Hampir saban hari, melalui media sosial utamanya, kita melihat, mendengar satu demi satu para ulama mendahului kita. Dalam dua hari setidaknya dari yang dekat dari penulis, KH. Zaimuddin Badrus, Purwoasri Kediri, yang baru kemarin berpulang. Hari ini, KH. Ahmad Yasin Asymuni Petuk Kediri. Para alim yang jelas kiprah dan kontribusinya telah dikehendaki Allah untuk berpulang ke haribaan-Nya.
Secara lahir kita tidak tahu secara pasti sebab lahiriyah apa yang mengantarkan beliau-beliau, yang jelas para ulama yang sejak beberapa bulan terkajir ini telah wafat telah dikehendaki Allah. Kendati seringkali fakta yang demikian dikait eratkan dengan Covid-19. Secara pasti kita semua tidak tahu menahu. Penyebab lahir para ulama itu wafat meninggalkan kita semua. Pandemi memang tak terpungkiri, namun tidak pasti karena virus ini, para ulama atau kiai wafat. Covid-19 bukan faktor tunggal dalam hal ini, sebab jalan kematian berlainan satu orang dengan yang lainnya, sebagaimana ketentuan garis takdir dari-Nya.
Dengan berpulangnya para ulama, tentu duka mendalam pasti menyelimuti. Sebuah kalimat bijak sering yang diungkapkan, _mautul ‘alim mautul’ alam_ kematian orang alim kematian alam. Langit mauoun bumi pasti bersedih dengan berkurangnya para salihin. Boleh jadi langit menangis bumi pun berduka, kehilangan para penghuni yang mencintai pencipta keduanya yakni Allah Swt.
Disaat-saat kita dihadapkan pada berita duka yang demikian, sudah barang tentu patut kita jadikan pelajaran. Cukuplah kematian sebagai nasehat. Turut berduka boleh saja, namun terus meratapi kematian seseorang tanpa mengambil pelajaran kurang elok rasanya. Kita semua patut terus berupaya memperbaiki diri, paling tidak bersiap jika beliau-beliua siapa lagi kalau bukan kita. Menunggu giliran saja untuk meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Boleh jadi Allah telah mengambil beberapa kekasih-Nya oada bulan-bulan ini, namun tidak pasti seluruhnya. Di bumi ini pasti masih ada kekasih-kasih Allah yang masih hidup, menjadi ‘paku’ bumi ini. Maka itulah kita harus optimis masih ada teladan dan kesempatan dari Allah Swt., melalui oara kekasihnya yang masih hidup. Para ulama yang masih menunggui kita semua.
Demikian semoga kita terus dapat mengambil pelajaran dengan seringnya mendengar, melihat, dan menerima berita kematian. Semoga menjadi nasehat dan cambuk semangat kita untuk terus beramal yang terbaik. Sebagai bekal kehidupan abadi kita nanti.
Wallahu A’lam Bisshawab
Kediri, 11-01-2021.

No responses yet