_”Bukan kekasih sejati, yakni yang masih mengharapkan pada kekasihnya sebuah balasan, dan untuk memperoleh suatu tujuan yang diinginkan”_

Ibn Athaillah Al-Sakandariy

Cinta dan kasih merupakan fitrah manusia. Hampir setiap manusia memiliki rasa cinta. Pun juga ia siap mencintai dan dicintai. Siap menjadi kekasih dan yang dikasihi. 

Secara umum perasaan sebagai pecinta dan yang dicintai bukan hanya manusia tentang, makhluk lain pun demikian. Bisa menjadi pecinta dan yang di cintai. Binatang misalnya, ia bisa menjadi pecinta dan yang dicintai. 

Membincang tentang cinta dan kasih, tidak terlepas dari hakikat pecinta sejati atau kekasih sejati. Pasti tidak sedikit orang yang bertanya tentang hal ini. Siapa sesungguhnya pecinta atau kekasih sejati itu? Dalam sebuah ungkapana indah, Ibn Athaillah Al-Sakandariy, manyatakan, “Bukanlah kekasih sejati yang masih mengharapkan balasan–imbalan–dari kekasihnya dan untuk memperoleh suatu tujuan darinya.”

Ungkapan indah  dari Ibn Athaillah, di atas tegas memberi pencerahan tentang hakikat pecinta atau kekasih sejati. Pecinta sejati pasti murni  mengasihi tanpa berharap suatu balasan atau imbalan. Ia mencintai tulus tanpa melibatkan kata karena. Kekasih sejati juga tidak mencari sesuatu tujuan dari yang ia kasihi. 

Mengapa pecinta sejati memiliki karakter demikian? Sebab cinta tidak dapat diurai dengan huruf dan terhenti oleh batas. Ibn Ajibah mengatakan, “Barang siapa mencintai seseorang untuk suatu pemberian, atau menolak suatu bahaya sesungguhnya ia tidak mencintai orang tadi melainkan mencintai nafsunya sendiri.” Pecinta sejati tidak demikian? Ia mencintai bukan suatu tujuan yang diinginkan oleh nafsunya. Ia mengasihi tanpa ada kepentingan dari nafsunya.

Di sisi lain pecinta sejati tidak akan berpaling pada selain yang ia cintai. Suatu misal, jika suami benar-benar mencintai istrinya maka ia tidak akan menoleh dan berpaling pada yang lain. Jika ia seorang hamba yang mencintai Allah maka tidak ada kecintaan lain selain kepada-Nya. 

Dari uraian di atas sudahkan kita tergolong pecinta sejati? Sudahkan kita menihilkan nafsu kita dan harapan-harapan pada kekasih kita? Sudahkah kita mencintai tanpa untuk tercapainya suatu harapan dan tujuan? 

Demikianlah sekilas uraian hakikat kekasih atau pecinta sejati. Semoga kita mampu menjadi pecinta sejati. Sehingga pada puncaknya kita hanya mencintai zat yang abadi. Yakni Allah Swt. 

Wallahu A’lam Bisshawab 

Kediri, 19-01-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *