“Pencitraan”, demikian ungkap seseorang yang ada di sebuah WA grup yang saya ikuti, terkait aktivitas menulis saya setiap hari, lebih tepatnya setiap pagi yang saya share di grup tersebut.

Memang dia tidak secara langsung menyampaikan di grup, tetapi melalui salah seorang anggota grup yang lain.

Saya jawab melalui tulisan ini, “benar, memang pencitraan”. Untuk menunjukkan citra diri saya sebagai penulis. Saya ingin menunjukkan dan menahbiskan kepada khalayak bahwa saya ini seorang penulis. Dengan demikian jelas citra diri saya.

Saya tidak tahu apa citra diri komentator tersebut. Meski saya tahu persis siapa dia. Tapi, tidak penting bagi saya menyematkan citra diri kepada siapa pun. Biarlah orang menilai sendiri.

Baik, kembali ke ungkapan di atas, yang saya jadikan judul tulusan di atas. Secara sederhana, makna ungkapan di atas adalah: Apa pun yang dikatakan orang lain tentang kita, jangan sampai menjadi penghambat kemajuan kita. Jika itu berupa pujian, jangan sampai membuat kita tinggi hati, sehingga berpuas diri. Jika itu berupa cacian, jangan sampai membuat kita sakit hati, kemudian patah semangat dalam menjalani hidup ini.

Makna lain dari ungkapan di atas adalah: Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang datang silih berganti dalam proses perjuangan kita meraih impian serta cita-cita, jangan pernah membuat kita berhenti melangkah, kita harus tetap melangkah pasti menuju impian dan cita-cita yang telah kita rencanakan. Anggaplah semua rintangan dan hambatan itu sebagai penempa mental kita, pendewasa sikap kita, ‘bumbu penyedap’ yang akan semakin menguatkan cita rasa kesuksesan kita kelak.

The show must go on. Abaikan segala aral melintang yang menghalangi impian dan cita-cita kita meraih sukses dalam hidup ini. Jalan terjal nan berliku yang kita lalui, akan menjadi cerita indah ketika kita sukses di kemudian hari nanti.

Agama mengajarkan kepada kita sikap tulus, ikhlas dalam beramal. Hanya berharap rida Tuhan bukan yang lainnya. Karena hanya dengan mengharap rida-Nya, kita akan tenang dan nyaman dalam beraktivitas. Baik dalam pekerjaan sehari-hari, lebih-lebih dalam beribadah.

Tepat sekali apa yang pernah diungkapkan oleh Sang Gerbang Pengetahuan (Pintu Kota Ilmu), Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah: “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Dalam ungkapan lain, Imam Al-Syafii rahimahullah menyebutkan, “Ridla al-Naas ghayatun la tudrak.” Berharap semua orang rida kepada kita adalah sebuah utopia (tujuan yang tak mungkin dicapai)”.

Benderang sudah bahwa satu-satunya harapan yang harus terus kita tanamkan dalam diri adalah rida Tuhan. Usah pedulikan pendapat dan komentar orang.

Mubazir membuang energi, pikiran dan perasaan untuk hal-hal remeh temeh yang hanya akan merusak hidup kita. Terlalu banyak hal penting yang harus kita lakukan untuk berkhidmat kepada sesama dan mengabdi kepada Tuhan.

Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Anggap saja angin lalu, suara-suara sumbang itu.

Jalan kesuksesan memang tidak datar, melainkan terjal dan berliku. Di kanan kiri bertabur onak dan duri. Tetapi jika kita jalani penuh percaya diri dengan terus menautkan hati pada Ilahi, maka kesuksesan hanyalah soal waktu.

  • Ruang Inspirasi , Sabtu, 28 November 2020.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *