Sejak masih dalam kandungan, saya sudah “akrab” dengan habib. Emakku pernah bercerita kepadaku, saat beliau mengandungku, di usia kandungannya yang jelang melahirkan, datanglah seorang ke rumah kami di desa. Dengan wajah kearaban dan memperkenalkan diri sebagai habib, beliau menunjuk ke perut Emak dan berkata, “Nanti kalau lahir beri nama Al Amin.” Selang sekian minggu, Emakku melahirkanku, lalu Bapakku memberi saya nama Ainur Rofiq Al Amin. Jangan tanya, kok tahu nanti si bayi adalah laki-laki? Hal seperti itu bukan suatu yang musykil bagi yang ahli. Saat ini saja banyak ahli juga bisa mendeteksi janin yang ada dalam kandungan. Beda ilmu saja, tapi sama berguna untuk deteksi.
Walhasil sejak masih di kandungan, saya sudah “akrab” dengan habib. Maka tentu saya mencintai habib.Tidak hanya habib, saya juga mencintai Anda (termasuk saya mencintai santri, anak kandung, mahasiswa). Saya juga mencintai orang HTI, orang FPI, mencintai anak turun PKI bahkan mencintai seluruh umat manusia dan seluruh semesta.
Saat saya mencintai anak atau mahasiswa, maka apapun yang kita lakukan entah dalam bentuk pelayanan, teguran, nasehat, bahkan “slentikan” atau lebih dari itu, semuanya di bawah naungan cinta kepada mereka.
Begitu juga makna cinta kepada orang tua yang jelas dalam hadis disebut ridha maupun benci Allah terkait erat dengan orang tua, itupun kita tidak boleh taat saat diajak maksiat. Sekalipun demikian, bila orang tua bermaksiat, kita tetap mencintai dan tetap memberitahu bila keliru.
Kalau dengan orang tua saja demikian, maka makna cinta kepada habib juga sama. Memberi masukan bila ada keliru. Habib bisa keliru? Tentu, kecuali kalau dianggap maksum. Habib Al Hamid Al Husaini menulis, “Kami merasa sangat prihatin mendengar berita-berita tentang peristiwa yang dahulu pemah terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu adanya sementara kaum muda dari golongan ‘Alawiyyin yang tidak terpelajar dan tidak memperoleh pendidikan agama secara baik, mempergunakan silsilahnya sebagai keturunan Ahlul Bait Rasulullah saw. untuk memperoleh keuntungan tertentu.”
Habib adalah keturunan Nabi sebagaimana banyak kiai juga keturunan Nabi. Maka habib yang alim dan berakhlak kita hormati sebagaimana kita menghormati kiai. Ambil contoh Habib Lutfi maupun Habib Quraish Shihab. Beliau pribadi agung yang berilmu dan berakhlaq. Tentu banyak juga kiai yang berilmu dan berakhlak. Terlebih kiai-kiai kampung banyak yang alim dan berakhlak, mereka khumul. Namun tetap saja ada orang yang digelari kiai dan keluar rel, tentu perlu diingatkan.
***
Namun harap diketahui, semua habib sekalipun keturunan Nabi, tapi bisa dikata mereka bukan ahlul bait bila dikaitkan dengan penafsiran ayat yang dibaca di tengah acara tahlilan, yakni surat Al Ahzab 33. Beragam pendapat tentang ahlulbait dari ayat di atas. Ada yang menafsiri dengan 5 orang, atau ditambah istri Nabi, atau ditambah Bani Hasyim, atau semua orang yang dekat dengan Nabi baik kerabat maupun sahaya.
Bila penafsiran diambil yang pertama dan kedua (lima orang mulia plus para istri), maka para habib yang ada saat ini bukan ahlul bait dalam konteks ayat di atas. Sehingga bisa dikata para habib adalah keturunan ahlul bait Nabi atau keturunan Nabi, tapi bukan ahlul bait dalam konteks sebagian penafsiran dari ayat di atas.
Tentu Anda bisa memilih pendapat lain juga. KH. Abdullah Nuh menulis, Syaikh Al-Akbar Sidi Muhyiddin bin Al-‘Arabi, pada bab ke-29 dari kitabnya, AI-Futahat AI-Makkiyyah, mengatakan antara lain, “Karena Rasulullah Saw. beserta Ahlulbaitnya adalah para hamba yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah Swt. maka telah dihilangkan pula segala kotoran (al-rijs) dari pribadi mereka. Yang dimaksud aI-rijs (kotoran) ialah apa saja yang dapat membuat mereka buruk, sebagaimana yang lazim terdapat di dalam masyarakat Arab. Oleh karena itu, kepada “Ahlulbait’ tidak dapat dimasukkan orang lain sebagai tambahan, kecuali yang benar-benar telah disucikan Allah. Sebab, hanya orang yang seperti mereka (Ahlulbait) sajalah yang dapat dimasukkan ke pengertian “Ahlulbait’. Mereka sendiri tidak memasukkan orang lain ke dalam lingkungannya selain orang yang oleh Rasulullah sendiri telah dipandang suci. Dalam konteks ini. Salman Al-Farisi telah disebut oleh beliau Saw., “Salman adalah dari kami, Ahlulbait!’
Walhasil, jumlah tokoh ahlul bait sebagai junjungan tertinggi adalah terbatas, semisal dalam Barzanji setelah memuji Rasul lalu menyebut Sayyidina Ali dan dua cucu serta Imam Zainal Abidin, Al Baqir, Ja’far Sodiq dan Ali. Dalam Syiah Imamiyah ada 14 manusia suci (Nabi dan Fathimah serta 12 imam). Demikian juga dalam Syiah Zaidiyah ataupun dalam aliran lain.
***

Foto buku-buku ini kaya rujukan kitab berbahasa Arab dan dalam koridor kajian komparatif serta kritis tentang ahlul bait (kecuali foto buku yang berbahasa Arab itu adalah kitab sejarah silsilah).
Kalau hanya berpegang satu kitab, lalu membuat statatemen konklusif tentang habib, saya kira nanti bisa kayak HTI yang karena ada kajian khilafah di kitab kuning lalu diklaim kita saat ini harus menegakkan khilafah.
***
Mbah Kiai Wahab Chasbullah Tambakberas Jombang dekat dengan habib, terbukti memberi ijazah kepada habib (baca kisah di FB saya sebelumnya). Bahkan ada seorang habib yang menyerukan agar semua habib di Indonesia berterima kasih kepada Mbah Wahab.

No responses yet