Seperti yang kita ketahui, ruh kita adalah diri kita yang sebenarnya. Dari zaman alam mitsaq, alam janin, alam dunia, alam kubur, alam kiamat hingga alam akhirat, ruh kita sama wujudnya, gak berubah. Jadi, kita itu hakikatnya abadi hingga di akhirat, yang hancur cuma badan kita.

Sehingga kematian hakikatnya adalah pindah alam saja. Sedangkan kita pernah mengalami pindah alam, jadi gak usah takut mati. Semua pun berdasarkan sunnatullah. Hanya proses alamiah dan natural. Jadi gak ada alasan buat kita untuk kaget lalu berpikir menghindari kematian. Sehingga sikap kita menghadapi kematian, harusnya ya biasa saja.

Hanya saja, saat ruh manusia berada di alam dunia, mulai berubah keadaannya. Di dunia, manusia belajar, memahami sesuatu, merasakan enak tidaknya sesuatu, cinta atau benci sesuatu dan itu semua merasuk hingga ke batin kita. Sehingga semua pengetahuan, perasaan batin, syahwat kita, kecintaan kita dan semua yang tersembunyi dalam batin kita itu, melekat pada ruh kita dan jadi karakter ruh kita.

Analoginya, saat kita bayi, kita seperti kertas putih. Saat kita mati, kertas itu penuh coretan dan catatan hidup lahir batin kita. Itulah nanti yang kita bawa mati dan terus melekat di dalam ruh hingga dipertanggung jawabkan di hadapan Gusti Allah.

Jadi, orang nantinya akan diberi nikmat dan siksa di alam kubur hingga di akhirat sesuai dengan apa yg dibawa oleh ruh orang tersebut. Semua yg dicintai ruh itu, baik cinta pada kebaikan atau keburukan, akan disingkap secara vulgar. Jika ruh itu banyak mencintai kebaikan akhirat sehingga saat mati, ruh itu kaya dengan nur kebaikan, orang tersebut selamat. Sebaliknya, jika ruh itu kebanyakan mencintai dunia, ruh itu membawa bara api neraka yang nantinya di alam kubur hingga akhirat, akan membakar ruh itu sendiri.

Makanya, kalo kita mau selamat dunia akhirat, rasio kebaikan kita harus lebih banyak daripada keburukan, baik secara lahir atau batin. Caranya, dengan cinta kebaikan, cinta orang baik dan komitmen untuk selalu melakukan kebaikan. 

Di dunia ini, kita usahakan mau beramal baik sebanyak mungkin. Kalo gak bisa, semampunya. Kalo belum diberi kesempatan buat melakukan satu amal baik, harus punya cita-cita untuk ke sana. Perlu juga untuk mencintai pelaku kebaikan agar kita terinspirasi untuk berbuat baik juga. Semalas apapun, usahakan semampunya kita paksa diri kita untuk menuju kebaikan. Pokoknya, kita kudu ngeyel untuk punya rasa cinta pada kebaikan, entah diberi kesempatan melakukannya atau tidak. 

Karena apa yang kita cintai dan dimana kita meletakkan cinta, itu yg bakal jadi karakter kita. Kita pun disiksa atau diberi nikmat sesuai kecintaan kita tersebut. Dan kita akan dikumpulkan bersama dengan apa yg kita cintai.

Jadi, inti dari ingat kematian adalah menghiasi ruh kita dengan kecintaan pada kebaikan sebanyak-banyaknya. Kecintaan itu kita bangun lewat ilmu, niat dan amal yang baik, juga dengan mau mencintai para pelaku kebaikan.

Misal kita punya cita-cita pingin mondok dan menuntut ilmu agama, ya harus kita jaga cita-cita itu. Kita rawat cita-cita itu lewat doa, kerja buat cari biayanya, suka denger pitutur Kyai, cinta Kyai, suka kumpul2 sama santri, dan lain2. Entah ntar kesampaian atau gak, pokoknya jangan sampai hilang cita-cita tersebut hingga mati. 

Karena cinta itulah yang akan jadi karakter ruh kita. Nantinya, cinta kita pada kebaikan itu akan dibuktikan dan ditampakkan pada kita di alam kubur. Tentu saja yang dimaksud kebaikan adalah yang baik menurut Gusti Allah, satu-satunya Sang Pemilik semua alam, dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Sang Utusan.

Gak heran, Ibnu Malik dalam Alfiyah Bab Mubtada’ Nakiroh dawuh

ورغبة في الخير خير وعمل # بر يزين…

“Punya cinta pada kebaikan itu kebaikan itu sendiri, sehingga amal kebaikan itu akan menjadi penghias ruhnya”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *