Categories:

Oleh : Robiatul adawiyyah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Bahasa dan Sastra Arab         

Manuskrip, manuskrip adalah salah satu kekayaan budaya yang harus kita jaga dan juga kita lestarikan. Banyak sekali manuskrip-manuskrip yang harus diselamatkan agar tidak ada manuskrip-manuskrip yang hilang begitu saja tanpa ada satupun orang yang mengkaji & mengetahui isi manuskrip tersebut. Di dalam Manuskrip itu terdapat banyak sekali hal-hal yang sangat menarik yang perlu kita ketahui dan juga kita pelajari. Yang mana tidak akan banyak diketahui oleh siapapun yang tidak mengkaji ataupun membacanya. Dalam satu manuskrip itu terdapat beberapa pembahasan yang mana itu sangatlah penting untuk diketahui. Namun, ada pula manuskrip yang hanya membahas satu pembahasan saja. Nah, disini saya akan membawakan contoh manuskrip yang di dalamnya terdapat banyak pembahasan. Yakni seperti yang terdapat pada gambar dibawah ini.

Manuskrip yang akan dibahas ini adalah manuskrip yang berjudul Safinah al-Bulaghah yang mana manuskrip ini berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Manuskrip ini saya temukan di website lektur.kemenag.go.id. manuskrip ini termasuk dalam kategori naskah tahun 2017 yang berasal dari Yogyakarta. Penulisnya adalah al-Akh al-Balaj. Naskah ini ditulis dengan bahasa dan aksara Arab. Ditulis di atas kertas bergaris dengan tinta berwarna hitam. Naskah ini dijilid dengan benang. Keadaan naskahnya masih sangat baik dan tidak ada kerobekan juga coretan tinta bocor pada tiap lembar naskah tersebut.

Naskah ini dikenal sebagai naskah yang berisi tentang kumpulan ilmu-ilmu balaghah. Namun, setelah saya membaca naskah ini teryata naskah ini bukan hanya berisi tentang ilmu-ilmu balaghah saja, namun juga berisi tentang matn-matn hadits yang mana diantaranya adalah matn al-bauquniyah yang akan saya jelaskan disini.

Matn al-bauquniyah ini adalah sebuah matn yang menjelaskan  tentang macam-macam hadist yang mana di dalamnya itu disebutkan kekhasan dari masing-masing hadist tersebut. Di dalam Matn al-bauquniah ini terdapat 32 macam hadits. Diantara yaitu seperti yang sudah tidak asing lagi di telinga kita semua yakni hadits shahih, hadits hasan, dan hadits daif. Untuk lebih jelas marilah kita lanjut pembahasannya.

Dalam Matn al-baqauniyah hadits Yang pertama disebut itu adalah Hadits shahih. Hadits shahih yaitu yang sanadnya bersambung tanpa adanya syadz dan ‘illat. Yakni yang diriwayatkan dari perawi adil dan dhabit dari yang semisalnya yang diakui kedhabitan dan penukilannya. Jadi seperti yang kita ketahui bersama bahwa hadist shahih ini adalah hadits yang sanad nya bersambung tanpa adanya kejanggalan dan juga tidak ber’illat.

Yang kedua yakni Hadits hasan yang mana jalan periwayatannya itu terkenal tetapi para perawinya tidak seperti hadits shahih. Setiap hadits yang lebih rendah derajatnya dari hadits hasan disebut Hadits dha’if yang mana hadits dha’if ini banyak macamnya. Lalu ada Hadits marfu’ yaitu hadits yang disandarkan ke Nabi. Dan untuk yang disandarkan ke tabi’in itu adalah Hadits maqthu’.

Lalu selanjutnya itu adalah Hadits musnad yaitu sebuah hadits yang sanadnya bersambung dari para perawi hingga al-Musthafa tanpa terputus. Hadits yang didengar semua perawi dan bersambung sanadnya hinggal al-Musthafa adalah Hadits muttashil. Dan ada juga Hadits musalsal yaitu hadits yang mengandung sifat tertentu seperti contohnya: ’Demi Allâh seorang pemuda mengabarkan kepadaku Begitu pula: sungguh dia mengabarkan kepadaku sambil berdiri, atau setelah mengabarkan kepadaku ia tersenyum.

Selanjutnya yaitu Hadits ‘aziz yang perawinya itu dua atau tiga, dan Hadits masyhur yang perawinya lebih dari tiga. Dan selanjutnya ada Hadits mu’an’an contohnya: dari Sa’id dari Karam, dan jika ada perawi yang tidak disebutkan Namanya yaitu Hadits mubham .

Setiap hadits yang perawinya sedikit disebut Hadits ‘ali, dan kebalikan dari hadits ‘ali itu adalah Hadits nazil yang mana perawinya itu lebih banyak. Dan apa yang disandarkan kepada para shahabat baik ucapan maupun perbuatan yaitu Hadits mauquf, Hadits mursal yaitu bila perawi shahabat gugur, lalu ada Hadits gharib yaitu apabila perawinya hanya satu. Setiap hadits yang keadaan sanadnya tidak bersambung disebut Hadits munqathi.

Hadits mu’dhal adalah bila perawi yang gugur dua,

Dan selanjutnya ada Hadits mudallas yang mana ada dua macam :

  • Pertama: gurunya gugur dengan penukilan di atasnya memakai (عَنْ) dan (أَنْ)
  • Kedua: gurunya tidak gugur tetapi menyifatinya dengan sifat yang tidak dikenal.

Hadits tsiqah yang menyelisihi jamaah disebut Hadits syadz, dan Hadits maqlub ada dua macam, yaitu :

-Pertama: mengganti perawi dengan perawi lain dan

-kedua: membalik sanad-matan.

Hadits fard adalah yang periwayatannya diikat dengan satu perawi tsiqah, banyak, atau terbatas. Hadits yang cacatnya tersembunyi atau tersamar disebut Hadits mu’allal menurut pengertian ahli hadits. Lalu hadits yang sanad atau matannya berbeda disebut Hadits mudhtharib menurut ahli hadits. Juga ada Hadits mudraj yakni adalah hadits yang tercampuri sebagian lafazh perawinya. Setiap hadits yang diriwayatkan oleh perawi segenerasi dari saudaranya adalah Hadits mudabbaj. Hadits yang lafazh (pengucapan) dan khat (tulisan) perawinya sama disebut Hadits muttafiq, dan kebalikan dari nya adalah Hadits muftariq. Hadits mu`talif itu jika hanya khat nama perawi yang sama, dan kebalikannya adalah Hadits mukhtalif. Hadits munkar adalah yang perawinya menyendiri dan keadilannya tidak diakui saat menyendiri. Dan Hadits matruk ialah yang perawinya satu menyendiri dan mereka sepakat atas kelemahannya, sehingga ia tertolak. Dan yang terakhir yakni Hadits maudhu’ yang mana itu adalah sebuah hadits dusta yang direka-reka dan dibuat-buat atas nama Nabi.

Sekian penjelasan yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya saya mohon maaf, Semoga bermanfaat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *