Oleh : Azi Zatul Hikmah (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Hidup di era digital seperti sekarang ini mau tidak mau harus siap bergelut dengan segala sesuatu yang berbau digital. Benda apapun dapat digitalisasi guna untuk memperpanjang umurnya atau sebagai pelestarian dengan menghindari kerusakan yang timbul secara langsung terhadap benda tersebut dalam jangka panjang. Akses untuk mendapatkannya pun akan menjadi mudah dan kilat hanya dengan hitungan detik saja. Salah satu benda yang sudah digitalisasi adalah naskah kuno.
Dewasa ini banyak sekali ditemukan situs web yang berisikan naskah-naskah kuno yang disajikan guna sebagai bahan pengetahuan hingga penelitian terhadap naskah tersebut. Kabar mengenai adanya suatu penelitian naskah kuno masih hangat dibincangkan terlebih dalam dunia akademisi. Penelitian ini tentu tidak lain untuk menggali pengetahuan tentang naskah kuno baik berupa kesejarahan, isi, atau lain-lain mengenai apa yang melekat di dalamnya. Sudah barang tentu penelitian ini sangat bernilai positif karena tidak hanya dapat memperluas wawasan, namun juga dapat ikut andil dalam melestarikan naskah yang diwarisi oleh leluhur yang telah mendahului.
Al-Quran dan Doa adalah salah satu naskah kuno yang penulis temukan di lektur.kemenang.go.id dengan kode LKK_SMR2017_RAH023. Sebenarnya naskah ini tidak mempunyai nama. Penamaan Al-Quran dan Doa terhadap naskah tersebut sebab dilihat dari isinya. Naskah ini dirawat dan dijaga secara turun-temurun oleh keluarga Bapak Roch Aris Hidayat yang bertempat tinggal di Perum Konveri Beringin, Ngaliyan-Semarang. Naskah yang berisi teks al-Quran dan doa ini hanya berjumlah 66 halaman saja dengan berisikan 8 baris dalam setiap halamannya.
Naskah yang dituliskan dengan bahasa Arab ini mempunyai ukuran 25,5×16 cm dan ukuran teksnya adalah 18×11 cm. Kertas yang digunakan dalam naskah Al-Quran dan Doa adalah jenis kertas Dluwang dijilid menggunakan benang dengan kondisi kertas sudah berwarna coklat, kusut, sedikit berlubang, dan berlipat di bagian pinggirannya. Pengarang dan penyalinan terhadap naskah tersebut tidak diketahui. Lanjut, naskah ini tidak mempunyai sampul dan nomor halaman. Juga tidak ditemukannya kata alihan, kolofon, iluminasi, serta ilustrasi dalam naskah tersebut.
Naskah ini ditulis menggunakan tinta warna hitam dan merah untuk rubrikasi dengan jenis khat naskhi. Khat naskhi sendiri adalah salah satu jenis khat yang ada dalam tulisan Arab. Khat naskhi mempunyai bentuk yang sederhana tetapi mengandung makna-makna huruf terang, memikat, mudah dibaca dan mudah untuk ditulis dan dipelajari. Khat naskhi ini menjadi asas penulisan dalam mushaf al-Quran baik yang standar maupun mushaf Uthmani. Tidak hanya dalam penulisan mushaf al-Quran, penggunaan khat naskhi ini juga dapat ditemukan dalam manuskrip, logam, matauang, artifak dan benda-benda lainnya yang berada di Nusantara. Oleh sebab itu, khat naskhi ini dijadikan model penulisan dalam naskah Al-Quran dan Doa selain mudah dibaca dan dipelajari juga mengingat dahulu belum banyak yang mengetahui dan paham akan berbagai jenis tulisan Arab sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat umum yang baru mengenal Islam.
Isi naskah ini berupa ayat-ayat al-Quran beserta tafsirnya yang digantung di bawah teks. Di dalam naskah juga dikemukakan doa-doa yang dapat diamalkan oleh manusia dalam menjalani kehidupan baik yang menyangkut keselamatan, permohonan rizki, doa tolak bala, dan doa kanuragan.
Kutipan awal naskah ini adalah “…Qul yaumal fathi laa yanfa‘ul ladzina kafaru iimaanuhum walaahum yuhzarun.” Artinya:… Katakanlah: Pada hari kemenangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, iman mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan Kutipan akhirnya adalah “Shallallaahu ‘alaihii wasallama wa ‘alaa abii bakrin wa umara wa ustmaana wa ‘aliyyin ahlul jinaani … wa ‘alaa azwaajihii ath-thaahiriina wa ummahaatil mu’miniina.” Artinya: Semoga Allah mencurahkan sholawat serta salamnya kepada Nabi Muhammad saw. dan kepada Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali … dan istri-istri beliau yang suci dan merupakan ibunya orang mukmin.
Apa yang sudah dipaparkan di atas adalah suatu hal kecil yang menjadi salah satu warisan Nusantara berupa naskah kuno yang perlu diketahui oleh khalayak guna pengetahuan dan mengajak terhadap pelestarian naskah-naskah kuno milik Nusantara yang mana pada saat ini banyak ditemukan di luar negeri. Serta pengetahuan mengenai penulisan khat naskhi dalam manuskrip adalah suatu usaha untuk mempermudah pembacanya terutama bagi orang awam yang baru mengenal Islam dan tulisan Arab. Wallahu a’lam.

No responses yet