Categories:

Oleh : Gus Ahmad Gholban Aunirrahman Jember

Tokoh satu ini telah banyak sekian penulis yang mengupas. Adapun tulisan ini hanyalah sebagai kenangan kami dari cerita almarhum ayahanda ketika almarhum berguru dengan KH Mahrus Ali. Almarhum ayahanda memang menimba ilmu di Krapyak KH Ali Maksum, tapi almarhum juga sering kali menuntut ilmu kepada KH Mahrus Ali walau tidak menimba ilmu secara resmi dengan ‘mondok’ di Lirboyo.

Pertama; Kiai Rendah Hati.

Dalam satu waktu, almarhum ayahanda ketika sudah berkeluarga mendapat undangan pengajian di daerah probolinggo. Ketika sampai di tempat, alangkah terkejutnya ayahanda ternyata di sana ada KH Mahrus Ali yang juga menghadiri pengajian. Pasalnya, dalam pengajian itu pembicara yang terjadwal hanya ayahanda. Maka, dengan penuh ketegasan, ayahanda tidak ingin untuk berceramah di depan KH Mahrus Ali dan memohon supaya KH Mahrus Ali saja yang berceramah. Namun, tidak kalah tegasnya juga KH Mahrus Ali bersikukuh tidak ingin berceramah dan hanya ingin menghadiri pengajian dan memaksa supaya ayahanda yang memberi ceramah. Akhirnya, ayahanda merasa, mungkin, permintaan KH Mahrus Ali kepada ayahanda sebagai perhatian guru kepada murid ketika sudah terjun ke masyarakat. Maka, ayahanda pun mematuhi perintah tersebut sambil berucap dan  memohon “kiai, saya mau berceramah, tapi tolong saya diberi ijazah kiai”. Maka, kiai mahrus pun memberi ijazah sholawat tertentu.

Kedua; Kiai Istimewa.

Pada tahun 1982, ketika pemilu orde baru, saat itu ketua PPP adalah KH Jauhari zawawi kencong dan ayahanda sebagai sekretaris PPP  sekaligus ketua pemenangan pemilu PPP di Jember. Dalam sejarah pemilu, pada tahun 1982 saja PPP memenangkan pemilu dan mengalahkan Golkar yang didukung oleh suharto dan Militer saat itu. Mengetahui suara PPP yang banyak maka dicari segala alasan untuk memenjarakan ayahanda. Dan tanpa sidang di pengadilan, tanpa didampingi pengacara, ayahanda langsung ditangkap oleh tentara dan dimasukkan ke penjara Militer. Masih jelas cerita dari ibu kami ketika ibu sedang mengandung saya, ibu harus bersembunyi di bawah tempat tidur atas perintah ayah untuk menghindari penangkapan oleh tentara saat itu ketika beberapa tentara  masuk ke rumah dan menangkap ayah saat itu. Maka, ketika di penjara, sebagaimana cerita almarhum ayah pada kami, ayahanda melaksanakan sholat lalu membaca ijazah sholawat dari KH Mahrus Ali. Maka, menariknya, tepat setelah selesai pembacaan ijazah sholawat tersebut, ada telpon dari Militer Pusat di Jakarta yang memerintahkan supaya ayahanda dibebaskan dan dikeluarkan. Cerita ini beberapa kali ayahanda sampaikan kepada kami seakan akan ingin menyampaikan bahwa betapa istimewanya KH Mahrus Ali. 

Ketiga; Kiai dengan kekhasan tersendiri.

Ketika ayahanda hendak menikah, maka sebelum memutuskan iya, ayahanda bertanya kepada kiai Ali Mahrus tentang calon istri ayahanda. Menariknya, kiai Mahrus bertanya siapa nama calon istri, lalu Kiai Mahrus pun menghitung berdasarkan nama calon istri ayah. Maka, setelah selesai dihitung kiai Mahrus pun berucap “baik, teruskan “. Tapi kiai mahrus meminta supaya ayahanda melepaskan peci hitam yang ayahanda pakai saat itu lalu mengganti dengan peci putih. Cerita ini ayahanda sampaikan ketika kami hendak melaksanakan akad nikah yang saat itu kami bingung hendak memakai peci putih atau peci hitam.

Untuk KH Mahrus Ali

Al Fatihah

ahmad gholban aunirrahman

Jember

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *