Oleh: Dwiky Ari Saputra (Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Perkembangan teknologi informasi masa kini telah turut mempengaruhi perkembangan pengelolaan naskah di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya naskah di berbagai daerah, terutama di Indonesia sendiri kini dapat diakses secara daring. Manuskrip-manuskrip yang menjadi harta karun tersebut merupakan salah satu modal utama dalam kemajuan budaya bangsa, selaras dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 yang menetapkan manuskrip sebagai salah satu dari 10 objek kemajuan budaya Indonesia.
Oleh karena itu, manuskrip kini telah memberikan dampak yang luar biasa dalam kemajuan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah kajian manuskrip nusantara yang memanfaatkan sumber-sumber digital sebagai bahan primer dalam mendukung kajian atau penelitian di bidang humaniora.
Manuskrip digital berjudul Prayers mystical drawing seperti pada gambar di samping terdapat di British Library dalam Asian and African studies kategori Malay dengan kode Or. 16875 dan dapat diakses secara daring melalui tautan: http://www.bl.uk/manuscripts/FullDisplay.aspx?ref=Or_16875. Berdasarkan metadata yang tersedia di dalam tautan, manuskrip ini ditulis pada abad ke-19.
Isi utama manuskrip ini adalah berupa bacaan doa kepada dan untuk nabi Muhammad saw. diawali dengan kalimat pada halaman pertama yang berbunyi “Bab ini pakaian rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam” dilengkapi dengan beberapa rangkaian gambar serta simbol tertentu yang diyakini sebagai rangkaian penggambaran “Segel Kenabian” atau biasa disebut dengan wahyu atau nubuat. Segel tersebut mengacu pada tanda khusus yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. sehingga manuskrip ini dapat memunculkan kesan magis atau mistis. Hal tersebut sesuai dengan judulnya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Doa gambar mistik”.
Gulungan manuskrip ini juga berisi simbol diagram “Segel Kenabian” yang masing-masing diyakini dapat ditemukan di beberapa bagian tubuh nabi Muhammad saw. Tanda-tanda tersebut dapat membawa kekuatan serta perlindungan yang berbeda jika dilihat pada pagi dan petang hari. Simbol berbentuk lingkaran juga diyakini dapat membawa kekuatan serta melindungi seseorang jika berkenan menyimpannya sebagai rajah atau azimat.
- Tanda pada dahi
“Ini mahar al-nubuwat daripada dahi rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam….”
Segel pertama yaitu terdapat pada dahi nabi Muhammad saw. Segel atau simbol ini diyakini akan memastikan kesuksesan dalam berbisnis yang diibaratkan seperti memasuki surga. Pada simbol lingkaran tersebut terdapat kalimat zikir yang ditulis melingkar sebanyak 3 kali. Sedangkan pada bagian sudutnya tertulis 4 nama khalifah, yaitu Abu Bakar (kiri bawah), Umar (kiri atas), Usman (kanan atas), dan Ali (kanan bawah).
- Tanda pada muka

“Ini mahar al-nubuwat pada muka rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam cetera daripada Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu anhu…”
Segel kedua terdapat pada muka Rasulullah ini diyakini akan membawa kebahagiaan atau dalam bahasa Melayu disebut dengan kesukaan. Pada simbol yang menyertai kalimat tersebut terdapat tulisan di tengah lingkaran yang berbunyi “laa ilaha illallah yaa allahu al-yaqdiru wa muhammadur rasulullah sallallahu ‘alaihi wasalam”. Kemudian, terdapat pula nama-nama khalifah yang ditulis secara lengkap pada bagian luar lingkaran tersebut.
- Tanda pada pipi

“Ini mohor al-nubuat pada pipi rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam cetera daripada ‘Abd al-Raḥman raḍi Allah ‘anhu, barang siapa melihat dia nubuat ini diampun Allah subḥanahu wata‘ala sekalian dosanya atau disurat bawa berperang barang ke mana perginya selamat dengan barang hajatnya dikabulkan Allāh tiada tertolak orang itu dengan berkat kurnia Allah subḥanahu wata‘ala akan dia”.
Diagram lingkaran di bawah kalimat tersebut menggambarkan “Segel Kenabian” yang dikatakan berada di pipi nabi Muhammad saw. Kemudian, tulisan di tengah simbol lingkaran tersebut berupa asma Allah serta di bagian terluar simbol lingkaran terdapat empat nama khalifah yang ditulis secara melingkar.
Tanda pada lambung kiri

“Ini mahar al-nubuwat pada lambung kiri rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam cetera daripada Usman radhiyallahu anhu…”
Segel keempat terdapat pada lambung kiri Rasulullah yang diyakini akan membawa kehormatan dan umur panjang. Pada bagian tengah simbol lingkaran terdapat simbol pentagram dan diikuti dengan beberapa hiasan pada bagian luarnya serta terdapat tulisan nama khalifah yang ditulis melingkar di luar lingkaran.
- Tanda pada sisi kanan

“Ini mahar al-nubuwat pada kanan rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam cetera daripada Sayyidina Ali radhiyallahu anhu…”
Segel kelima berada di sisi kanan nabi Muhammad saw. yang jika dilihat atau dibaca maka orang tersebut diyakini akan mendapat pahala dan keselamatan dari Allah swt. Pada simbol lingkaran terdapat tulisan surat al-Ikhlas yang ditulis lengkap secara melingkar, sedangkan pada bagian terluar lingkaran terdapat nama-nama khalifah yang juga ditulis melingkar.
- Tanda pada mulut

“Ini mahar al-nubuwat pada mulut rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasalam maka yaitu barangsiapa melihat akandia mahar al-nubuwat akan pagi dan petang itu membuat azimat di pagi maka…”
Segel keenam ini terdapat di mulut Rasulullah yang dipercaya jika segel ini dijadikan azimat oleh raja-raja atau orang sakti maka dapat mengabulkan segala permintaan bagi yang membawa azimat tersebut.
Keunikan Manuskrip
Banyak keunikan yang dimiliki oleh manuskrip ini. Pertama, manuskrip ini berbentuk gulungan yang dibuka secara vertikal atau memanjang dari atas ke bawah dengan ukuran yang tertera pada metadata, yaitu dengan panjang 285 cm dan lebar 8 cm.
Kedua, terdapat banyak gambar serta simbol yang di dalamnya berisi tulisan, seperti 2 kalimat syahadat, amalan doa Nabi Khidir, dan beberapa bacaan yang bervariasi. Bentuk dari gambar dan simbolnya pun sangat beragam, didominasi bentuk lingkaran yang sangat presisi, dan beberapa bentuk segitiga. Selain itu juga terdapat simbol magis berbentuk bintang atau pentagram.
Ketiga, gulungan manuskrip ini terdiri dari 5 lembar kertas yang direkatkan memanjang dengan bahan yang digunakan adalah kertas berwarna cokelat atau dalam bahasa Inggris disebut dengan brownish wove paper. Jumlah halaman yang tersedia berdasarkan metadata manuskrip digital ini sejumlah 38 gambar dan dibagi menjadi 48 bagian yang setiap bagiannya ditandai dengan garis lurus sebagai pemisah halaman. Namun, sangat disayangkan karena terdapat beberapa halaman yang aksaranya sudah tidak dapat terbaca dengan jelas karena termakan usia dan memudar terkena air.
Manuskrip ini beraksara Jawi dengan bahasa Melayu dan Arab. Didominasi dengan tinta hitam sebagai warna primer karena terdapat di seluruh halaman manuskrip dan tinta ungu yang menjadi warna sekunder karena digunakan pada bagian-bagian tertentu seperti pada awalan kalimat serta penulisan kalimat atau kata tertentu dalam gambar atau simbol.
Tidak adanya informasi mengenai nama penulis serta tidak ditemukannya tanggal dan tempat penulisan naskah secara pasti, menjadikan manuskrip ini sulit ditebak dari mana asalnya. Besar kemungkinan bahwa manuskrip ini berasal dari Semenanjung Malaya pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 dengan didasarkan pada penggunaan tinta berwarna ungu.
Kekayaan manuskrip yang ada di Nusantara ini sungguh tak ternilai harganya, keberagaman manuskrip Nusantara juga mampu membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar. Oleh karena ini, sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk melestarikan, mempelajari, menghargai keberadaannya, dan mengambil nilai-nilai serta ilmu yang terdapat di dalamnya.






No responses yet