Perdebatan dua jama’ah baru dengan Paijo berlanjut semakin dalam.
Jama’ah : “Kang kok tega sekali sampeyan menyamakan kami dengan Iblis. Lha kami ini sedang berjuang di jalan Allah menegakkan syariat Islam.”
Paijo : “Sejak awal kalian sudah lebih dari sekali menghakimi kami sebagai ahli neraka. Baru sekali aku menganalogikan perilaku kalian kayak Iblis, kalian langsung tersinggung. Katanya kalian ahli ibadah dan sangat menjaga syari’at Islam? Kok lebih suka mengirim saudaranya ke neraka dari pada ke surga. Kalian kan tahu tekad Iblis setelah dihukum Allah adalah mencari teman sebanyak mungkin dari kalangan manusia untuk masuk neraka. Jadi aku harus bilang apalagi ke kalian. Seandainya ada Yuk Tin beliau bisa menjelaskan dengan lebih sopan.”
Jama’ah : “Jo, kami tidak bermaksud mengajak ke neraka tapi mengingatkan kamu dan jama’ah di sini agar tidak tersesat dari syari’at yang benar.”
Paijo : “Iblis dulu juga bilang pada Adam dan Hawa kira-kira begini; “Hai kalian (manusia) kalau kamu ingin bisa menyembah Allah selamanya (abadi) “makanlah” buah tanaman ini (khuldi) ini. Inilah syari’at yang benar menurut Iblis, yang kemudian dituruti Adam dan Hawa. Godaan “beragama secara berlebihan” inilah yang menjadi alasan Tuhan menghukum manusia dan akhirnya di turunkan ke dunia. Adam dan Hawa tidak lulus ujian tahap awal di Sorga, tapi Allah sudah mengampuni dan menerima tobat keduanya setelah lulus ujian di dunia”
Jama’ah : “Kami tidak pernah diajari seperti itu oleh Murabi kami Jo. Murabi kami itu selalu benar dan tidak mungkin salah. Karena mereka memberi petunjuk dengan Al Qur’an dan Sunnah. Mereka juga bukan ahli bid’ah kayak kamu Jo. Jadi aku masih lebih yakin dengan ajaran kami.”
Paijo : “Ooh jadi Murabi kalian nggak bisa salah, nabi kita saja bisa salah. Itulah kenapa Allah berfirman pada nabi telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Artinya nabi juga berpotensi berbuat salah sebagai hamba Nya. Pantas saja kalian berlagak kayak tuhan, bisa menentukan orang lain masuk sorga dan neraka. Apa Murabi kalian juga punya kunci keduanya? Jangan-jangan kalian sudah diangkat jadi panitia kontes penghuni sorga dan neraka? Aku kuatir kalian sebenarnya sedang menyembah Murabi dan doktrin ajaran kelompok dan organisasi kalian. Kemudian kalian dikader sebagai juru dakwah yang dipaksa taklid dengan Murabi dan ajaran kelompok anda. Jadi anda yang selalu teriak jangan taklid sama kiai dan jangan fanatik sama organisasi, ternyata kalian malah lebih taklid buta lagi. Semakin yakin saya jika kalian sudah mirip perilaku Iblis yang merasa paling benar dan sombong dengan amal dan jasadnya yang dari api itu.”
Jama’ah : “eh..ah..eh…nganu Jo, kami tidak taklid Jo, kami hanya berpegang teguh pada garis perjuangan organisasi. Siapapun yang keluar dari garis berarti berkhianat pada Islam.”
Paijo : “Nah sekarang kalian sudah mengaku, kalian ternyata lebih mencintai organisasi ketimbang Islam. Bahkan kalian menyederhanakan Islam seperti organisasi anda. Jadi yang tidak ikut anda bukan Islam. Sudah jelas syari’at kalian bukan Al Qur’an dan Sunnah nabi, tapi buku pedoman organisasi anda. Inilah bid’ah paling nyata yang anda lakukan.”
Jama’ah : “Eh..oh..eh kok jadi begini? Sebentar Jo..itu kan menurut kamu. Konon Yuk Tin itu bijak dan tidak sama dengan kamu.”
Paijo : “Sejak awal saya bilang saya bukan Yuk Tin, saya Paijo. Kalian harus tahu dan bisa menggunakan akal sehat kalian. Murabi kalian itu bukan nabi apalagi tuhan, jadi bisa saja salah. Sama dengan guru saya, makanya Yuk Tin selalu berpesan pada kami; “Jo manusia itu sudah ditetapkan Allah sebagai Khalifah Nya di dunia yang fana ini. Manusia bisa salah, karena dia adalah mahluk, bukan Tuhan yang Maha sempurna. Sedangkan Iblis juga mahluk Allah yang juga tidak sempurna, meskipun iman Nya pada Allah hampir sempurna. Namun hal itulah yang membuat dia terpeleset dalam ketakaburan. Pun demikian dengan Malaikat, mereka juga mahluk Allah yang pernah berbuat salah. Namun dengan keimanan mereka yang juga hampir sempurna mereka selalu bertaubat dengan bertasbih kepada Allah dalam kepatuhan jasadnya yang dari cahaya. Ketahuilah Jo, manusia itu jasadnya dari tanah yang punya sifat sabar dan tahan penderitaan. Bisikan iblis dan do’a malaikat saling bersaing setiap saat untuk mengarahkan manusia kepada kegelapan dan kebercahayaan.”
Jama’ah : “Lho Jo apa hubungannya dengan kami? Ini soal perjuangan Jo, kita harus terus mengobarkan api perjuangan, untuk menegakkan syari’at Islam sampai titik darah penghabisan. Jangan sampai lemah Jo.”
Paijo : “Aku tahu itu, sekarang coba kalian renungkan bisikan iblis pada Adam bagaimana, mirip apa tidak dengan retorika kalian?”
Jama’ah : “Maaf Jo kami nggak (mau) paham.”
Paijo : “He he he kalian itu kasihan, nabi Muhammad itu pembawa Cahaya bukan pembawa Api. Sedangan kalian dan Murabi kalian adalah pembawa api. Api memang bercahaya tapi panasnya bisa membakar apa saja. Bahkan tak jarang kalau sudah membakar akan memunculkan asap pekad yang membutakan pandangan manusia. Kalian sudah dibakar oleh Murabi kalian dengan api, sehingga pikiran dan hati kalian dipenuhi asap gelap semangat yang berlebihan. Iblis itu diciptakan Allah dari api. Api itu bisa bermanfaat jika bisa dikendalikan, makanya iblis harus terus beribadah untuk mengendalikan jasadnya agar bisa sujud kepada Allah. Tapi sifat dasar api itu tegak (sombong), itulah kenapa ketika tahu manusia yang diciptakan dari tanah akan dijadikan Khalifah Allah, dia tidak terima dan menolak sujud (meskipun sudah beribadah selama 70.000 tahun, iblis gagal menundukkan sifat sombong api). Karena merasa dirinya lebih baik dari segi materi dari manusia, iblis ingkar ata perintah Allah. Itulah kenapa kemudian Allah bersabda akan menghukum Iblis dan iblis secara sadar menerima konsekwensi itu karena imannya. Demikian juga malaikat yang diciptakan dari cahaya, dia merasa lebih tahu sampai harus menjelaskan pengetahuannya tentang manusia di masa yang akan datang (yang akan membuat kerusakan di dunia) di hadapan Allah. Makanya Allah kemudian berfirman kepada Malaikat, Aku lebih tahu (kenal) tentang apa yang kalian tidak ketahui. Ketahuilah Yuk Tin pernah bilang padaku bahwa manusia diciptakan (jasadnya) dari tanah, di tanahlah api bisa berkobar lama merusak dan menimbulkan kegelapan. Tapi di tanah pula cahaya bisa menerangi keindahannya. Kita bukan api dan juga bukan cahaya. Kita adalah tanah, kitalah yang bisa menjaga api dan memanfaatkan cahayanya untuk menerangi kehidupan sebagai Khalifah Nya. #SeriPaijo #Bersambung
Tawangsari 15 Januari 2021

No responses yet