.

Syaikhona Maimoen Zubair menjelaskan bahwa Al-Qur’an disebut dengan “Sab’an Minal Matsani” salah satunya dikarenakan mengandung tujuh hal yang diulang-ulang dengan metode yang berbeda-beda. 

Ketujuh hal tersebut adalah:

1. Perintah (Amar).

2. Larangan (Nahy).

3. Kabar gembira (Bisyaroh).

4. Ancaman (Nidzaroh).

5. Keesaan ALLOH (Tauhid).

6. Perumpamaan (Matsal).

7. Sejarah atau hikayat (Qoshosh).

Saat di Pondok Pesantren Al-Anwar dulu, satu tahun sebelum menikah, saya diberikan tugas untuk mengajar kitab sejarah Bani Abbas. 

Dalam kitab “Al-Mausu’ah Al-Muyassaroh Fi Al-Tarikh Al-islami” disebutkan tentang pentingnya taktik untuk menghadapi suatu permasalahan yang berpotensi menjadi hoaks.

Suatu siang Khalifah Al-Mahdi didatangi seorang pria yang membawa sepasang sandal.

“Wahai, Khalifah! Ini adalah sandal Rasulullah saw. Saya hadiahkan sandal ini kepadamu,” ujar pria itu.

Khalifah Al-Mahdi pun memerintahkan agar sandal itu diserahkan kepadanya. Ketika sandal itu sudah dipegang Al-Mahdi, beliau mencium sandal itu dan meletakkannya ke kedua matanya. Ia pun mengambil sandal itu dan memerintahkan agar pria itu diberi uang sepuluh ribu dirham.

Setelah pria itu pergi, Al-Mahdi berkata kepada pengawalnya, “Jangankan memakai sandal ini, Nabi melihat sandal ini saja tidak pernah. Lantas kenapa aku mencium sandal ini?”.

Al-Mahdi menoleh kepada para pengawalnya, “Aku menciumnya karena aku takut pria itu keluar ke pasar dan berkata: “Wahai, Kawan-kawan. Al-Mahdi tidak mau aku menerima hadiah dariku yang berupa sandal Nabi”. Rakyat pasti akan membenarkan pria itu. Karena rakyat cenderung membela orang lemah. Maka aku beli mulut pria itu sepuluh ribu dirham. Aku rasa hal ini lebih baik dan lebih maslahat.”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *