Oleh : Ahmad Nadlif (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Pengetahuan mengenai sejarah adalah sebuah hal yang sangat penting, digitalisasi manuskrip nusantara sebagai upaya untuk melestarikan warisan intelektual leluhur bangsa adalah langkah yang tepat, selain untuk menjaga perawatan naskah secara fisik hal ini juga dapat mempermudah seseorang apabila ada yang hendak mengkajinya. Hal ini terbukti ketika saya mengkaji manuskrip Kitab Randah yang mana naskah dari manuskrip tersebut sudah digitalisasikan dan disimpan di Perpustakaan Nasional Rebuplik Indonesia.
Dalam web Khasanah Pustaka Nusantara (KHASTARA) dengan Catalog ID 708400; BIBID 0010-40555060 dan dengan nomor panggil BR 287, saya menemukan sebuah manuskrip yang berjudul Kitab Randah. Jenis bahan kertas yang digunakan adalah kertas Eropa polos, dengan watermark atau cap kertas yang bertuliskan “GOUVERNEMENTS EIGENDOM” yang terletak pada bagian pertama naskah setelah sampul. Kondisi naskah masih bagus dan masih bisa dibaca, tebal halaman sejumlah 88 halaman; 10 x 21 cm. Manuskrip ini berisi tentang hikayat atau cerita sejarah para Nabi, mulai dari Nabi Adam dan Hawa, Idris, Nuh, Ibrahim, Muhammad dll.
Manuskrip kitab randah ini ditulis oleh Muhammad Muhyiddin, beliau selesai menulisnya pada tanggal 22 shafar tahun 1286 H/3 Juni tahun 1869 M. Dalam segi penulisannya, penulis manuskrip menulisnya menggunakan tulisan arab pegon, diawali dengan muqaddimah mengenai pentingnya membaca sebuah sejarah, apalagi ketika yang dibaca adalah sejarah para wali atau nabi yang pastinya mempunyai fadlilah yang besar, kemudian dilanjutkan dengan cerita nabi Adam dan juga Siti Hawa, mulai dari diturunkannya mereka dari Surga akibat memakan buah Khuldi yang terlarang hingga dipertemukannya mereka dibukit Arafah, seperti yang dituliskan dalam naskah manuskrip tersebut.
“…..Pepanggih jeng babu Hawa di gunung Arafah nuliyo dirangkul babu Hawa nehku Kanjeng Nabi Adam serta pada nerangis sedih kalangkung.”
Yang mana kurang lebih maksudnya adalah, ketika Ibu Hawa bertemu dengan Nabi Adam di gunung Arafah, mereka berdua saling merangkul dan menangis dengan kesedihan yang teramat sedih.
Kemudian yang menjadi ciri khas pada manuskrip kitab randah ini adalah ketika memulai pembahasan atau melanjutkan cerita, pasti diawali dengan kalimat diceritaaken/diceriosaken (diceritakan), walaupun tidak semua seperti itu, namun awalan dengan menggunakan kalimat tersebut sangat mendominasi.
Kelebihan dari manuskrip kitab randah ini adalah memiliki teknik penulisan yang runtut, dan kalau kita menyadari, sang penulis manuskrip menunjukkan kecerdasannya dalam upaya untuk menarik minat pembaca akan pembacaan sejarah, yakni dalam muqaddimah penulis menyuguhkan informasi mengenai fadlilah membaca sejarah yang sangat besar bahkan penulis juga menjelaskan bahwa jika kita berziarah ke makam para Nabi, para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) ataupun para Wali dengan niat yang baik maka kita akan mendapatkan ganjaran yang besar.
Sementara itu, karena kurangnya data yang tersedia atau sebab saya belum menemukan identitas penulis naskah, ini menjadikan saya penasaran dengan sebenarnya siapa penulis naskah yang bernama Muhammad Muhyiddin tersebut dan bagaimana latar belakangnya, apakah ia berasal dari pemuka agama (kyai), atau dari keluarga kekeratonan ataukah selain dari keduanya, kemudian apa motif penulis untuk menuliskan naskah tersebut? Apakah hanya untuk dikonsumsi pribadi? Apakah memang ditulis untuk umat kala itu? Dan apakah manuskrip kitab randah ini ditulis untuk dihadiahkan kepada seseorang layaknya ketika Kyai Sholeh darat menuliskan tafsir Faidlurrahman yang dihadiahkan kepada R.A. Kartini? Ini masih menjadi teka-teki bagi saya pribadi. Namun, terlepas dari hal itu, Manuskrip Kitab Randah ini sudah memberikan warna intelektual kesejarahan cerita para Nabi pada abad 18 silam di Indonesia.
Wallahua’lam.

No responses yet