Namanya saja cacat, pastilah kurang baik atau tidak baik.
Namun cacat intelektual dan cacat moral berbeda dalam perspektid para ulama hadis.
Cacat intelektual lebih pada persoalan keterbatasan dan kekurangan nalar, pikir, paham, dan hapalan dalam keilmuan, atau dalam bahasa sederhana “bodoh”.
Cacat moral adalah suatu kekurangan pada diri seseorang dari sisi akhlak atau etika, misalnya berbohong, menyebarkan berita bohong, membuat dan menyebarkan hoax, fitnah, apalagi pembohong, mengadu domba atau provokator, suka menyakiti, berzina, mencuri apalagi pencuri, koruptor, dan lainnya.
Dalam kajian ilmu hadis, para ulama membedakan antara cacat intelektual dan cacat moral.
Maksudnya hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang cacat intelektual, kualitas hadisnya ”DAIF RINGAN”.
Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang cacat moral, kualitas hadisnya “DAIF BERAT”.
Hadis daif ringan masih bisa ditolerir, bisa dipakai dalam hal motivasi beramal, meraih keutamaan ibadah, motivasi belajar dan motivasi bekerja, atau kisah-kisah sebagai nasehat.
Hadis “Daif Ringan” disebabkan oleh periwayat yang hapalannya lemah atau buruk, periwayat majhul (tidak dikenal), dan atau sanadnya terputus.
Bahkan hadis “Daif Ringan” ini jika ada hadis lainnya yang menguatkan maknanya, maka kualitasnya berubah dan naik derajatnya menjadi hadis hasan li ghairihi.
Terkadang ini menjadi masalah dan dipermasalahkan.
Padahal sebenarnya masalahnya bukan pada hadisnya, tapi pada orang yang belum mengerti ilmu hadis. Dianggapnya semua hadis daif tidak boleh diamalkan, apabila diamalkan, maka amalan itu adalah bid’ah.
Pelaku amal ibadah disalah-salahkan, dicap sebagai ahli bid’ah, ahli sesat. Ini kan sudah membuat masalah.
Bukankah, perbuatan yang suka dan terlalu gampang mencap bid’ah, justru itulah yang bid’ah. Karena bid’ah artinya rusak dan merusak.
Terkadang sebuah hadis oleh orang tertentu menganggapnya daif, padahal oleh ulama lainnya menilainya sebagai hadis hasan, karena sudah melihat ada hadis lainnya yang menguatkan dan memperjelasnya.
Berbeda dengan hadis Daif Berat, disebabkan karena ada periwayatnya cacat moral, seperti berdusta, tertuduh berdusta, apalagi pendusta. Atau pernah memalsukan hadis, menyebarkan berita bohong, fitnah, dan lainnya.
Hadis Daif Berat ini sekalipun ada beberapa hadis lainnya yang maknanya sama, tetap saja hadis itu daif “berat” atau sangat daif.
Pandangan dan sikap para ulama Hadis yang membedakan antara cacat intelektual dan cacat moral sangat Wajar, dan ini merupakan bagian dari sikap kehat-hatian, terutama dalam persoalan spiritual dan tanggung jawab keagamaan.
Demikian juga penyampaian dan transmisi hadis mempunyai implikasi dan dampak hukum, social, dan moral.
Atas dasar inilah, para ulama lebih mendahulukan dan mengedepankan akhlak, moral, etika dari pada ilmu dan kepintaran.
Kurang ilmu, jauh lebih baik dari pada kurang ajar.
“Bodoh” tapi sopan, santun, bisa menghargai orang lain, lebih baik dari pada pintar tapi licik, pintar merekayasa kebohongan, membolak-balikkan fakta.
Dalam dunia sosial, poltik, kekuasaan, ekonomi dan berbagai kepentingan pragmatis lainnya, orang-orang yang cacat Moral justru lebih laku dan mendapat sanjungan dan pujian.
Hal ini bisa jadi karena banyak factor, mereka lebih pintar merekayasa berbagai masalah. Sesuatu yang tidak benar, tapi kelihatan benar dan baik. Sebaliknya sesuatu yang salah dan keliru, bisa kelihatan seperti benar dan baik.
Walaupun pada akhirnya, mereka yang cacat moral justru akan berakhir dengan nasib buruk dan sangat mengecewakan. Dampaknya buruknya pun juga sangat besar baik secara spiritual, moral, dan social.
Dengan belajar dan mengerti ilmu hadis seperti ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi kepintaran dan kecerdasan seseorang termasuk cacatnta, apakah cacat moral atau cacat intelektual.
Semoga Bermanfaat
Denpasar Bali, 17 Desemberi 2020

No responses yet