Seperti tulisan sebelumnya, kalo ngomong adzab kubur, hendaknya kita bicara ruh yang diadzab, jangan selalu dihubungkan dengan keadaan dari mayit tersebut. Akan jadi bahan lelucon kalo kita ngomong adzab kubur yang merupakan hal ghoib kok dihubungin keadaan tubuh si mayit. Padahal gak semua bisa dihubungkan serta merta.

Seperti kasus banyaknya kejadian penemuan mayit utuh, trus kita ngucap “Subhanallah, mayat orang soleh”, itu masih bagus karena husnudzon. Yang bahaya kan akibat meniscayakan bahwa mayit utuh itu pasti tanda kesholehan, lantas langsung berkeyakinan mayit yang hancur itu pasti tanda keburukan. Ini yg gak beres.

Misal kita lihat ada mayit yang udah dikafani, tiba-tiba mencolot muter-muter masuk molen cor-coran. Trus kita mbatin “Wah, ini pasti mayat orang buruk”. Nah, pikiran itulah yang bahaya. Artinya kita udah punya dosa hasud sama orang. Resikonya, pahala kebaikan kita bisa terhapus. Itu akibat kita meniscayakan adzab ruh berefek pada lahiriyah. Padahal belum tentu.

Coba misal kalen yakin seyakin-yakinnya bahwa mayit utuh itu pasti tanda kesholehan. Pasti kalen bakal kaget kalo saya kasih tau, ada lho mayit orang Kristen yang juga utuh. Googling aja. Pasti pikiran kalen akan terguncang-guncang, syukur2 imannya gak runtuh. Kebanyakan lihat sinetron sih.

Kondisi mayat senyum juga gak dimonopoli orang Islam. Orang non muslim juga banyak yang mati senyum.

Banyak juga diceritakan di dalam kitab-kitab, kondisi jenazah orang sholeh yang mengenaskan. Diceritakan jenazah Sayyidina Utsman ditolak warga Madinah, jenazahnya dibanting sana-sini, dilempari dan sempat dimakamkan di pemakaman Yahudi, tapi siapa yg berani bilang Sayyidina Utsman mati kufur?

Ada seorang preman yang mati mengenaskan, ditawur warga lalu jenazahnya di buang di jurang tempat biasa warga membuang sampah hingga membusuk. Tapi kemudian Nabi Musa AS diperintahkan oleh Gusti Allah untuk merawat jenazah preman tersebut. Karena ternyata preman tersebut seorang wali. Kalo udah gitu, kita masih mau bilang kondisi mayat orang sholeh niscaya baik?

Keyakinan bahwa kondisi jenazah orang itu menggambarkan nasibnya di kubur itu sebaiknya di hilangkan karena cuma bikin hati hasud, karena realitanya gak mesti begitu. Andai keyakinannya benar, itu gak bikin nambah keimanan, malah tambah hasud. Apalagi kalo salah.

Iman harusnya bukan berdasarkan lihat keramat, bukan berdasarkan lihat mayit utuh atau keajaiban-keajaiban di luar nalar seputar itu. Karena Gusti Allah tidak disembah gara-gara keramatnya seseorang atau gara2 mayit utuh. Gusti Allah disembah dan ditaati ya karena Dia Tuhan secara realita dan keimanan idealnya berdasarkan ilmu, akal sehat dan amal.

Siksaan atau nikmat kubur itu hakikatnya gak ada yg tau. Yang pasti, ketaatan atau kekufuran itu efeknya bakal diterima ruh, namun gak mesti berefek di lahirnya. Kadang iya, kadang tidak. Jadi kita gak usah berspekulasi. Gak ada untungnya. 

Kita cuma bisa berdoa buat diri kita dan orang yang kita cintai agar selamat hingga akhirat. 

Jadi jangan lagi nyinyir sama mayit yang masuk molen cor-coran,

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *