Ditulis oleh: Rizky Ayu Monica (Mahasiswi UIN Jakarta)
Agama Islam menyebar di Nusantara sekitar abad ke 7 Masehi. Masuknya Islam ke Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan tasawuf. Saat Islam mulai disebarkan, tentulah yang dijadikan landasannya ialah al-Qur’an dan hadits. Dengan izin Allah, dan kontribusi dari para sahabat, tabi’in, dan juga ulama, hadits-hadits Rasul kini telah sampai kepada kita lewat tulisan mereka. Jika keinginan untuk menulis itu tidak ada pastilah kita tidak akan memenukan hadits-hadits Rasul, kita juga tidak tahu amalan apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Jika dibayangkan, padahal ketika itu media yang digunakan untuk menulis masih sukar untuk dijumpai. Belum lagi dengan penerangan yang seadanya, yang kadang kala membuat penulis melakukan kesalahan dalam penulisan.
Dari sini kita bisa melihat bagaimana kecintaan mereka terhadap ilmu dan kesungguhan mereka dalam menyebarkannya. Bukti dari itu semua dapat kita jumpai dalam naskah kuno yang ada dan tersebar di Nusantara. Beruntunglah saat ini telah ada ilmu yang mempelajari tentang manuskrip kuno, yaitu ilmu Filologi. Berkat ilmu filologi , manuskrip-manuskrip yang tersebar di pelosok Nusantara bisa disajikan kepada khalayak umum. Menurut Muhammad Nida Fadlan, dosen Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Filologi ini hadir untuk menjembatani pengetahuan di masa silam dengan ilmu pengetahuan saat ini.
Melalui program digitalisasi yang dilakukan oleh DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), saat ini sudah ada sekitar 2.170 naskah yang telah didigitalisasi, yang saat ini bisa dengan mudah kita akses di internet. Dalam situs websitenya dreamsea.co, ditemukan manuskrip yang berjudul “kitab al-hadith” yang ditemukan di daerah Baubau, Sulawesi Tenggara. Sayangnya, tidak terdapat informasi mengenai penulisnya Manuskrip tersebut menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan ketebalan tiga puluh empat halaman. Manuskrip ini berbahan dasar kertas Eropa. Didalamnya penulis menggunakan tinta hitam dan merah. Tinta merah disini digunakan untuk menandai hadits-hadits baru dan bab baru. Didalamnya berisi tentang kumpulan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari tiga bab. Dan bab yang menarik untuk dibahas adalah bab pertama tentang keutamaan zuhud terhadap dunia.
Melihat fenomena saat ini, nampaknya manusia semakin gila dalam berlomba-lomba mengejar dunia. Baik muda dan tua, semua bertingkah seolah hari esok masih ada, seolah kematian tak akan menyapa. Manusia semakin berambisi mencari harta, jabatan, kekuasaan, dan popularitas. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggadaikan keimanannya, menggadaikan ibadahnya demi memenuhi nafsu dunia. Agaknya manusia telah lupa bahwa kesenangan ini hanya bersifat sementara, dan kelak akan menghadap Sang Pencipta.
Secara fitrah, manusia memang diberi naluri untuk mencintai dunia. Namun kecintaan yang seperti apa yang diperbolehkan? Jika kecintaan terhadap dunia itu menjadikan kita lalai dalam beribadah, jelas haram hukumnya. Namun jika sesorang mencintai dunia dan berbahagia karena dunia merupakan karunia Allah, maka itu adalah hal yang terpuji.
Tertulis dalam manuskrip tersebut, Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu , ujarnya, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk di sekeliling beliau. Beliau bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُنْيَا وَ زِينَتَهَا
“ Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian. “ (H.R Bukhari)
Dalam hadits tersebut, disebutkan bahwa kehidupan di dunia ini diserupakan dengan bunga, yang mana, bunga itu memiliki sifat yang indah dan menawan. Begitupun kehidupan di dunia ini, terlihat begitu indah bagi setiap mata yang memandangnya. Harta, tahta, wanita, dan semua kenikmatan di dunia memang tampak menggiurkan. Tak heran banyak orang berambisi untuk mendapatkannya. Sungguh, jika kita menyadarinya, kenikmatan itu tidaklah bertahan lama. Para ulama mengatakan: “ manusia yang paling cerdas adalah orang-orang yang zuhud. Sebab, mereka mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci-Nya, yakni mereka benci mengumpulkan (harta) dunia dan memilih sesuatu yang membawa ketenangan untuk diri mereka.”
Dalam hadits lain diriwayatkan: Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi r.a dia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku!’ maka beliau bersabda, “ Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (H.R Ibnu Majah)
Rasululullah SAW telah memerintahkan kita untuk menganggap remeh dunia ini dan berlaku zuhud di dalamnya. Menurut Imam Nawawi, zuhud adalah meninggalkan berbagai perkara duniawi yang tidak diperlukan, meskipun halal, serta mencukupkan diri dengan yang diperlukan saja. Menurut para ulama, Zuhud ialah ketika seseorang mengetahui hakikat daripada dunia ini, dunia ini sejatinya adalah hal yang sangat singkat. Kesenangan yang singkat, rasa sehat yang singkat,hidup yang singkat dan semua yang ada di dunia ini hakikatnya akan punah, dan pergi.
Menurut Syaikh Ibn Utsaimin maksud kalimat beliau “Zuhudlah terhadap dunia” ialah meninggalkan dunia ini dari apa saja yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Sebagai konsekuensinya hendaknya dia tertarik kepada akhirat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mencintai dunia ini hukumnya boleh saja, namun harus tetap dalam koridor syariat. Kita boleh mengejar dunia, tapi sekedarnya saja. Mencari profesi yang layak misalnya, agar dapat memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, menafkahi keluarga, serta dapat menyedekahkannya di jalan Allah dengan tetap mendahulukan hak-hak Allah di atas segalanya. Jika ada yang merasa cinta dengan dunia karena ingin berbangga-bangga, tinggi hati, dan bertindak congkak kepada orang lain, maka hal itu tidak dibenarkan. Maka jadikanlah dunia hanya dalam genggaman saja.
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, dikatakan:
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : أخذ رسلول الله صَلّى الله عليه و سلّم بمنكبيّ فقال: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ السَّبِيْل
Dari Ibnu Umar radiyallahu’anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: “ Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara” (H.R Bukhari)
Dari hadits ini Rasulullah SAW telah mengajarkan kita tentang bagaimana menyikapi dunia. Beliau mengajarkan kita untuk hidup di dunia ini seperti orang asing atau pengembara. Sebagai orang asing, tentu kita tahu bahwa kita tidak akan berlama-lama di tempat persinggahan kita, sebagai seorang pengembara tentu kita akan menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan. Sebagai seorang muslim, kampung halaman kita berada jauh diatas langit. Maka sebaiknya kita memperbanyak perbekalan dengan melakukan ketaatan, dan menggunakan waktu dan kesempatan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Karena hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti.

No responses yet