Ada “kelompok” minoritas yang mempunyai pemikiran aneh, memandang pihak mayoritas “rendah”, dan serasa mereka paling berada di rel Tuhan. Maka cacian, sumpah serapah, berkata jorok bahkan olok-olok kekurangan pisik pihak yang bersebrangan di panggung ceramah agama yang mulia dianggap absah, afdhol dan Tuhannya akan sangat bangga kepada mereka.

Kelompok ini saat wabah covid terjadi akan mengentengkan bukan karena kemantapan hati yang sembodo, tapi lebih pada kesombongan berselubung merasa dekat Tuhan. Maka saat di panggung ceramah mereka menganggap ringan dan berpidato dengan isi yang tidak pantas didengarkan anak-anak kecil, apalagi anak-anak santri.

Bilamana kelompok ini kena covid, mereka akan berupaya menyembunyikan dan lari terbirit-birit yang mungkin karena malu dengan “sesumbar” di mimbar agamanya. Baginya sangat aib kena covid.

***

Beda lagi bagi pihak yang memandang covid adalah pagebluk  yang bisa menimpa orang baik, setengah baik hingga tidak baik. Maka pihak ini tidak malu kena covid bahkan akan mengumumkan diri secepat mungkin agar tidak menulari yang lain, bukan harus menempuh jalur petak umpet dulu hingga terdesak.

Mereka juga punya pandangan teologis kesyahidan bagi yang meninggal karena wabah covid.

Kiai Said, Nyai Munjidah dan Gus Ipul ada di kelompok yang secara gentle mengumumkan diri karena beliau menyadari tokoh publik banyak ketemu orang. Mari kita doakan yang positif semoga sembuh dan masyarakat Indonesia  bisa kebal pada akhirnya. Alfatihah…

***

Foto para kiai dan gus Tambakberas bersama tiga tokoh publik yang kena covid dan mengumumkan diri. Ketiga tokoh yang kena covid adalah ketua PBNU, mantan wakil gubernur (Gus Ipul) dan Bupati Jombang (Nyai Mundjidah Wahab).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *