Oleh: Chaeratunnisa (Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Naskah tidak hanya dianggap sebagai suatu teks, khususnya teks traditional semata, tetapi mempunyai dimensi dan makna yang lebih luas. ia merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan dan sikap budaya. Oleh karena itu naskah mengandung kekayaan informasi yang melimpah. Isi naskah itu tidak terbatas pada kesusastraan dan ilmu agama semata. Tetapi naskah juga membahas tentang Ilmu pengetahuan umum seperti ilmu kedokteran (thib), teknik (handasah), dan astronomi (falakiyyah). Ilmu tersebut dapat ditelusuri perkembangan dan keberadaanya pada masa lalu melalui karya ulama terdahulu. Seperti mansukrip Syair Taj Al-Muluk Ini.
Kitab Taj al-muluk al-Murashsha’ bi Anaw,I al-Durar wa al-Manzhumat, biasanya disebut dengan kitab Tajul Mulok. merupakan kumpulan karangan abbas al-Asyi Teungku Chick Kuta Karang, lahir di Kuta Karang, Aceh Utara. kitab ini telah di tashih oleh Ahmad Sa,ad ‘ Ali, ulama al-Azhar al-Syarif dan Muhammad Idris al-nabawi al-azhari, bertanggal 19 Sya’ban 1357 H/13 Oktober 1938 M.
Mengenal Syekh Abbas
Nama lengkapnya adalah Syekh’ Abbas bin Muhammad al-Asyi, seorang pengikut maddhab fiqih Syafi’I dan tarekat Khalwatiyah. Menurut tuanku Abdul Jalil (Sekertaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh), Syekh Abbas bergelar Teungku Chik Kutarang. Syekh Abbas sendiri menjelaskan asal usulnya: “Syekh Abbas, Aceh nama negerinya, Masjidul Jami Ulu Susu tempatnya, Kuta Karang nama Kampungnya”. Ia adalah seorang hakim (qadhi). Syekh Abbas menimba ilmu di Makkah, dan merupakan teman ulama seperti Syekh Zainuddin Aceh, Syekh Ismail Minangkabau, Khitab Sambas, dan Syekh Muhammad Salih Rawa.
Syair Taj al-muluk al Murashsha’ bi Anwal’I al-Durar wa al-Manzhumat
Syair Taj al-muluk al Murashsha’ bi Anwal’I al-Durar wa al-Manzhumat merupakan salah naskah yang mempunyai informasi penting tentang astrologi (ilmu nujum), astronomi (ilmu falak), ilmu kedokteran (al-thibb) dan ilmu pengetahuan traditional.
Dalam syair taj al-muluk ini terdiri atas empat bab, yang didalamnya meliputi pendahuluan, mengenal penanggalan Hijriyah, berbagai fal yang baik dan penutup.
Bab pertama sebagai bab pendaahuluan, Abbas al-Asyi menjelaaskan sekilas tentang sejarah ilmu nujum. Kemudian bab kedua membahas tentang penanggalan Hijriyah, menjelaskan bahwa perhitungan tanggal Hijriyah dimulai pada tahun Nabi hijriyah, menjelaskan bahwa perhitungan tanggal hijriyah dimulai pada tahun nabi hijriyah dari mekah ke madinah. Teungku Chik Kuta Karang kemudian menyebutkan nama-nama bulan Arab, yaitu Muharam, Syafar, Rabi’ al-Awwal, Rabi’ al-Akhir, Jumad al-Awwal, Jumad alTsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Zul al-Qa’dah dan Zul al-Hijjah.
Ia juga menjelaskan cara mengenal dan penentuan jumlah hari dalam sebulan, hari awal bulan, tahun kabisat dan basithat. Dalam bab yang sama juga dibicarakan tentang ghalib dan maghlub (ramalan), yang berasal dari ajaran Imam Ja’far alShadiq. Ramalannya dengan perhitungan nilai-nilai dari huruf. Setiap huruf mempunyai nilai tersendiri, misalnya alif bernilai satu, dal bernilai empat, demikian seterusnya, tetapi jumlah nilai itu tidak berurut berdasarkan huruf Hijaiyah. Sedangkan bab ketiga membicarakan tentang fal yang baik (melihat nasib), ta’bir mimpi, ta’bir gempa, berbagai obat-obatan, ilmu firasat, dan ilmu teknik (pembangunan dan pertukangan).
Subtansi dasar kitab ini membicarakan tatacara penentuan awal bulan Hijriyah, yang bermanfaat untuk kesempurnaan ibadah, seperti penetapan awal puasa Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, ibadah haji dan penanggalan hari-hari besar Islam. Selain itu juga memuat tentang keuneunong. yang berlaku dalam adat reusam Aceh untuk memulai aktivitas agar memperoleh berkat dari Allah swt., yang didasarkan pada penanggalan Hijriyah ini, seperti jadwal turun ke sawah dan ke laut, memulai pembangunan rumah baru, acara nikah dan sebagainya. Untuk pelaksanaan hal-hal tersebut biasanya didasarkan pada perhitungan waktu yang baik (al-Sa’d).
Penentuan waktu (muslim) tersebut didasarkan kepada pertemuan kala (bintang) dan bulan di langit. Rangkaian keunong (muslim) ini dimulai dengan Keunong 23 (keunong dua ploh lhee), sehingga dalam prakteknya semua keunong jatuh pada tanggal ganjil, yaitu 23,21,19,17,15, 13, 11, 9,7,5,3, dan 1.
Pengetahuan tentang keunong ini berlaku untuk semua tahun. Masing-masing keunong mempunyai penjelasan tersendiri. Kalau bintang tujuh bersamaan terbenam dengan matahari, sebagai tanda cuaca buruk di laut. Ini terjadi dalam keunong 15. Kalau bintang tujuh terbit terlalu pagi, maka mulailah waktu yang baik untuk menanam benih (keunong 11). Waktu paling baik untuk berlayar dari ibukota, Banda Aceh, ke pantai Barat adalah pada waktu keunong 3, dan sebagainya.
Pada bagian awal-wal halaman juga terdapat tentang “tradisi meramal di istana” seperti tentang perhitungan hari yang tepat untuk berperang. Dan tentang ramalan yang menang ghalib dan yang kalah maghlib. Berdasarkan symbol pertarungan: kuda, singa, lembu, kijang, gajah, anjing, harimau, dan babi.
Bentuk Fisik Naskah
Naskah Syair al-Muluk ini berbentuk buku dan terbuaat dari kertas Eropa yang memiliki 94 halaman dan pada setiap halaman rata-rata terdapat 16 baris. Kondisi naskah cukup baik, tulisan arab didalamnya masih cukup mudah untuk di baca. Tetapi memang ada beberapa kertas yang sudah lepas dan robek. Tetapi urutan halaman masih rapih dan masih berurutan dari awal sampai terahir.
Tanggal pembuatan naskah ini pada awal abad-20, bahasa yang digunakan bahasa Melayu, tulisan yang digunakan didalam naskah yakni tulisan Arab. Berdasarkan deskripsi diatas bahwasanya naskah ini berisi pembahsan tentang astropologi yang menjelaskan tentang astrologi (ilmu nujum), astronomi (ilmu falak), ilmu kedokteran (al-thibb) dan ilmu pengetahuan traditional. Isi naskah juga tergambar pada pendahuluan syair yang menggunakan puisi dan prosa. Yaitu:
“Kami mula dengan nama Allah Al-Hamdulillah sekalian puji Kemudian shalawat akan Nabi Amma ba’du wahai tuan Mula-mula kami surah ‘Siraj al-Dhalam nama kitab Thariqat ilmu nujum Lagi tersebut dalam kitab ini Lagi fashal fal dua tiga macam ‘Ilmu thabib segala obat Lima puluh bab obat penyakit Nafsu kanan nafsu kiri Baik dan jahat wahai akhi Gerak tubuh segala insan Gerhana matahari dengan bulan Ta’bir gerhana ta’bir mimpi Ta’bir gempa bergerak bumi Nak kenal langkahan baik dan jahat Tahun kabisah dan basithah Hari baik hari jahat Sa’ah baik sa’ah jahat Di sini tempat tuan pernyata Glalib maghlub wahai tuan Orang saudagar mencari rizqi.” Chaeratunnisa (Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

No responses yet