Wahai salik yang ingin menemukan keselamatan…

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencari seorang mursyid yang akan melihat kesalahan-kesalahanmu dan menunjukkannya kepadamu. Kamu boleh saja berjalan jauh dan berusaha keras membebaskan dirimu, tapi mursyid lah yang akan menyelamatkanmu dari perbudakan di bawah tirani hawa nafsumu. 

Lakukanlah ini sekarang, karena apa pun yang kita miliki saat ini adalah lebih baik daripada apa yang terbaik yang kita bayangkan akan kita miliki besok.

Ketika kamu menemukan mursyid, kamu harus menjadi seperti mayat di kedua tangan orang yang menyucikannya terakhir kali. Kamu harus siap menerima mursyidmu apa adanya. Tidak pernah mengkritik atau mencari-cari kesalahannya, bahkan sekalipun ia bertindak terkesan melawan syariat.

Tidak ada manusia tanpa kesalahan. Semua manusia bersalah dan berdosa, dan tidak ada yang selamat dari kekeliruan. Kamu bukanlah seorang hakim yang sedang mencari seseorang yang bersalah; kamu adalah seseorang yang bersalah yang mencari seorang hakim yang adil.

Jangan sembunyikan apa pun dari mursyidmu, gagasan atau niat, buruk atau baik. Jangan pernah duduk di tempat dia duduk. Jangan pakai apa pun yang dia pakai. Beradalah di hadapannya dengan hormat dan baik, layaknya seorang hamba di depan tuannya.

Ketika dia meminta sesuatu kepadamu, atau menyuruhmu melakukan sesuatu, bukalah kedua telingamu dan gunakan pikiranmu untuk memahami apa yang dia inginkan dengan pasti. Jangan lakukan apa pun tanpa yakin bahwa itulah yang dia inginkan. Jangan mencari-cari alasan mengapa dia menginginkan apa yang dia inginkan.

Jika kamu harus meminta sesuatu darinya, jangan mengharapkan atau bersikeras pada satu jawaban. Kamu harus mengatakan kepadanya penglihatan-penglihatanmu, tapi jangan bersikeras pada sebuah penafsiran.

Jangan dengarkan orang-orang yang berbicara melawannya, karena hal itu akan menimbulkan kebingungan, sebab pertentangan dalam dirimu terhadapnya. Jika kamu mengetahui orang-orang yang melawannya, tinggalkanlah mereka.

Begitulah adab semestinya seorang salik, murid yang sedang berada dalam bimbingan mursyidnya.

Semoga, kita tidak termasuk orang yang selalu menyisakan sikap bangga diri, sombong, dan tertutupnya hati. Lalu, pura-pura patuh, mengabdi, dan menghormati. Padahal, pada mursyid… kita tidak pernah sehati.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *