_”Sedikitkan sesuatu yang membuatmu bahagia dengannya maka sedikit sesuatu yang kamu sedih karenanya”_

Ibnu ‘Ataillah Al-Sakandariy 

Hampir setiap yang dimiliki seseorang pasti ingin dipertahankan. Harta, jabatan, kekayaan, atau benda-benda lain yang sudah diperoleh pasti ingin dipertahankan. Mengapa demikian? Sebab itulah karakter nafsu. Syaikh Ahmad Bin Ajibah Al-Hasaniy, mengatakan, “Nafsu memiliki karakter mencintai pemberian, dan membenci kesirnaan (kehilangan).  Maka itulah hamlir setiap orang mempertahankan apa yang telah ia miliki jangan sampai hilang. Setelah bersusah payah mendapatkan kemudian hilang begitu saja.

Mempertahankan sesuatu yang dimiliki agar tetap sedia kala memang tidak mudah. Sebab, kepemilikan apapun itu pada akhirnya akan berpindah tangan. Sebab itulah, jika hendak tidak mau kehilangan apa yang dimiliki, maka jangan memiliki. Jika takut kehilangan, maka jangan mendapatkan. Sebagaimana kata Syaikh Ibn Athaillah Al-Sakandariy, “Sedikitkan sesuatu yang membuatmu bahagia dengannya maka sedikit sesuatu yang membuatmu sedih karenannya.” 

Kata-kata bijak Ibn Ata’illah di atas, memberikan penegasan bahwa semakin banyak yang kita miliki–harta benda misalnya, maka semakin banyak yang mengikat nafsu atau hati kita larut olehnya. Semakin banyak yang mengikat hati kita, membuat senang hati kita, maka semakin banyak hal-hal yang kelak membuat kita bersedih karena kehilangan. Sebab itulah, pesan Ibn Ata’illah, agar menyedikitkan–berlebihan–apa yang dimiliki, dalam artian tidak melebihi pengertian cukup. 

Di sisi lain inilah bagian dari resep ‘penenang’ bagu orang-orang yang tidak memiliki kecukupan harta dalam hidupnya. Maka kemudian, boleh jadi orang yang tidak memiliki banyak harta benda ia dapat lebih bahagia. Sebab tidak banyak hal-hal yang kelak akan membuatnya sedih atau risau akan kehilangan. 

Kerisauan atau kesedihan itu timbul, tak lain karena sifat nafsu. Mejurut Syekh Ibn Ajibah m, “Nafsu memiliki watak senang jika diberi, dan sedih ketika kehilangan”. Maka pesan beliau agar tetap senang maka jangan berupaya memiliki sesuatu di atas cukup yang kelak akan sedih jika kehilangan sesuatu tersebut.

Sebagai penutup semoga kita semua bijak dalam memiliki. Selagi punya rajin memberi. Selagi memiliki diabadikan di bank keabadian melalui mekanisme transfer sedekah jariyah, infaq, dan santunan misalnya. Dengan jalan itulah yang dimiliki akan abadi. 

Wallahu A’lam Bisshawab 

Kediri, 12-01-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *