Bulan Ramadan tahun 2019 memiliki catatan istimewa kenangan dengan Habib Ja’far Al Kaaf. Sungguh kenangan indah ini menjadi sebuah momentum yang begitu terasa dan terpatri.

Pada suatu sore, Guru Mursyid Maulana Al Habib Umar bin Ahmad Al Muthohar menelpon saya: “Rikza, antum nanti sore kesini sekalian buka puasa”. Sebagai murid, saya menjawab: “Injeh Habib. Insyaallah”. Sembari saya berpamitan hadir agak terlambat. Secara kebetulan ada 3 majelis pengajian yang harus saya hadiri saat itu: pengajian habis Ashar di Masjid At-Taubah LP Kedungpane, jelang buka puasa tausiyah di Kantor Pajak dan malam hari tausiyah Nuzulul Qur’an teman-teman Resimen Mahasiswa di Masjid Al Fitroh Kampus 2 UIN Walisongo.

Istri saya selaku “manajer” dan alarm kegiatan saya sudah mengingatkan hari itu ada 3 jadwal majelis. Otomatis istirahat siang saya lakukan untuk menjaga stamina, agar semua rencana dapat dijalankan dan ikut dawuh Guru untuk buka puasa bersama.

Setelah pengajian di LP Kedungpane saya mampir rumah sejenak untuk mandi dan ganti baju. Selanjutnya menuju Kantor Pajak mengisi tausiyah Buka Puasa bersama anak yatim piatu. Setelah tausiyah dan doa selesai saya segera pamit menuju ke Rumah Habib Umar di Cepoko Gunungpati.

Alhamdulillah… Sampai sana saya ditemui Habib Ali menantu Habib Umar dan saya izin shalat. Selanjutnya diterima di ruang makan ndalem Habib Umar. Saya kaget sekaligus bahagia karena sudah ada Habib Ja’far Al Kaaf di ruang makan untuk buka bersama–yang sejak saya di mobil sudah saya harapkan bisa bertemu. Tentu selama perjalanan saya berkirim Fatihah kepada dua guru mulia agar perjalanan diberikan berkah lancar.

Menu buka puasa disiapkan langsung oleh istri Habib Umar. Satu per satu dipersilahkan mengambil menu makanan yang sangat komplit di meja. Suasana buka puasa sangat gayeng dan asyik sekali. Sesekali canda tawa Habib Umar dan Habib Ja’far dengan joke khasnya membuat seisi ruangan ikut tersenyum dan tertawa.

Maulana Al Habib Umar Muthohar menyampaikan ke Habib Ja’far: “Ini Rikza Bib, dari Kudus ngajar di UIN Walisongo”. Kemudian Habib Ja’far bertanya: “Kudus mana?…”. Saya jawab: “Krandon Habib”. “Ooo ya Krandon cedak Singocandi” jawab beliau. “Yang sungguh-sungguh ngajarnya biar berkah” doa beliau pada saya. “Amin…” spontan saya menjawabnya.

Setelah itu saya dipersilahkan berdiskusi dengan Habib Ali mengenai rencana Disertasi beliau untuk doktoral di Malaysia. Lama kita berdiskusi bersama sembari saya ngangsu kaweruh soal agama Islam.

Di meja makan masih ada Habib Ja’far dan Habib Umar serta dua tamu. Mau pamit pulang saya tidak berani. Kalau tidak pulang, kasihan juga panitia dan jamaah Nuzulul Qur’an yang sudah sedari tadi WA dan telpon.

Bismillah. Saya pelan-pelan matur ke Habib Ali dan disampaikan ke Habib Umar. “Sebentar nunggu doa Habib Ja’far dulu” kata beliau. Saya tetap berdiam dan mendengarkan dawuh-dawuh beliau berdua yang sangat luar biasa (maaf belum bisa saya tulis sekarang dawuhnya).

Ketika kisah-kisah dan dawuh mulia itu selesai, Habib Umar memamitkan saya karena ada Majelis Nuzulul Qur’an. Dan alhamdulilah dapat doa di bulan Ramadan dari Habib Ja’far.

Lega sekali. Plong. Saya pamit dan mencium tangan beliau sembari tetap meminta doa khusus dan diaminkan: “Lancar lancar berkah maqbul”. Keluar dari pintu rumah ndalem, rasanya seperti mimpi. Tapi ini nyata. Saya dilepas dengan senyum dan keluar dari ndalem.

Pikiran saya kemudian beralih ke majelis ketiga, yaitu tausiyah Nuzulul Qur’an.

Jam tangan saya lihat sudah 20.15 WIB dan panitia sudah telpon berkali-kali kalau acara sudah dimulai. Saya jawab singkat: “Sudah siap-siap perjalanaan dari Gunungpati”.

Dalam hati saya, ini saya pasti telat sampai sana sudah terlalu lama jamaah menunggu. Belum lagi jalanan dari lokasi saya ke Kampus 2 itu sangat berkelok-kelok dan gelap. Tapi saya pasrah dan ikut dawuh guru.

Mobil saya starter dan melaju pelan, tapi tidak terasa begitu cepat melaju dan tidak ada rasa takut saya menyetir di tengah suasana gelap dan berkelok-kelok. Ini doa berkah para Habaib yang terasa. Padahal biasanya kalau saya nyetir itu pelan dan takut kalau gelap-gelap sendirian.

Sampai majelis ketiga sangat pas sekali. MC baru saja menutup acara sebelum saya dan langsung mempersilahkan saya mengisi tausiyah.

Hikmah dari kisah ini adalah soal bagaimana kita mengikuti dawuh Guru. Tanpa kita harus beralasan ABC, guru mulia sudah tau soal apa yang ada dalam hati. Dan semuanya telah diatur oleh Allah SWT. Termasuk betapa pentingnya ridlo guru saat kita mau pamit pulang. Karena disitulah berkah dan doanya akan melimpah.

Doa-doa Habib Ja’far Al Kaaf memang sungguh luar biasa, mustajab dan berkah. Semoga kita semua dapat melanjutkan dakwah beliau dalam cinta ilmu, cinta Rasulullah dan cinta negara Republik Indonesia.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *