Oleh: Zia Ul Haq
OPRAKAN
Salah satu momen epik bagi kami adalah saat oprakan Mbah Yai Najib. Yakni saat pagi hari lepas subuh beliau inspeksi mendadak ke komplek Madrasah Huffadh. Bisa dibilang aku dan kawan-kawan santri seangkatan adalah generasi terakhir yang menangi oprakan beliau.
Saat oprakan, beliau akan menyusur kamar demi kamar, dari lantai bawah sampai ke atas. Mengoprak-oprak santri yang masih mbangkong, atau malas-malasan di kamar, untuk segera turun ke aula, ngaji.
Biasanya saat oprakan beliau bawa bilah kayu. Dengan kayu itu beliau memukul-mukul pintu kamar atau tembok. Dengar suara pukulan itu saja santri sudah panik, berhamburan, dan langsung meluncur turun.
Sampai-sampai ada anekdot di antara santri nakal, “Kita itu nggak mempan denger Nama Tuhan (dalam adzan subuh), tapi bisa langsung bangun saat dengar Pak Yai datang.”
Santri yang baru bangun, belum siap, jelas gelagapan. Ada yang langsung gelar sajadah, akting shalat subuh. Ada pula yang langsung menyerbu jeding (kamar mandi). Ngapain kok ke jeding? Ya ngumpet!
Satu ruangan jeding sempit itu bakal dipenuhi 5-7 orang. Santri-santri bengal itu akan saling pandang, deg deg pyar, sambil menahan cekikikan yang jelas bikin kaku perut.
Duh Mbah Yai, semoga panjenengan sudah memaafkan kenakalan kami.
Pernah dalam suatu oprakan, aku pas lagi sakit. Beberapa hari demam dan pagi itu belum juga pulih. Aku tiduran di pojok kamar, beralas selimut berkemul sarung. Sendirian, sebab teman-teman sudah berhamburan keluar kamar.
Saat itulah Mbah Yai masuk kamar. Mendekatiku, kemudian menendang ringan kakiku.
“Kang, bangun, Kang!”
“Nggih, Yai,” jawabku lirih sambil bangun dengan sangat lemah.
“Oh, sakit ya, Kang?” tanya Mbah Yai.
“Nggih, Yai.”
“Sakit ya sakit, tapi ya tetep shalat,” ujar beliau sambil berlalu meninggalkanku.
Beberapa hari kemudian, sakitku tak jua mereda. Aku sowan Mbah Yai, pamit pulang karena mau opnam.
“Lhoh,” cegat Mbah Yai, “Kemarin itu sakit beneran to, Kang?”
Aku cuma prengas-prenges menunduk.
“Wah, maafkan ya, Kang,” kata beliau sambil tertawa kecil.
Ya begitulah, selain oprakan pagi, dulu Mbah Yai memang kerap sambang kamar-kamar santri. Pernah beliau masuk di satu kamar. Di pintu bagian dalam kamar ada poster besar. Bergambar potret wajah pria gondrong brewokan.
Kepada santri yang berada di situ Mbah Yai bertanya, “Gambar siapa ini, Kang?”
Santri diam menunduk.
“Gus Maksum ya?”
Santri yang ditanya hanya diam mengangguk. Sambil cengengas-cengenges malu. Padahal gambar sosok di poster yang dimaksud adalah Bob Marley.
Pernah pula beliau sambang kamar di lantai dua, sementara di situ ada santri lagi dikerjai jin. Dia kelojotan laiknya orang kesurupan. Begitu Mbah Yai datang, si santri kesurupan itu membentak, “Siapa kamu!”
“Saya Najib,” sahut Mbah Yai santai.
Mendengar jawaban itu, Si jin langsung ngacir. Padahal belum diapa-apain. Oalah, ternyata tak cuma santri yang ngibrit dengar Mbah Yai datang, para jin juga takut oprakan.
__
Lahul Fatihah.
Kalibening, 17-1-2021

No responses yet