Semua orang memiliki keinginan, harapan, mimpi dan cita-cita.  Semua orang pun ingin keinginan dan harapannya terwujud. Bersamaan itu pula segala upaya dilakukan untuk mewujudkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. 

Di antara upaya yang dilakukan ada dua. Yakni upaya lahir dan upaya batin. Sekuat tenaga melakukan ikhtiyar–usaha keras, dan seyakin mungkin menegadahkan tangan untuk berdoa. Baik upaya lahir maupun batin sama-sama dilakukan demi terwujudnya mimpi, keinginan dan harapan.

Antara ikhtiyar dan doa harus berimbang. Tidak terpaku lada ikhtiyar menafikan doa, maupun doa saja tanpa ikhtiyar. Keduanya perlu adanya keseimbangan untuk memperoleh hasil maksimal. Dalam ikhtiyar ada doa. Dalam doa ada ikhtiyar. 

Kendati tidak semua usaha, harapan dan keinginan dapat terwujud. Namun, tidak boleh ada rumus putus asa. Baik putus asa dalam ikhtiyar, lebih-lebih putus asa dalam berdoa. Putus asa karena belum dikabulkannya suatu permintaan yang dibarengi dengan semangat berdoa itu kurang baik menurut Ibn Athaillah Al-Sakandariy. 

Di samping itu, antara terwujud dan tidaknya suatu doa yang terus dipanjatkan kepada Allah terserah Ia. Sesuai yang Ia pilihkan yang terbaik untuk para pendoa. Ibn Athaillah Al-Sakandariy mengatakan, “Allah memastikan pengabulan atas apa yang ia telah pilihkan untukmu, bukan apa yang kau pilih untuk nafsumu.”

Dari sinilah kemudian pantang kita putus asa dalam doa. Ditambah dengan keyakinan apa yang dipilihkan oleh Allah, meski tidak sesuai dengan yang diinginkan adalah pilihan terbaik. Setidaknya disertai dengan belajar berprasangka baik pada Allah Swt.

Demikianlah, sedikit tentang tidak baiknya putus asa. Baik putus asa dalam usaha lahir maupun putus asa dalam usaha batin. 

Wallahu A’lam Bisshawab. 

Kediri, 20-01-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *