Oleh: Amrini Hayatul Isma (Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa manuskrip adalah (1) Naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi berbagai masih tersimpan di museum dan belum pernah diselidiki; (2) Naskah baik tulisan tangan (dengan pena, pensil) maupun ketikan (bukan cetakan). Manuskrip merupakan karya atau naskah lama yang ada didalamnya terdapat cerita kisah-kisah jaman terdahulu, dan terdapat ajaran-ajaran ilmu pengetahuan jaman terdahulu tentang nasihat pengajaran.
Deskripsi Naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri
Naskah manuskrip dengan berjudul Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri dikarang oleh Engku Haji Ahmad atau yang dikenal dengan sebutan Raja Haji Ahmad Thabib. Beliau merupakan seorang pengarang yang terkenal pada penulisan beberapa karangannya. Bentuk teks naskah yang digunakan dalam Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri adalah berbentuk syair. Menurut para ahli, Liaw Yock Fang menyebutkan bahwa Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang terdiri dari empat baris pada tiap bait dan setiap baris yang merupakan satu bagian dari sebuah puisi yang lebih panjang. Pada naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri, termasuk syair nasihat atau termasuk dalam jenis syair agama. Syair nasihat merupakan jenis syair agama yang dimaksud untuk memberikan pengajaran dan nasihat kepada pendengar atau pembacanya. Berdasarkan dalam isi naskah ini, terdapat pada cover belakang naskah, yaitu terdapat pada tanggal 16 Syawal 1349 Hijriah. Bahwa pada naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri memiliki umur naskah yaitu 89 tahun. Tempat penyimpanan naskah ini tersimpan disebuah tempat di Balai Maklumat Kebudayaan Melayu Riau, naskah ini juga sudah didigitalisasikan dan dapat bisa dilihat pada internet web yaitu British Library, https://eap.bl.uk/archive-file/EAP153-13-31.
Setelah peneliti survei, bahwa pada ukuran naskah digital Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri memiliki ukuran lembaran naskah P X L = 20,5cm x 16,5cm, ukuran ruang teksnya yaitu memiliki P x L = 17,5cm x 14,5cm. Pada naskah digital ini memiliki ketebalan 65 halaman dengan 2 halaman sampul depan dan 2 halaman sampul belakang,dan memiliki 1 halaman kosong pada bagian belakang serta memiliki 60 halaman berisi teks. Kemudian, peneliti melihat bahwa keadaan isi naskah teks tersebut masih dengan keadaan naskah yang utuh dan masih dapat terbaca tulisannya dengan dirawat sangat baik. Akan tetapi, memiliki adanya tembusan tinta dari halaman sebaliknya membuat tulisannya menjadi sulit dibaca atau samar-samar bayang.
Pada naskah digital Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri, dapat dilihat ada beberapa halaman yang tidak didigitalisasikan, karena dilihat bahwa pada baris ketiga gambar ke-23 terlihat jelas bahwa tulisan dari halaman berikutnya memiliki lembaran yang sama. Tetapi, pada gambar ke-24 tidak adanya tulisan pada baris ketiga. Penggunaan bahasa naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri memiliki menggunakan bahasa Melayu daerah Riau, dan ada beberapa istilah dari bahasa Arab. Pada jenis tulisan yang digunakan dalam naskah ini yaitu menggunakan jenis tulisan tangan dan tinta. Ukuran huruf yang digunakan adalah berukuran sedang serta dapat mudah untuk dibaca akan tetapi agak sedikit samar-samar bayang dan memiliki bentuk huruf yang tegak lurus. Penulisan pada naskah ini memiliki warna tinta yang dipakai adalah berwarna biru dan terdapat juga berwarna abu-abu. Ada beberapa tanda tulisan yang dicoret oleh pengarang atau penulis yaitu pada halaman 55 dan halaman 57. naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri merupakan naskah tunggal.
Sejarah Singkat Identitas Pengarang Naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri
Dalam naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri dikarang oleh Engku Haji Ahmad disebut juga dengan Raja Haji Ahmad Thabib bin Raja Hasan Bin Raja Ali Haji adalah seorang ulama dan tabib/dokter. Beliau merupakan cucu dari Raja Ali Haji. Ayahnya bernama Raja Hasan Putra dari Raja Ali Haji, Ibunya adalah Raja Maimunah, Putri dari Raja Abdullah atau al-Marhum Mursyid Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga ke IX. Beliau lahir pada tahun 1282H/1865M di Pulau Penyengat.
Pada tahun 1301H (1883M), Raja Ahmad Thabib mendapatkan pengakuan sebagai tabib/dokter di Penyengat dan mulai menjadi tabib patikuler swasta. Berdasarkan pada 25 Rabiulawal 1319H (1901M), No. 6/8 beliau diangkat menjadi seorang tabib kerajaan dan bergelar menjadi Duli Yang Maha Mulia Sultan. Setalah adanya Sultan Riau turun dari tahta kerajaannya, maka, Raja Ahmad Thabib diberhentikan/pensiun oleh Governement Holanda mulai dari tahun 1911 M.
Isi naskah Dalam naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri
Pada isi naskah ini menjelaskan tentang nasihat pengajaran dan peringatan: Nasihat Pengajaran untuk memperbuat amalan Sholeh dengan menetapkan niat yang kuat di dalam hati, menuntut ilmu dengan rajin belajar, usaha, dan berikhtiar. Mencakup dengan hal-hal yang wajib bagi seorang muslim untuk menuntut ilmu dengan bersegera dengan tidak berlama-lama, jangan mengamalkan perkataan dusta, karena akan mengakibatkan tidak ada manfaatnya dan hanya memberikan dosa di dunia dan akhirat. Nasihat peringatan untuk bagi setiap-setiap orang yang hendak mencari jalan kehidupan. Maka, akan sempurna dirinya dan untuk peringatan yang baik diamalkan bagi setiap-tiap orang yang berhimpun dalam satu wilayah seperti satu rumah, dan satu kampung.
Naskah Syair Nasihat Pengajaran Memeliharakan Diri
Pada gambar di bawah ini merupakan gambar lembar ketiga dari manuskrip Melayu. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Melayu dan arab. Naskah di bawah menceritakan tentang nasihat pengajaran pada memelihara diri. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh pengarangnya, bahwa kita harus memperbuat amalan yang saleh dengan menetapkan niat yang kuat di dalam hati, menuntut ilmu dengan rajin berusaha dan berikhtiar, dan jika amalan kebajikan tidak melekat di hati maka akan menyebabkan dunia akhirat menjadi tersekati, karena meninggalkan amalan yang pasti, melawan hukum agama, dan berbuat kejatan.
Pada kutipan teks awal berbunyi:
(Bagian Kanan, Halaman pertama)
Artinya:
Bisimillah awal permulaan kata
Salawat dan salam bersama serta
Berkat syafaat penghulu kita
Di naskan daripada hati bercinta
Bacalah tuan muda dan peri
Sahaya karangkan sedikit syairi
Dengan kodrat Allah ‘l-qahari
Nasihat pengajaran memelihara diri
Tiadalah berapa panjang rencana
Syair karangan fakir yang hina
Karena pelajaran belum sempurna
Daripada hendak mencari kebajikan
Seboleh-bolehnya sahaya kerjakan
Jika tersalah harap dibetulkan
Beserta harap tuan maafkan
(Bagian kiri, halaman pertama)
Artinya:
Hanya inilah yang terdapat
Pekerjaan banyak tiadalah sempat
Mengapalah tuan Arif Makrifat
Sebab sahaya mengarang baharu
Tetaplah ada terkilaf keliru
Adapun tempat sahaya berguru
Di pulau penyengat di Kampung Baru
Kemudian daripada itu perkataan dalih
Nasihat pertama intan terpilih.
Pada akhir kutipan berbunyi:
(Bagian Kanan, halaman 59)
Artinya:
Sebab salah kita sendiri
Dapatlah kesusahan sehari-hari
Janganlah diperbuat demikian peri
Setengah dikatanya kita pencuri
Banyaklah dikeluarkan perkataan yang hina
Nyatalah berhutang tidak berguna
Menanggung hutang besar bencana
Ingatlah tuan jangan terkena
Tambahan berhutang kepada keling
Yaitu menunggu pusing keliling
Matanya rata memandang menjuling
Ada yang geruh sampai bertempeling
Janganlah lupa sahabat dan ikhwan
Menanggung hutang sabarlah tuan
Beralih jadi tiada ketentuan
Kerana nafas tidak dilawan
Kerana hutanglah hati tak tertentu
Mengambilnya mudah dengan sewaktu
Membayarnya susah tak dapat bantu
Walaupun berhutang kepada menantu
Apabila diketahui kepada orang
Tentu disebutnya sebarang-barang
Pekerjeaan berhutang sangat dilarang
Tersebutlah nama akalnya kurang.

No responses yet