selesai sudah pembahasan, dari Ushul pertama hingga ke-40 di wall saya, semua bab dalam kitab Arbain Fi Ushuliddin karya Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Al Ghozali, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad At Thussy (450 – 505 H). Dan saya lihat di activity log, kitab ini mulai saya bahas tanggal 28 Juni 2019 dan selesai dibahas Bab terakhirnya tanggal 20 Januari 2021. Artinya saya udah mbahas Arbain Fi Ushuliddin sekitar 1,7 tahun. 

Saya memilih membahas kitab ini karena bagi saya, kitab ini berisi ilmu dasar beragama yang lengkap dan penting untuk diketahui masyarakat. Berisi ilmu yang menerangkan ahwal dzohir dan ahwal batin dalam beragama. Dengan pembahasan singkat tapi to the point. Sehingga gampang diambil inti sarinya. Dan yang pasti, sesuai judul kitab, Arbain Fi Ushuliddin ini berisi inti dari agama dan perjalanan kehidupan. Tentang bagaimana seharusnya orang Islam beragama dan bagaimana kita harus memandang hidup. Dan ini tentu sangat penting untuk diketahui.

Walau dengan bahasa khas Ihya’ Ulumiddin yang sedikit njlimet, tapi kalo udah pernah ngaji Ihya’ pasti langsung paham karena memang kitab ini seakan meringkas kitab Ihya’. Kalaupun belum pernah ngaji Ihya’, kitab ini bisa jadi semacam pembuka sebelum beranjak ke kitab Ihya’. Kalo di kitab Ihya’ kita akan diajak melihat satu masalah secara keseluruhan aspeknya, lalu kita diajak berpikir secara metodologis khas Imam Ghozali dengan ilmu ushuli dan mantiqi dengan cabang-cabangnya, hingga akhirnya jadi kesimpulan-kesimpulan jawaban. Sedangkan di Arbain Fi Ushuliddin kita akan menerima masalah, lalu diulas singkat dan langsung kesimpulan. Kalo kita mau melihat penjelasan panjangnya, kita harus buka Ihya’. Dan di Arbain Fi Ushuliddin pun, Imam Ghozali selalu menyarankan untuk merujuk kitab Ihya’ untuk melihat argumen-argumen beliau secara lengkap.

Walau sederhana, tapi ini kitab yang sangat kuat argumentasinya dalam membedah masalah. Kitab ini sangat saya rekomendasikan untuk dikaji secara luas kepada para santri, baik santri kutab maupun santri suluk. Karena di kitab ini, semua penjelasan tentang ketasawufan menjadi masuk akal dan tetap moderat. Arbain Fi Ushuliddin mengajak pembacanya untuk selalu berpikir secara sehat dan melihat satu masalah secara proporsional, bahkan saat melihat fenomena di luar adat.

Selain itu, saya sendiri merasakan keramatnya Imam Ghozali melalui kitab Arbain Fi Ushuliddin ini. Saat sedang membahas satu bab, apa yang sedang dibahas itu terjadi di dunia nyata dan jadi viral di dunia maya. Gak cuma satu bab, semua bab Alhamdulillah dikasih contoh oleh Gusti Allah di dunia nyata atau maya. Hal ini membuat saya lebih cepat memahami keterangan Imam Ghozali dalam kitab ini dan saya pun bisa menganalogikan keterangan Imam Ghozali tersebut sehingga mudah dipahami orang awam.

Kemudian, saat saya kebingungan membahas satu pasal di kitab ini, Gusti Allah mendatangkan orang-orang yang seakan-akan menerangkan kebingungan saya. Tanpa saya minta, orang-orang ini menceritakan pengalaman-pengalaman hidup mereka yang alhamdulillah cocok dengan bab yang sedang saya bahas. Atau kadang saya sendiri ditakdirkan mengalami hal yang sedang dibahas tersebut. Dengan begitu, alhamdulillah saya jadi lebih paham dengan keterangan2 yang ditulis Imam Ghozali dalam Arbain Fi Ushuliddin ini.

Yang lebih penting lagi, Arbain Fi Ushuliddin ini mampu merubah mindset saya sendiri. Bahwa hidup harusnya lebih los, gak usah eman dengan dunia, gak usah putus asa dan lebih menggenjot semangat. Ya, kitab ini adalah sumber semangat saya saat saya bingung dan kurang semangat dalam beramal. Maka tujuan saya mbahas kitab ini di FB, untuk mengikat ilmu yang saya peroleh dari kitab Arbain Fi Ushuliddin dan mengalap berkah Imam Ghozali. Saya pun gak pernah ngurus ada yg membaca tulisan pembahasan saya atau gak, yang jelas saya nulis karena saya butuh mengalap barokah. Dan rencana, insya Allah kitab ini bakal jadi rutinan tetap wall FB saya.

Ini semua gak lepas dari pertolongan Gusti Allah lewat barokahnya ilmu Imam Ghozali. Bagi saya pribadi, ini semua pengalaman spiritual yg sangat bernilai harganya. Saya jadi makin mengagumi Imam Ghozali, kok bisa ada orang yg hidup 1000 tahun yg lalu, bisa menjabarkan masalah2 masyarakat kekininan? Ini jadi bukti kewalian beliau, pemikiran beliau terus relevan hingga kini.

Maka layak kita bertawasul kepada Imam Abu Hamid Al Ghozali karena maqom beliau yg agung di sisi Gusti Allah dan Rosul-Nya. Kita mendoakan beliau, semoga ilmu beliau terus bermanfaat abadi sepanjang zaman, baik di dunia timur hingga di dunia barat. Dan kita berharap, kita semua bisa ditakdirkan mencicipi walau setetes barokah lautan ilmu Imam Al Ghozali, di dunia hingga akhirat. Aamiin.

Ilaa hadhroti Rosulillah Sayyidina Muhammad SAW, wa aalihi wa ashhabihi ajma’iin, khushushon ilaa ruuhi Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali At Thusy. Lahumul Faatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *